Antara Sipil dan Tentara

Budiarto Shambazy

Mungkin karena usia republik masih termasuk singkat, sebagian dari
kita tanpa sadar cukup lama dibelenggu oleh kultur militer. Masih
banyak dari kita yang mempunyai satu atau dua generasi di atas yang
secara langsung atau tidak terlibat dalam perjuangan kemerdekaan.

Perang gerilya melawan penjajahan yang dilancarkan oleh Panglima Besar
Jenderal Sudirman yang sakit cukup keras di dalam panggulan tandu amat
legendaris. Di banyak kota terdapat jalan-jalan besar yang diambil
dari nama jenderal-jenderal terkenal, seperti Jenderal Sudirman,
Jenderal A Yani, dan Jenderal Suprapto.

Mereka yang masih remaja di tahun 1960-an atau 1970-an pasti kenal
dengan dua lagu terkenal Ismail Marzuki, Selendang Sutra dan Sepasang
Mata Bola. Entah mengapa, dua lagu klasik ini selalu berkonotasi
dengan perjalanan pejuang ke medan laga meninggalkan kekasih atau
anggota keluarganya.

Ada sebuah film yang berkali-kali diputar di TVRI yang berjudul
Pedjuang yang antara lain dibintangi oleh dua Bambang, yakni Bambang
Irawan dan Bambang Hermanto. Rasanya bangga bolak-balik menyaksikan
film yang menceritakan kepahlawanan para pejuang kita mempertahankan
kemerdekaan di Yogyakarta tahun 1940-an.

Dan sudah sejak periode kemerdekaan itulah tentara kita sebenarnya
sering kecewa terhadap sebuah ideologi demokrasi, yakni supremasi
sipil. Mereka sejak awal telah memiliki anggapan bahwa kaum sipil
senantiasa dirundung konflik ideologis yang tak pernah habis pada saat
mereka menghunus senjata.

Juga telah terbukti berkali-kali bahwa TNI merupakan tulang punggung
terkuat yang menjaga keutuhan nasionalisme ala Indonesia. Bagi
sebagian orang, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mungkin
merupakan sebuah konsep nan gombal, tetapi dalam kenyataannya kita
memang sering menghadapi gejala yang sama seperti yang dihadapi Uni
Soviet dulu.

Terlepas dari pro dan kontra dalam soal penafsiran sejarah, TNI
menjadi aktor terpenting ketika G30S pecah tahun 1965. Rakyat tak
begitu mempersoalkan "politik tentara" yang menempatkan stabilitas
politik di atas segala-galanya sampai Presiden Soeharto mencalonkan
diri lagi menjadi presiden setelah Pemilu 1971.

Penerapan Dwifungsi ABRI setelah itu yang jelas kebablasan. Dan maaf,
Angkatan Darat (AD) yang berperan besar dalam menjalankan
"multifungsi" yang sering merugikan sendi-sendi kehidupan bangsa dan
negara.

Namun, bukankah itu hanya tinggal sejarah belaka? Banyak orang yang
kini kecewa kepada demokrasi sekaligus mendambakan kestabilan dan,
hence, Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden tahun 2004.

Sampai sekarang pergantian jabatan Panglima TNI selalu menarik
perhatian dari berbagai kalangan masyarakat. Sejarah perjuangan
bangsa, peranan dalam sejarah, serta dominasinya selama era
pemerintahan Orde Baru membuat mata kita menyorot ingin tahu setiap
kali ada tour of duty di kalangan perwira tinggi TNI.

Jika semuanya berjalan sesuai dengan rencana, jabatan tertinggi pada
lembaga TNI itu akan ditempati oleh perwira tinggi dari Angkatan
Udara, yakni Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Djoko
Suyanto. Ini preseden baru karena belum pernah ada "orang AU" yang
menduduki jabatan puncak itu.

Seumur-umur sejak merdeka, pos Panglima TNI itu "dimonopoli" AD.
Adalah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang untuk pertama kalinya
menunjuk orang yang bukan dari kalangan AD sebagai Panglima TNI, yakni
Laksamana Widodo AS yang berasal dari Angkatan Laut (AL) pada November
1999.

Presiden Yudhoyono meniru langkah Gus Dur. Reaksi masyarakat pada
umumnya mengatakan tidak apa-apa jabatan Panglima TNI diduduki oleh
orang yang "bukan AD".

Bahwa ada tentangan terhadap pencalonan Djoko Suyanto dari beberapa
kalangan di DPR, itu hal yang lumrah. Riak gelombang di lembaga
legislatif itu tidak akan menimbulkan ombak politik raksasa.

Demokrasi membuka ruang bagi siapa pun untuk saling memperlihatkan
otot leher. Dan jujur saja, rakyat kebanyakan sudah lelah menyaksikan
aneka ragam sirkus politik oleh para politisi, tak mempunyai waktu
merepoti siapa yang menjadi Panglima TNI.

Lebih penting untuk diamati, ternyata dalam era demokrasi sekarang ini
TNI secara relatif lebih siap ketimbang sipil. Masih segar dalam
ingatan bagaimana TNI berada dalam posisi disudutkan tak lama setelah
mundurnya Presiden Soeharto bulan Mei 1998.

Eforia demokrasi kala itu menyadarkan TNI untuk mengintroduksi apa
yang disebut program "Tiga Re" (redefinisi, reposisi, dan
reaktualisasi) tahun 1999. Dikenal pula istilah "Paradigma Baru" yang
pada intinya merupakan itikad untuk memperbaiki diri.

Singkatan ABRI diubah menjadi TNI. Polri pun "ditarik keluar" dari
jajaran angkatan bersenjata. Supremasi sipil atas militer ditegakkan
kembali, jatah kursi TNI di DPR ditiadakan, dan "cabang-cabang
politik" seperti Bakorstanas dihapuskan.

Pendek kata, pada periode pascareformasi tersebut tentara benar-benar
kembali masuk ke barak. Terdapat anggapan semua masalah politik,
sosial, dan keamanan akan segera dibereskan oleh kepemimpinan sipil.

Sekarang lihatlah kinerja kaum sipil kita. Partai-partai politik belum
profesional, terlibat konflik internal, dan tak pernah menyapa para
pemilihnya.

Tak sedikit pula lembaga demokrasi yang dilanda kasus-kasus korupsi,
termasuk Komisi Pemilihan Umum. Dan tidak kalah banyaknya juga
pemimpin sipil di berbagai daerah yang tega mengerahkan massa untuk
dibentrokkan satu sama lain.

Institusi militer pada TNI telah mengenal rotasi kepemimpinan
panglimanya. Sebaliknya, institusi-institusi sipil nyaris tak
memberikan apa-apa bagi kita.

Jangan marah ya? Penyanyi top Amerika Serikat, Paul Simon, mengatakan,
"I am a writer, not a fighter".

Saya cuma tukang nulis, bukan tentara.





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke