Kala Sunda dan Orang Awam
Oleh NANDANG RUSNANDAR

"LAUK buruk milu mijah" itulah peribahasa yang cocok ditujukan kepada
Sdr. Irfan Anshory yang menulis tentang "Mengenal Kalender Hijriah"
dimuat pada Harian Pikiran Rakyat pada hari Sabtu tanggal 28 januari
2006, karena beliau kurang mengetahui apa yang dimaksud dengan Kala
Sunda. Kala Sunda ditelaahnya hanya sepotong-sepotong (!?).

Saya ingat benar kata-kata Cak Nun, "Apabila kita akan berbicara
sesuatu, maka pelajari dan hatamkan dahulu sesuatu". Begitu pula
dengan Kala Sunda, pelajari dan hatamkan Kala Sunda, baru kita bicara
Kala Sunda yang sebenarnya. Bila dipelajari dengan seksama akan
memberikan gambaran yang lebih komprehensif apa dan bagaimana ia yang
sebenarnya, sebelum kita memvonis sedemikian rupa. Mudah-mudahan
tulisan ini merupakan ajakan bagi Sdr. Irfan Anshory untuk lebih
mengenal Kala Sunda dengan benar, sebenar ia mengenal kalender Hijriah
sebagai perbandingan ilmu. "Iqro, iqro, iqro!" Itulah sepenggal wahyu
pertama untuk Nabi Muhammad dari Malaikat Jibril. Iqro yang holistik
akan membuka cakrawala pemikiran yang lebih objektif lagi.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui dengan benar untuk Sdr. Irfan
Anshory, semisal pertama, siapa pencipta Kala Sunda itu. Abah Ali
bukan seorang pencipta, melainkan ia hanya seorang yang menemukan
kembali titinggal karuhun Sunda yang telah ditinggalkan begitu lama.
Karena bila Abah Ali seorang pencipta kalender Sunda, maka ia harus
sudah hidup ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, karena Kala Sunda
sudah dipergunakan, seperti dalam Prasasti Batu Tulis di Bogor
(Prasasti Sri Jayabupati), yang kemarin ribut digali oleh seorang
menteri agama (menurut kepercayaan Islam, harusnya menteri tersebut
termasuk orang yang musyrik, karena mempercayai hal yang berbau
tahayul). Dalam batu tulis tersebut tertulis tanggal yang sempurna
//O// Swasti cakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadaci cuklapaksa.
Ha. Ka. Ra. Wara tambir...." Selamat. Dalam tahun Saka 952 Bulan
Kartika tanggal 12 bagian terang hari Hari yang Kaliwon - Ahad - Wuku
Tambir...." Tanggal 12s Kartika 952 C, bertepatan dengan tanggal 7
Juli 1045 M.

Kedua, akurasi Kala Sunda, bukan main hebatnya. Menurut perhitungan
astronomi tertanggal 1 Januari 2000 dinyatakan bahwa umur satuan tahun
rata-rata 365.24218967 per hari per tahun rata-rata, sedangkan Kala
Surya Sunda 365.2421875 hari per tahun rata-rata, jadi ada kekurangan
0.0000027 hari per tahun rata-rata. Angka ini bila kita kalikan
460829.49308756, hasilnya 1 (satu) artinya bahwa 460830 (empat ratus
enam puluh ribu delapan ratus tiga puluh) tahun akan ada perbedaan
atau geseran 1 (satu) hari, merupakan tahun panjang 366 hari. Jadi
akurasinya Kala Sunda adalah 460830 tahun baru geser satu hari. Hebat
bukan? Mana ada kalender yang seakurasi seperti ini?

Apakah betul Kala Sunda merupakan modifikasi dari berbagai kalender
yang ada? Dengan melihat akurasi sedemikian hebatnya, benarkah Kala
Sunda seperti pinang dibelah dua dengan Kalender Jawa? Ah.....
kelihatannya sih memang sama, tapi bila dilihat dengan seksama akan
terlihat jelas bedanya. Atau betulkah kalender Hijriah begitu
akuratnya? Ah, yang benar saja, mungkin karena penulis tidak
mempelajarinya dengan seksama. Ketetapan tarikh Masehi setelah
diperbaiki ialah 3.333 tahun, sedangkan tarikh Saka 460830 tahun itu
jelas bedanya.

Ketiga, Bila kita mempelajari Kala Sunda dengan seksama, kita akan
mampu mengubah tanggal sejarah yang ada di Indonesia. Apa sebab?
Hampir semua sejarawan tidak melihat perbedaan antara tanggal Caka dan
Saka. Padahal, dalam kala itu ada yang berpatokan pada Kala Surya
"Matahari" dan Kala Candra "Bulan", ini merupakan koreksi demi
lurusnya sejarah kita.

Dalam putaran sejarah, kita mengenal adanya kalender Hijriah dan
Masehi. Pada waktu Islam menguasai pulau Jawa, yaitu pada zaman
Mataram, penanggalan menjadi tidak tertib dan semrawut. Hal itu
disebabkan penanggalan Hijriah bercampur dengan penanggalan Caka.
Sultan Agung berusaha untuk menertibkan masalah ini. Dilakukanlah
penelitian oleh para empu, ahli nujum, pujangga, ulama, dan lain-lain
yang akhirnya diputuskan untuk membuat satu sistem penanggalan baru.

Penanggalan ini merupakan gabungan 3 (tiga) sistem penanggalan yang
ada saat itu yaitu Kala Candra Caka Sunda, Kala Surya Saka Sunda, dan
Kala Hijriah. Kalender itu mengambil angka tahun dari Kala Surya Saka
Sunda, ialah tahun 1555, nama bulan, hari, dan tanggal diambil dari
kala Hijriah, sedangkan tata cara perhitungan penanggalannya diambil
dari Kala Candra Caka Sunda. Naman-nama lain seperti wara, wuku, windu
tetap dipergunakan. Sedangkan nama tahun dalam sewindu diganti dengan
nama baru yang berbau Arab, seperti Alip, He, Jim awal, Je, Dal, Be,
Wau, dan Jim ahir, yang tadinya berasal dari nama binatang. Perbedaan
itu terlihat seperti:

Sunda: Manis, Pahing, Pon, Wage, Kaliwon

Jawa : Wage , Kaliwon, Manis, Pahing, Pon.

Penetapan tanggal persemian bersamaan juga pada saat peresmian Keraton
Mataram pada hari Jumat Manis/Legi (Jawa), tanggal 1 Muharam tahun
Alip 1555, Windu Kuntara, Wuku Kulawu, Wukukumasa Prangbakat, masawuku
Kasanga. Tanggal ini bersamaan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah dan
bersamaan pula dengan tanggal 8 Juli 1633 Masehi. Dalam buku Primbon
Adji Caka Manak Pawukon 1000 taun:

"Bareng saadening karaton Djawa Islam ing Mataram, ing sadjumenenge
Sri Sultan Agung Prabu Anjakrakusuma, ana kaparenging karsa Nata jasa
taun Djawa, awewaton taun Kamariah ija iku taun mitutut petungan
rembulan, kang bisa njakup antarane kabudajan. Hindu lan Arab bareng
paugeraning Taun Djawa iku wis kalakon kaangit kalajan mupakate para
sudjana sardjana ahlum nujum, bandjur wiwit katindakake tumapake ana
ing nusa Dja lan madura (kadjaba ing Banten kang orang kelebu wilajah
Mataram)..."

Penanggalan baru ini diberi nama Kala Jawa Islam yang biasa disingkat
dengan Kala Jawa, Tarikh Jawa, Alamanak Jawa, Tahun Jawa atau Tahun
Saka. Peresmian itu dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram,
wilayahnya meliputi daerah Mataram dan seluruh daerah bawahannya. Di
Jawa Barat hanya Banten yang tidak termasuk bawahan Mataram, maka
Banten tidak memakai penanggalan Jawa ini.

Apabila kita bandingkan antara tanggal peresmian Kalender Jawa tahun
1555 C dengan penanggalan yang dipergunakan dalam Batu Tulis Sri Jaya
Bupati di Bogor yang berangka tahun 952 C. Jadi adanya Kala Sunda
lebih dahulu dibanding dengan Kala Jawa yang baru diresmikan, sekira
606 tahun perbedaannya. Waduh jauh sekali keberadaannya antara Kala
Sunda yang sudah dipakai oleh karuhun kita dengan Kala Jawa yang baru
diresmikan oleh Sultan Agung. Katanya kaya pinang dibelah dua?
Benarkah begitu?

Perjalanan sejarah dilanjutkan oleh torehan penjajahan Belanda (VOC),
maka Kala yang resmi dipergunakan adalah Masehi. Apabila penelitian
yang berkaitan dengan tahun saka maka sejarawan selalu menambahkannya
dengan angka 78. Kenapa? Orang Belanda yang ahli "timur" yang bernama
Dr. Dubois M. Engina F. (1858-1940) yang menemukan fosil-fosil di
Jawa, beranggapan bahwa awal kala Mataram sama dengan Saka India
diambil dari tahun yang terdapat dalam Tahun Saka Surya saat itu ialah
1555.

Angka inilah yang dijadikan awal tahun Mataram, yang bersamaan dengan
tahun Masehi 1633 Masehi. Selisih kedua tarikh ini adalah 78 tahun.
Angka ini sama dengan selisih tahun Saka India dengan Masehi, maka di
sini pulalah kerancuan dimulai. Semua dianggap tahun Saka, padahal ada
yang berdasarkan Candra dan Surya, itu sangat berbeda. Karena kita
lihat lagi bahwa memindahkan tahun Caka ke tahun Masehi tidak hanya
dengan menambahkan angkat 78 tahun saja, sebab dalam sejarah kita
banyak menggunakan Kala Candra, seperti kalau dipindahkan ke tahun
Hijriah dapatlah ditambah dengan angka 515 tahun, sebab mempergunakan
perhitungan candra. Nah angka tanggal sejarah yang kini ada pun harus
berubah.

Satu tahun Kala Surya umurnya 365 hari, sedangkan Kala Candra umurnya
354 hari, jadi ada perbedaan kira-kira 11 hari. Bila 1.000 tahun x 11
hari = 11.000 hari: 354/tahun = kira-kira 31 tahun perbedaannya. Maka
jika kita melihat Tahun 0001 Caka Sunda itu bukan 0079 Masehi Julian,
melainkan tahun 122 Masehi Julian.

Keempat, Sebagai bahan iqro untuk memperdalam kekayaan Sunda yang
tidak hanya kalender saja, penulis mengajak semuanya untuk menengok
sejarah.

Ketika Ki Sunda dahulu membuat kalender ribuan tahun yang lalu, maka
umur Ki Sunda sudah sangat tua. Hal itu terbukti dengan penemuan baru
yang dimuat dalam harian ini pada tanggal 23-24 Januari 2001
"Ditemukan Bukti Keberadaan Benua Atlantis" Oleh Winda D. Riskomar.
"Diduga keterkaitan masyarakat Atlantis dengan Indonesia, yang pada
waktu itu bernama Sunsa-Dwipa..." (Sunda = Sunda, Dwipa = Pulau, Sunsa
Dwipa = Pulau Sunda; penulis & Bah Ali). Jadi menurut keterangan di
atas, umur Ki Sunda sebanding dengan Masyarakat Atlantis yang hilang.

Nah, ketika itu, masyarakat Sunda pasti sudah megenal "basa" Hal itu
terbukti semua benda yang ada di Sunda pasti mempunyai nama. (Dalam
penataran Dialektologi tahap I Juni-Agustus 1976-Proto Austronesia
Etyma Constituting An Austronesian Cognate List, oleh Dr. Bernd
Nothofer, digambarkan bahwa Porto Sundic (Sunda) adalah induk bahasa
Melayu, Madura, Bali, Jawa, dsb.) Jelas di sini bahwa Ki Sunda sebelum
bisa mengutak-atik kalender, mereka sudah menguasai "Calistung":
membaca, menulis, dan berhitung. Menulis dengan aksaranya sendiri
bukan berguru dari bentuk tulisan orang lain, dan berhitung pun sudah
mengenal apa yang kita disebut perhitungan secara matriks, atau
istilah Sunda Biras. Bukti penggunaan perhitungan secara matrikh dapat
dilihat dalam bahasa, karawitan, dan kalender itu sendiri.

Dengan adanya tulisan ini, maka penulis berharap bagi masyarakat
Sunda, perlu identitas primordial yang dijadikan suatu ikatan
kebersamaan. Dalam hal ini Kala Sunda yang diciptakan Karuhun harus
menjdai suatu pride dan obligation bagi Ki Sunda sendiri.

Kita harus membuat konsensus bersama yang sangat esensial dalam
melestarikan Kala Sunda ini, sebagai pembentuk identitas kolektif
bangsa. Kala Sunda harus menjadi sumber inspirasi dan aspirasi
generasi muda Ki Sunda. Dengan adanya kalender ini harus menjadi tolok
ukur masyarakatnya, seperti apa yang dikemukakan dalam "Winkler Prins
Ensiklopaedie Zesde Gegeel Nieuwe Druk. 1951", "Umumnya, dengan adanya
kalender atau penanggalan di sebuah masyarakat jadi bukti untuk
mengukur derajat peradabannya, karena ketelitian pananggalannya
memperlihatkan ukuran tingkatan kepintaran/intelektual masyarakatnya".
Semoga.*** 

Penulis, Pemerhati Sosial Budaya Sunda.





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke