Anu ieu ge jadi contona???

rh



Dawam dan Citra Muhammadiyah Yang Hilang
Oleh Luthfi Assyaukanie
30/01/2006

Pemecatan M. Dawam Rahardjo dari keanggotaannya di Muhammadiyah
menambah satu lagi catatan buruk sejarah kontemporer Muhammadiyah.
Pemecatan ini merupakan kulminasi dari proses puritanisasi yang
terjadi dalam tubuh Muhammadiyah sejak dua tahun terakhir. Sebagian
orang menganggap bahwa radikalisasi --atau puritanisasi-- dalam
Muhammadiyah terjadi sejak Dien Syamsuddin memimpin organisasi Islam
terbesar kedua setelah NU itu. Tapi ada yang mengatakan bahwa naiknya
Dien justru merupakan konsekwensi dari kecenderungan puritanis dalam
Muhammadiyah belakangan ini. Dien hanyalah seorang "pemanfaat" situasi
yang kebetulan disukai oleh kaum puritanis itu.

Saya lebih cenderung pada pendapat kedua. Dien yang saya kenal,
bukanlah seorang yang kaku dan radikal dalam menyikapi sesuatu.
Sebaliknya, dia adalah seorang yang lentur, jenius dalam berpolitik,
dan pandai mengambil manfaat dan kesempatan. Kita tahu, Dien adalah
seoang lulusan IAIN yang belajar di Barat. Ia mengambil kajian
pemikiran politik, pernah menjabat sebagai pengurus Golkar, pernah
dekat dengan kelompok tentara dan Prabowo, pernah menjadi Dirjen
tenaga kerja, dan menjadi pengurus ICMI. Dien bukanlah tipikal orang
"radikal" seperti Abu Bakar Baashir atau Habib Rizieq Shihab. Tapi,
Dien adalah seorang pemanfaat yang baik dan cerdas.

Dengan demikian, Muhammadiyah menjadi semakin puritan jelas bukan
karena Dien, tapi karena massa mayoritas organisasi itu menghendaki
dan mewarnainya demikian. Saya masih ingat ketika mendapat undangan
berbicara di depan ratusan pemimpin cabang Muhammadiyah beberapa tahun
lalu. Aura puritanisme jelas sekali memancar dalam ruang diskusi yang
kurang bersahabat pada apa yang saya lontarkan. Padahal, ketika itu,
saya hanya ingin mengatakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan, pendiri
Muhammadiyah, meruapakan seorang ulama dan intelektual yang cukup
toleran dan terbuka dengan perkembangan pemikiran Islam.

Muhammadiyah memang sedang mengalami kemunduran serius. Bukan karena
masuknya Dien Syamsuddin, tapi karena semangat puritan yang diusung
oleh para pemimpinnya, khususnya di tingkat-tingkat cabang. Benar
bahwa ada sebagian pemimpin organisasi ini yang cukup progresif dan
liberal, seperti Ahmad Syafii Maarif, Dawam Rahardjo, dan Amien
Abdullah, tapi keberadaan mereka tertutupi dengan banyaknya kaum
puritan non-liberal yang menguasai cabang-cabang dan ranting-ranting.

Demokrasi adalah resep yang buruk buat sebuah masyarakat yang tak
liberal. Apa yang berlaku dalam Muhammadiyah jelas merefleksikan
kaedah ini. Pemilihan ketua Muhammadiyah tahun lalu akhirnya
menghasilkan apa yang oleh Fareed Zakaria disebut "illiberal
democracy." Pemilihan proseduralnya sendiri dilakukan secara
demokratis, tapi elemen-elemen yang terlibat dalam pemilihan itu,
sebagain besar adalah orang-orang yang tak-liberal.

Perkembangan mutakhir Muhammadiyah memang cukup mengkhawatirkan.
Muhammadiyah adalah sebuah organisasi reformis yang memiliki misi
pembaruan pemikiran keagamaan. Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912,
ketika semangat pembaruan keagamaan mendominasi hampir seluruh gerakan
kebangkitan Islam.

Gerakan kebangkitan Islam, pada mulanya bersifat reformis, dalam
pengertian bahwa ia mengusung ide-ide pembaruan keagamaan. Sejarah
kebangkitan Islam di Indonesia bermula dari Minangkabau, ketika para
intelektual muslim yang belajar di Mekah dan Cairo kembali ke kampung
halaman mereka dan menyebarkan semangat dan gagasan-gagasan reformasi
Islam. Di Sumatra, penyebaran semangat dan gagasan itu dilakukan lewat
sekolah-sekolah seperti Adabiyah, Surau Jembatan Besi, dan Thawalib,
sementara di Jawa, dilakukan lewat organisasi-organisasi seperti
Muhammadiyah, Jami'at Khayr, dan al-Irsyad.

Corak dan karakter pemikiran keagamaan Muhammadiyah, pada mulanya
bersifat pembaruan (reformis). Karena corak dan karakter inilah,
Muhammadiyah dengan cepat menyebar dan dengan mudah dapat diterima di
Sumatera Barat. Bahkan Sumatera Barat sampai kini menjadi wilayah
terbesar pengikut Muhammadiyah di luar Jawa.

Sejarah Muhammadiyah selalu mengalami pasang-surut. Pada awal tahun
1970-an, organisasi ini memainkan peran cukup penting dalam membantu
pemerintah melancarkan proyek modernisasi dan pembangunan. Generasi
muda Muhammadiyah pada saat itu juga memainkan peran yang tak kalah
pentingnya. Diskusi-diskusi pemikiran di kalangan anak-anak muda
Muhammadiyah tumbuh subur. Salah satu gerakan penting pembaruan Islam
tahun 1970-an adalah "Limited Group" sebuah kelompok diskusi yang
dimotori, salah satunya, oleh Dawam Rahardjo.

Peran Dawam Rahardjo sangat besar dalam meneruskan cita-cita pembaruan
pemikiran Islam di Indonesia. Sama seperti Nurcholish Madjid di
Jakarta, Dawam melakukan pembaruan Islam dari Yogyakarta. Bagi
orang-orang di luar Muhammadiyah, Dawam merupakan tokoh yang
menetralkan citra Muhammadiyah dari kecenderungan puritannya. Karena
itu, saya menganggap sebuah kebodohan dan kesalahan besar telah
dilakukan para pengurus Muhammadiyah yang dengan semena-mena telah
memecatnya. []






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke