Surak Ibra, Pudarnya Simbolisme Perlawanan

    MASYARAKAT Sunda sangat menentang berbagai bentuk penjajahan sejak
dulu. Kerinduan atas kebebasan dan pembentukan pemerintahan sendiri
telah muncul saat penindasan dari kaum kolonial semakin menjadi.
Kesenian surak ibra adalah salah satu bentuk simbolisasi pemberontakan
tersebut, meski sekarang nasib kesenian tradisional ini berada di
ambang kepunahan.

SEORANG "bobodor" tengah dibopong oleh puluhan "pamunggu" dalam
pertunjukan surak ibra yang digelar pada Kemilau Nusantara di Bandung,
September 2005. Kesenian "buhun" asal Garut ini diciptakan R.
Djajadiwangsa pada 1910 sebagai sindiran kepada penguasa Kolonial
Belanda.*DUDI SUGANDI/"PR"

SEMARAK, gembira, dan kolosal adalah ciri khas pertunjukkan boboyongan
atau surak ibra. Sepintas boboyongan nampak seperti penggalan momen
penyambutan kemenangan seorang tokoh yang dibopong oleh sejumlah
pendukungnya.

Sedikitnya terdapat 40 hingga 50 orang yang harus terlibat dalam
pagelarannya. Mereka berbagi posisi menjadi seorang bobodor, belasan
nayaga (pemain musik), dan sisanya sebagai pamunggu.

Bobodor adalah orang yang dielu-elukan, karena perannya yang
diposisikan untuk selalu ngabodor (melucu). Bobodor dilempar-lemparkan
ke udara oleh puluhan pamunggu (pemboyong) sembari bersorak (Sunda:
surak). Bobodor kerap melakukan gerakan gimnastik di atas boyongan.

Belasan anggota nayaga masing-masing memegang alat musik seperti
seperangkat dogdog (alat pukul menyerupai gendang), kendang, terompet,
angklung, keprak awi, kohkol awi, dan goong kecil.

Kesenian ini menurut catatan diciptakan oleh Raden Djajadiwangsa pada
1910. Raden Djajadiwangsa merupakan seorang kuwu (kepala desa) di
Kampung Sindangsari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Garut. Ia
merupakan putra dari Raden Wangsa Muhammad yang lebih dikenal dengan
nama Pangeran Papak, tokoh besar Wanaraja Garut.

Seperti layaknya sang ayah, ia sangat menentang pendudukan Belanda.
Tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat Cinunuk Wanaraja membuat ia
tergerak untuk memobilisasi massa. Upaya itu tidak dilakukan melalui
perlawnan frontal seperti yang dilakukan Haji Hasan Arief di Cimareme
Banyuresmi.

Melalui kesenian, masyarakat Cinunuk dipersatukan, menerapkan kaidah
bergotong-royong sekaligus membuat simbolisasi pengangkatan seorang
pemimpin dari kalangan sendiri. Orang kepercayaan bernama Eson
diposisikan pimpinan. Eson dan kawan-kawan kemudian menggabungkan
pencak silat, tari, dan bodor. Eson pula yang kemudian menjadi bobodo.

Kesenian ini kemudian dinamakan boboyongan Eson, atau sebagian orang
menyebutnya dengan nama surak Eson. Dalam perkembangannya, terjadi
perubahan yang tak disengaja di luar masyarakat Cinunuk hingga namanya
berubah menjadi surak ibra.

Pertama kali surak ibra (baca: boboyongan) dipentaskan hanya di
kalangan keturunan Raden Djajadiwangsa saja. Kesenian ini berkembang
hingga ke luar wilayah Wanaraja. Pada 1930, dipentaskan di Pendopo
Kabupaten Garut dalam "Pesta Raja" menyambut hari pernikahan Ratu Juliana.

Sebagai rasa terima kasih, pemerintah Belanda memberikan hadiah berupa
sebuah koper dari kuningan serta selusin kaus oblong "cap kunci".
Koper kuningan masih menjadi barang mewah saat itu. Sementara,
beberapa potong kaus oblong "cap kunci" saat ini masih tersimpan apik
di tangan keturunan Raden Djajadiwangsa di Cinunuk Wanaraja.

"Pemerintah Belanda saat itu tak menyadari bahwa sebenarnya kesenian
surak ibra yang ditampilkan itu merupakan sindiran langsung kepada
mereka. Kita jelas menginginkan pemerintahan sendiri dan mengangkat
seorang pemimpin di antara kita," ucap Amoh Junaedi, saat ditemui di
kediamannya di Kampung Dunguscili Desa Cipicung Kecamatan Banyuresmi
Garut, Kamis (19/1). Amoh merupakan generasi ketiga penerus kesenian
buhun ini.

Masyarakat Cinunuk secara tidak langsung dipersatukan lewat kesenian
ini sejak pertama kali diciptakan. Setelah kemerdekaan, surak ibra
selalu ditampilkan saat hari-hari besar. Pada tahun 1979 saat festival
kesenian di Senayan Jakarta. Saat itu, rombongan surak ibra dari
Cinunuk wanaraja ditetapkan sebagai juara kedua tingkat nasional,
setelah Timor Timur.

Selain "versi" Cinunuk, surak ibra juga telah mendarah daging di
masyarakat Cibatu. "Sampai sekarang saya juga tidak mengerti, mengapa
surak ibra ada di Wanaraja? Padahal, surak ibra yang aslinya hanya ada
di Desa Kertajaya Kecamatan Cibatu Garut. Saya tahu persis itu,"
demikian keheranan Tasdik (73), warga Kampung Cipanasciloa Desa
Kertajaya Kecamatan Cibatu Garut. Tasdik yang lebih dikenal warga
dengan nama Entas itu merupakan anak keenam dari sembilan saudara
keturunan Ibra. Ibra sendiri adalah seorang tokoh dari Desa Kertajaya
(dulu disebut Desa Cikoang) Cibatu. Dari namanya pula lah nama surak
ibra berasal.

Menurut pengakuan Tasdik, kesenian ini pertama kali diciptakan
ayahnya, Ibra, pada saat memeriahkan pesta sunatannya. Ia adalah
penerus ketiga kesenian surak ibra setelah Ibra (ayahnya) dan Witarma
(kakak kandungnya). Kini Tasdik mendirikan sebuah kelompok "Ibra
Taruna" atau berarti keturunan Ibra.

Terlepas dari siapa sebenarnya yang pertama kali memulai boboyongan
ini, apakah Ibra atau Eson. Kemungkinan umur mereka saat itu sebaya
dan sama-sama bersumber dari Cinunuk Wanaraja. Menurut Tasdik, ayahnya
pernah memperistri salah seorang wanita dari Cinunuk Wanaraja meski
hanya bertahan selama dua bulan saja. Jarak antara Cinunuk Wanaraja
dengan Kertajaya Cibatu hanya terpisah sekira 10 kilometer.

Meski sama-sama melakukan boboyongan, surak ibra versi Kertajaya
berbeda dengan surak ibra versi Cinunuk. Di Kertajaya, surak ibra
lebih eksotis karena dilakukan oleh hampir seluruh warga desa secara
massal, spontan, serta memiliki nuansa magis yang sangat kental.
Belasan orang biasanya langsung tak sadarkan diri dan kerasukan, tak
lama setelah dogdog ditabuh nayaga. Sementara di Cinunuk, sama sekali
tak melibatkan unsur klenik.

Alat musik yang dibawa masing-masing anggota nayaga surak ibra dari
Kertajaya Cibatu lebih minimalis dibandingkan di Cinunuk, yakni hanya
berupa empat dogdog dan kendang pencak lengkap dengan terompet.
Persamaannya, irama musik yang dimainkan nayaga diiringi oleh
sorak-sorai (surak) para peserta lainnya.

Amoh mengakui penamaan surak ibra untuk kesenian yang dipimpinnya
sebenarnya kurang tepat. Ia bahkan lebih memilih nama boboyongan eson
atau surak eson daripada surak ibra.

Menurut Amoh, semuanya berawal pada 1979, saat kesenian boboyongan
dari Cinunuk menjadi juara tingkat Jawa Barat. Seorang wartawan
melakukan wawancara dengan salah satu anggota boboyongan. Salah satu
pertanyaan jurnalis tersebut menanyakan tentang apakah ada kesenian
boboyongan lain di Garut selain dari Cinunuk. Anggota boboyongan itu
kemudian mengiyakan dan menyebutkan bahwa kesenian boboyongan lain itu
bernama surak ibra dari Cibatu (Kertajaya). "Entah kenapa, dalam
pemuatan koran itu kemudian disebut bahwa kita adalah kelompok
kesenian surak ibra, bukan boboyongan," ucap Amoh.

Akan tetapi, perbedaan persepsi kedua seni boboyongan itu rupanya
bukan menjadi masalah besar bagi kedua kelompok tersebut. Esensi dari
kedua kesenian buhun itu rupanya masih tetap sama, yakni merupakan
bentuk perlawanan dan simbol pembentukan pemerintahan sendiri tanpa
penindasan Belanda.

Kepala Desa Kertajaya Cibatu, Sudjani (61), menangkap hal tersebut
sebagai sebuah keanekaan dari sebuah kebudayaan Sunda. "Ieu
(Kertajaya) mah aslina, itu mah kembangna."

Satu permasalahan yang dihadapi dalam perkembangan surak ibra saat ini
adalah kelestariannya. Baik Amoh maupun Tasdik tak menjamin
kelestarian surak ibra akan terus terjaga hingga beberapa generasi
berikutnya. Meski mereka mengaku akan berupaya sekuat tenaga untuk
menjaga surak ibra ini, keduanya sangsi pergerakan zaman tak akan
melindas nilai-nilai tradisi mereka. (Deni Yudiawan/ "PR")***





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke