Antisipasi Gebrakan "Playboy"
Oleh SUYATNO

PRO dan kontra rencana penerbitan majalah Playboy edisi Indonesia
menjadi berita yang hangat. Di satu sisi, reaksi ini merupakan
refleksi kepedulian masyarakat akan kondisi yang akan menimpa
kehidupan mereka.

Kata Playboy seolah telah menjadi icon hal yang porno. Mendengarnya
banyak orang langsung berpikir dua hal. Pertama, seorang laki-laki
yang macho, memikat wanita dan punya banyak pacar. Kedua, sebuah
bacaan yang mempertontonkan cerita dengan gambar yang vulgar.
Mengeksploitasi aurat manusia. Keduanya sama-sama kurang enak untuk
diketengahkan.

Suatu yang dianggap porno, kurang lebih tindakan memperlihatkan aurat
manusia atau melakukan gerakan tertentu secara terang-terangan kepada
pihak yang tidak berhak atasnya secara sah sehingga menimbulkan
dorongan nafsu. Karena vulgarnya dorongan nafsu mengalahkan
alasan-alasan lain semisal keindahan atau estetika dan mungkin alasan
ilmiah lainnya.

Kasus majalah ini sebenarnya merupakan fenomena gunung es. Sebenarnya
sudah banyak beredar majalah dan tabloid syur seharga bala-bala bisa
didapatkan di tepi-tepi jalan. Tabloid yang tidak laku, diobral dengan
harga Rp 1.000,00.

Memang belum ada keseragaman dalam memaknai sesuatu yang porno. Hal
itu menjadi samar ketika terkait dengan nilai estetika. Tidak bisa
dilakukan pemaknaan universal bagi sesuatu yang dianggap seronok itu.
Sifatnya sangat subjektif, bisa memunculkan kecenderungan porno pada
individu tertentu, namun tidak bagi yang lain. Meskipun kadang-kadang
dalam kondisi yang darurat pun orang bisa terjebak untuk berpikir
ngeres. Profesi seseorang juga bisa bersinggungan dengan fenomena ini.
Meski ada tuntutan profesionalisme yang bisa membatasinya, tetapi
terkadang juga terjadi penyimpangan (pelecehan) akibat adanya faktor
pornografi dan porno aksi ini. Sikap orang menjadi beragam dalam
menyikapinya termasuk anggapan porno terhadap majalah-majalah syur.
Termasuk dalam menilai kehadiran Playboy di Indonesia.

Persoalan majalah Playboy Indonesia merupakan konsekuensi dari
kebebasan informasi. Informasi merupakan fenomena atau fakta yang
telah diolah dan berguna bagi pemakainya untuk mengambil keputusan.
Pengolahan ini dilakukan oleh sebuah media untuk menjadikan satu objek
bisa dimanfaatkan atau memberi kesempatan kepada pihak-pihak yang
membutuhkan untuk memperoleh kemudahan atau sumber acuan. Tujuannya
agar dapat dikurangi ketidakpastian dalam memutuskan sesuatu. Karena
itu nilai informasi ditentukan oleh kemampuannya untuk mempengaruhi
perubahan tindakan yang diambil oleh pengambil keputusan.

Di era globlisasi, orang senantiasa dihadapkan tidak hanya satu
pilihan sikap. Sebuah fenomena senantiasa berpeluang untuk
dimanfaatkan secara positif atau negatif sekaligus. Pada sisi yang
satu bisa dipergunakan dan dipetik sejumlah manfaat, sisi lainnya bisa
berdampak negatif. Bisa pula kita tidak mengambil sikap terhadap
sesuatu. Keputusan untuk mengambil fungsi yang bagaimana terletak pada
masing-masing individu. Persoalannya sudah bisakah masyarakat kita
bersikap dewasa?

Sejumlah pihak khawatir dengan kehadiran majalah lisensi dari negeri
Paman Sam itu. Ada pendapat bisa melunturkan nilai-nilai budaya lokal
akibat memunculkan gambar-gambar yang tidak cocok dengan adat
ketimuran. Masyarakat ini tidak terbiasa dengan hal-hal yang terbuka.
Efeknya bila itu dipaksakan, maka akan mudah terdorong untuk melakukan
hal yang melanggar norma sosial dan agama. Masyarakat kita belum cukup
mampu memilih dan memilah informasi. Sebagian besar ditelan
mentah-mentah. Jangan heran akibat kebebasan informasi yang kebablasan
bapak dan anak terlibat dalam hubungan yang terlarang.

Dari sisi agama masalah pornografi yang berpeluang terjadi dengan ide
Playboy Indonesia jelas bertentangan. Agama melarang eksploitasi yang
dilakukan satu manusia terhadap manusia yang lain. Apalagi secara
demonstratif mempertontonkan aurat, baik pria maupun wanita. Dari aras
pendidikan fenomena ini akan merusak anak didik. Belum ada jaminan
terhadap "tuntutan kedewasaan" yang katanya akan dipenuhi oleh PT
Velvet Silver Media sebagai pengelolan Playboy Indonesia. Peredarannya
akan dilakukan secara tertutup. Hanya diperdagangkan di tempat-tempat
tertentu, disegel, dan dengan harga yang cukup mahal. Katanya akan
dijual Rp 40 ribu per eksemplar.

Namun belajar dari berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat hal
itu sulit untuk dipastikan. Kita bisa lihat sejumlah kasus asusila
yang beredar di masyarakat melibatkan sejumlah anak didik di negeri
ini. Kondisi ini akan semakin parah bila peluang itu semakin diberi ruang.

Karakter

Dalam masyarakat kita kini muncul kecenderungan ada tuntutan untuk
mengatur suatu hal bila sudah dilihat adanya penyimpangan di
masyarakat. Itu pun kemudian muncul aturan yang kurang memberi solusi
yang tepat. Terkadang muncul istilah terlambat sudah setelah semua
berkembang dan sulit dikendalikan.

Seperti persoalan rencana penerbitan Playboy ini. Siapa yang kini
harus bertanggung jawab? Bagaimanapun kebebasan dalam kehidupan
masyarakat harus ada aturannya. Semua orang dituntut tanggung jawab
sosial. Bila sebuah kejadian atau tindakan yang diambil lebih banyak
mendatangkan kerugian dibandingkan dengan manfaatnya, maka patut
dieliminasi dari kehidupan masyarakat.

Sekalipun informasi merupakan hak bagi semua orang tetapi untuk
kepentingan umum diperlukan sejumlah kebijakan untuk menatanya.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1997 tentang Waralaba,
penerbitan majalah Playboy Indonesia dengan franchise dari asing itu
harus mendaftarkan diri kepada Departemen Perdagangan. Pendaftar akan
menerima Surat Pendaftaran Usaha Waralaba (SPUW) bila telah memenuhi
beberapa syarat. Salah satu syarat umumnya adalah tidak mengganggu
ketertiban umum, tidak melanggar susila dan tidak merusak moral bangsa.

Dibutuhkan kebijakan yang membangun dan memiliki karakter kuat. Siapa
pun yang memegang kekuasaan dengan kebijakan yang ditawarkan berbeda,
namun semua memerlukan karakter. Dengan kata lain pemerintahan harus
memiliki karakter kebijakan tertentu. Semua kebijakan diabdikan bagi
perkembangan masyarakat. Dengan cara ini pengaruh deras globalisasi
bisa ditanggapi. Bukan membuat hanyut dan kehilangan arah. ***

Penulis, pemerhati masalah sosial, dosen Fisip Unikom.






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke