Waktu

Mohamad Sobary

Alunan suara bacaan kitab suci dan shalawat Nabi, seperti silih
berganti di masjid kecil, yang bermandikan cahaya lampu-lampu
petromaks, yang dihias bunga-bunga kertas, dan petikan ayat-ayat suci
yang ditempel di tembok-tembok yang mudah dipandang mata para hadirin,
yang pada malam itu berdatangan dari kampung kampung yang jauh, untuk
mendengar wejangan Kiai Basir, pemimpin pesantren "Kalijaga", yang
selalu naik sepeda, di mana pun beliau berceramah.

Pemuda-pemuda dan para pemudi yang belajar berpidato, belajar membaca
kitab suci, dan pernah menjadi santri Kiai Basir hilir mudik
menyiapkan segenap peralatan dan mengecek tiap unsur acara, apakah
segalanya sudah siap, apakah kira-kira hadirin tertampung di masjid
semua, dan apakah hidangan mencukupi.

Dan Kiai Basir pun datang, dan seorang santri menerima sepeda beliau,
disimpan di tempat yang aman, dan yang lain menyambut sang Kiai,
diantar ke ruangan khusus dan disediakan minum sambil beristirahat
sejenak sebelum acara penting, menyambut Tahun Baru Islam, tanggal
satu Muharam dimulai.

Kiai Basir pun berpidato sesudah semua acara pendahuluan berakhir.
Saya hanya ingat nama Kiai Basir, hanya ingat kesederhanaannya dan
popularitasnya di kalangan kaum santri desa yang jauh dari pesantren.
Tapi tak ingat isi pidatonya. Saya masih bocah waktu itu.

Tapi sesudah remaja, sebagai mahasiswa, dan juga di masa saya dewasa,
tiap pulang kampung, dan menyaksikan kembali peringatan serupa, tanpa
Kiai Basir, karena beliau sudah wafat, saya menemui sebuah rutinitas
yang kelihatan menggelora dan tampak dahsyat, tapi tak terasa di mana
"api"-nya, di mana daya "bakar"-nya, dan di mana kekuatan
"subversive"-nya untuk membikin hidup lebih dinamis dan lebih berarti.

Tapi di kota-kota, bahkan di Jakarta, juga di kalangan kaum elite
kota, kita memandang sejarah, juga "tarikh" Nabi, sebagai rentangan
hari, tanggal, bulan, tahun, dan peristiwa, yang terasa datar dan
hampa, karena apalah artinya tahun dan peristiwa di dalamnya bila
inspirasi dari tindakan Nabi untuk hijrah, suatu langkah yang
mendahului turunnya ayat Tuhan, tak tertangkap oleh kemampuan kognitif
kita, untuk menata dan memberi arti lebih penting atas hidup kita?

Nabi hijrah tak bisa semata dilihat sebagai peristiwa agama, yang akan
mengisi kekayaan batin kita dan menyemarakkan bunyi-bunyian di
masjid-masjid kita, melainkan juga peristiwa politik, atau langkah
politik mencari hunian lebih aman untuk bisa membangun peristiwa demi
peristiwa agama yang lebih mendasar.

Nabi hijrah untuk membangun dengan tenang suatu peradaban baru, yang
tak dikenal jauh sebelumnya di jazirah Arab dan negeri-negeri
sekitarnya. Tahun hijriah terkait dengan momentum melakukan terobosan
membangun manusia, membangun masyarakat, menumbuhkan tradisi hidup
penuh toleransi dan tradisi keilmuan yang melejitkan peradaban Islam
jauh dari batas cakrawala kesadaran zaman itu. Tahun hijriah merupakan
tahun dimulainya revolusi Islam dalam arti sebenarnya.

Lalu di sini, peristiwa besar dan penting, yang mengobarkan "api"
perubahan zaman itu, tiba-tiba kita reduksi dari tahun ke tahun, di
tiap masjid, di tiap acara peringatan, hanya sebagai peristiwa Nabi
pindah tempat, dan sudah. Pesan sejarah, yang tersembunyi, bahwa
manusia bisa besar, masyhur, dan jaya dalam "waktu". Dan manusia tetap
kerdil, konyol, dan tak berarti, juga dalam "waktu".

Hidup memberi kita "waktu" secara leluasa, dan berarti tidaknya
"waktu" itu tergantung manusia. Tapi kelihatannya kita tidak peka
menanggapi "waktu".

Waktu untuk melakukan perubahan penting pernah terjadi ketika kita
menentukan sendiri bahwa yang terbaik bagi kita, presiden harus kiai,
dan tokoh kebudayaan yang namanya besar, dan menggema di dunia
internasional. Tokoh itu kita dapatkan. Tapi kemudian kita sia-siakan.

Kita berganti selera politik bahwa pemimpin haruslah seorang tokoh
karismatik dan tak peduli andaikata tokoh itu perempuan, yang pernah
kita haramkan memimpin. Dan tokoh itu kita dapatkan. Tapi kemudian
kita dungu-dungukan, kita "lamban-lamban"kan, kita ejek sampai tuntas
dan nyaris habis karakternya.

Kita lalu berpikir kembali, dan mengenang masa lalu, bahwa pemimpin
tertinggi negara haruslah seorang militer yang tidak militeristik,
yang bisa diajak bicara, yang punya cita rasa demokrasi, yang jujur,
dan hidup lurus, yang harusnya pernah lama menjabat sebagai pejabat
tinggi di berbagai bidang, tapi tidak korup. Dan pemimpin itu kita
dapatkan. Bahkan, ia kita pilih sendiri secara langsung, tanpa caluk
politik, tanpa perwakilan, tanpa "money politics". Ini yang asli
karena pilihan hati kita sendiri.

Tapi bagaimana sikap kita kepadanya? Kita menjelekkannya juga. Dia
ragu-ragu. Dia takut. Dia tidak "pede", dia tidak "dicisive", dan
kemudian bisik-bisik tentang masa jabatannya, dan kemudian kita rindu
akan corak pemimpin yang lain lagi.

Kita sibuk membuang waktu. Kapankah kerinduan masa pubertas yang
mentah, yang tak rasional, dan tanpa hitungan mendasar itu berakhir?
Kapan kita bisa dewasa menghargai pilihan kita sendiri, dan kemudian
memutuskan bersikap positif, dan bersedia memberi dukungan sepatutnya
karena bukankah baik buruknya pimpinan kita merupakan cermin jiwa kita
seutuhnya?

Sembilan tahun selama reformasi ini, kita menghabiskan waktu untuk
marah. Untuk mengecam. Untuk saling memusuhi. Untuk saling menuduh.
Dan melempar sikap saling tak percaya.

"Demi masa" kata kitab suci. "Semua manusia rugi, kecualiĀ…"

Kita masuk dalam kekecualian itu? Saya tidak tahu. Tapi saya tahu,
kita membuang waktu. Kita tak tahu arti waktu. Maka, kita pun tergilas
waktu.






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke