Ini Persoalan Definisi Seksualitas Ninuk Mardiana Pambudy & Dahono Fitrianto
Sepanjang sejarah manusia selalu terjadi tarik ulur mengenai seksualitas karena padanya melekat identitas seseorang. Namun, belum pernah dalam sejarah manusia seksualitas dibicarakan terbuka dan wacananya tidak lagi hanya didominasi heteroseksualitas. Di Tanah Air, televisi sudah banyak menyoroti kehidupan homoseksualitas dan muncul individu-individu yang berterus terang kepada publik menyatakan identitas seksualitas mereka. Kemunculan mereka bukannya datang tiba-tiba. Dosen Pascasarjana Filsafat Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Haryatmoko, melihat globalisasi dan demokratisasi membuat orang mudah melihat di tempat lain ada yang menyatakan identitas secara terbuka dan diterima. Masyarakat hiperkonsumtif saat ini yang mengutamakan kebahagiaan individu daripada kelompok atau komunitas juga mendorong keterbukaan itu. Selain itu, berlaku logika mode yang memesona berbagai bidang seperti disebutkan Lipovetsky, yaitu semua yang baru selalu menarik, dengan mode orang mengafirmasi diri, dan dengan mode orang membedakan diri dari kerumunan. "Mungkin memang ada orang-orang yang merasa berbeda dari kerumunan dan tidak takut menyatakan berbeda," kata Haryatmoko. Ratna Batara Munti yang menulis tesis S-2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI tentang wacana seksualitas di Indonesia dari sisi sosiologis juga mengatakan, selain teknologi informasi yang memungkinkan orang berkomunikasi terbuka, juga ada gaya hidup yang membuat orang tidak khawatir mengidentifi dirinya pada kelompok gay atau lesbian," papar Ratna, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan, di Jakarta. Faktor lain, kebebasan berekspresi melalui media massa dalam bentuk pemberitaan atau dalam bentuk hiburan, seperti film, musik, dan televisi. Menurut peneliti dari Pusat Gender dan Seksualitas UI, Irwan Martua Hidayana dan Ida Ruwaida Noor, media ikut mendorong seks yang sebelumnya tabu dibicarakan kini menjadi biasa dibicarakan atau diperlihatkan. "Seksualitas menjadi sesuatu yang lebih publik," kata Ida seraya menyebut contoh, antara lain, film Arisan dan Detik Terakhir. Penelitian kualitatif Irwan tahun 2002 untuk memetakan kehidupan waria, gay, dan laki-laki pekerja seks menemukan adanya laki-laki pekerja seks yang melayani laki-laki di panti pijat secara merata hampir di seluruh Jakarta. "Hal itu menunjukkan adanya kebutuhan yang lalu menjadi peluang bisnis," kata Irwan seraya menambahkan, hal itu sekarang dilakukan lebih terang-terangan. "Iklan baris di koran-koran banyak yang terang-terangan menawarkan jasa seperti itu." Ketegangan relasi Meskipun ada semakin banyak orang yang terbuka mengungkapkan pilihan seksualitasnya yang nonheteroseksual, tetapi di dalam kehidupan sehari-hari ketegangan relasi dengan orang- orang di sekitar selalu terjadi, bahkan tidak jarang disertai kekerasan. Ratna yang melakukan penelitian untuk Kartini Network, jaringan antara akademisi Asia dan gerakan di akar rumput, menemukan ada perempuan responden yang menyakiti dirinya karena dipaksa menikah dengan laki-laki walaupun dia merasa tidak dapat menerima laki-laki. Ada juga perempuan yang dipaksa atasannya di tempat kerja untuk bertingkah laku lebih feminin. "Wacana heteroseksual yang dominan di masyarakat menyebabkan mereka dengan preferensi seksual berbeda merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Mereka diabaikan, bahkan mendapat kekerasan karena dianggap berbeda," kata Ratna. Stigma terhadap mereka yang berbeda, liyan, ini amat banyak, antara lain sebagai penyebar penyakit. Stigma yang disebarkan melalui media massa ini menyebabkan mereka terus-menerus berada dalam situasi kontradiktif. Mereka tidak dapat mengekspresikan dirinya dan, menurut Ratna, itu adalah contoh dehumanisme. Padahal, perkembangan gaya hidup juga memperlihatkan preferensi seksual bukan lagi semata-mata persoalan biologis, tetapi pilihan identitas seksual apa yang akan diadopsi seseorang. "Seksualitas bukan lagi persoalan biologis, tetapi faktor sosial karena seksualitas adalah konstruksi sosial," papar Ratna. Menurut Irwan, sejak tahun 1974 homoseksualitas sudah dikeluarkan dari daftar gangguan mental dalam Digital and Statistical Manual of Mental Disorder, yaitu buku panduan untuk menganalisis gangguan mental yang dibuat American Psychiatric Association. Analisis lain tentang seksualitas, misalnya yang bertitik tolak dari pemikiran Michel Foucault, menjelaskan juga mengapa ada stigma dan kekerasan. Menurut Haryatmoko, gagasan Foucault tentang seksualitas berangkat dari hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan karena bahasa menjadi alat mengartikulasi kekuasaan ketika kekuasaan mengambil bentuk pengetahuan. Pengetahuan menjadi cara bagaimana kekuasaan memaksakan diri kepada orang tanpa memberi kesan argumen obyektivitas atau ukuran normal dipaksakan sebagai ilmiah atau yang berlaku. Orang biasanya tidak menyadari di balik itu ada kesewenang-wenangan. Artinya, budaya yang diterima adalah yang dominan atau budaya pemenang. Dalam hal seksualitas, tergantung definisi atau standar apa yang diberlakukan di masyarakat. Definisi yang datang dari kekuasaan-pengetahuan akan menentukan konstelasi hubungan sosial di masyarakat. Di masyarakat, agama adalah pemegang otoritas yang sangat besar dan menjadi panutan dalam kaitan dengan seksualitas. Di sini tidak lagi berbicara mengenai benar atau tidak definisi itu. Akhirnya, masalah utama adalah bagaimana mekanisme kekuasaan berjalan. Di dalam pandangan Foucault mengenai kekuasaan, menurut Haryatmoko, yang penting bukan siapa yang memiliki kekuasaan, tetapi efek, mekanisme, dan teknologinya. Berbicara tentang efeknya, kekuasaan biasanya dinikmati atau diderita. Orang tiba-tiba sudah merasakan efeknya, misalnya disingkirkan, menderita diskriminasi dengan dianggap sebagai berperilaku menyimpang. Sedangkan mekanisme kekuasaan bisa berupa penyeragaman, entah dalam hal pakaian, tutur kata, perilaku yang diharapkan serta menetapkan mana yang normal dan yang tidak normal. Dengan menetapkan kecenderungan seksual mana yang normal mana yang menyimpang, demikian Haryatmoko, dengan sendirinya masing-masing orang akan membatinkan diri. Bila termasuk dalam kelompok yang dianggap menyimpang oleh wacana kekuasaan—biasanya agama atau wacana psikologi—akan timbul rasa bersalah. Bahkan, ketika dalam kenyataannya di masyarakat Indonesia terdapat juga preferensi seksual homoseksual seperti warok di Jawa Timur atau bhisu di Sulawesi Selatan yang diterima masyarakat tradisional setempat, menurut Irwan, stigma terhadap kelompok tertentu dengan preferensi seksual sama masih muncul. Perkembangan masyarakat saat ini, menurut Haryatmoko, sebaiknya direspons dengan menggunakan kacamata beragam, diperluas tidak hanya dari sisi baik atau buruk secara moral. Misalnya, melihat mengapa hal ini terjadi dan bela rasa atas penderitaan mereka. "Pemikiran kritis seharusnya boleh hadir dalam melihat keadaan ini, dalam arti menempatkan diri pada posisi orang lain," katanya. Pola asuh Dari sisi tinjauan perkembangan psikologi manusia, menurut psikolog Sawitri Sapardi Sadarjoen dari Universitas Padjadjaran, Bandung, perilaku homoseksualitas merupakan hasil integrasi aspek bakat dan pola asuh orangtua. Ada tiga faktor utama yang dapat memicu homoseksualitas, yakni faktor konstitusional-biologis yang termasuk faktor genetis, faktor (kecelakaan dan lingkungan), dan faktor internal-bawah sadar. Faktor pertama dan ketiga berpengaruh besar dalam pembentukan kategori homoseksual eksklusif, sementara faktor kedua berperan dalam kategori homoseksual fakultatif. "Orang homoseksual eksklusif identitas seksualnya berbeda dari jenis kelaminnya sejak kecil. Sementara homoseksual fakultatif berperilaku homoseks hanya pada kondisi tertentu," kata Sawitri. Dalam teori Sigmund Freud dikenal empat fase perkembangan psikoseksual, yakni fase oral, anal, phallic, dan genital. "Antara fase phallic dan genital itulah terjadi proses identifikasi psikoseksual anak, apakah dirinya laki-laki atau perempuan secara psikologis," papar psikolog itu. Pada fase identifikasi saat anak berusia 6-8 tahun inilah peran pola asuh orangtua sangat menentukan. Anak laki-laki harus mendapat perhatian cukup dari figur ayah dan anak perempuan dari figur ibu. Pada saat tidak terjadi keseimbangan peran ayah dan ibu dalam hubungannya dengan anak, si anak akan mengambil alih identitas psikoseksual yang tidak tepat. Misalnya anak laki-laki yang tidak mendapat peran figur ayah yang cukup, taruhlah ayahnya terlalu sibuk atau justru terlalu keras terhadap anak, otomatis lebih dekat dengan sosok ibu. Apabila diteruskan, anak lelaki itu akan mengambil alih karakteristik perempuan, termasuk orientasi seksualnya. "Faktor pola asuh menjadi dominan pada perkembangan psikoseksual anak. Freud mengatakan, secara psikoseksual, semua anak yang baru lahir sebenarnya biseksual. Anak laki-laki itu kemudian akan menilai dirinya perempuan dan secara seksual tidak akan terangsang dengan perempuan tetapi laki-laki," paparnya. Perkembangan inilah yang akan membentuk kategori homoseksual eksklusif karena perilaku homoseksualnya terbentuk sejak kecil. "Orang-orang dalam kategori ini, meskipun secara fisik laki-laki sempurna, tetapi di dalamnya benar-benar perempuan secara psikologis," kata Sawitri. Sementara kategori homoseksual fakultatif adalah mereka yang menjadi homoseks saat terdesak, misalnya saat menjadi narapidana. Atau terjadi rangsangan secara tidak sengaja yang disebut accident. Mereka dapat kembali menjadi heteroseksual murni. "Orang biseksual masuk dalam kategori ini. Sebagian ada yang tetap menjadi laki-laki secara fisik maupun mental, tetapi dia juga tertarik pada sesama jenis," katanya menambahkan. http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
