Multikulturalisme Baru Barat-Islam Syafiq Hasyim
Kasus pemuatan kartun Nabi Muhammad sebetulnya bukan kesalahan pertama beberapa negara Barat dalam mempersepsikan Islam. Meskipun sudah ratusan dan jutaan buku diterbitkan dan juga ratusan pusat studi Islam dibuka di universitas-universitas terkemuka di Barat, tetapi kesalahan seperti itu tetap saja terjadi. Kesalahan serupa mungkin juga terjadi pada umat Islam dalam memahami tradisi Barat, misalnya pandangan mereka yang suka menggeneralisasi semua negara Barat itu memusuhi Islam dan tidak bermoral. Kalau kita ambil hikmahnya, peristiwa pemuatan kartun Nabi Muhammad ini bisa dijadikan media untuk sama- sama melakukan refleksi, tidak hanya untuk Barat, tetapi juga untuk umat Islam. Untuk Barat, kasus ini agar dijadikan pemicu untuk lebih memahami Islam secara baik dan demikian juga untuk umat Islam memahami tradisi Barat agar tidak membuat persepsi yang salah pula tentang mereka. Hikmah ada di mana saja, bisa di Barat dan di Timur. Orientalisme vs oksidentalisme Cara pandang masyarakat Barat (kalangan akademis) terhadap Islam selama ini masih terbingkai dalam cara pandang orientalisme di mana Islam diposisikan sebagai obyek. Sementara itu, kalangan Islam, seperti Hassan Hanafi, memunculkan ide baru untuk melawan orientalisme yang diberi nama oksidentalisme. Oksidentalisme dimaksudkan menjadikan Barat sebagai bahan kajian. Keduanya pada tahap tertentu memang cukup membantu, tetapi sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Apa yang terjadi dengan kartun Nabi Muhammad merupakan bukti di mana orientalisme (Islamamologi) Barat gagal menanamkan sikap penghargaan terhadap tradisi pihak lain. Hal ini disebabkan dalam tradisi orientalisme pemilahan "pihak kita" (subyek, pengkaji) dan pihak lain (obyek, dikaji) begitu terasa. Hal yang sama juga terjadi dalam oksidentalisme (al-ilmu al-istighrab) di mana model yang sama diterapkan pada orientalisme juga diterapkan pada oksidentalisme. Karena itu, wajar apabila produk oksidentalisme hampir mirip dengan produk orientalisme. Baik orientalisme maupun oksidentalisme tidak mampu menghapus relasi yang timpang dan tidak adil di antara pihak yang memahami dan pihak yang dipahami. Meskipun demikian, baik orientalisme maupun oksidentalisme memiliki jasa yang besar dalam mendialogkan masyarakat Islam dan Barat. Hasil positif yang sudah disumbangkan oleh kedua model pemahaman ini harus dihargai dengan cara melestarikan hal-hal yang baik dan memperbarui hal-hal yang tidak baik dari keduanya. Pluralisme atau relativisme Pluralisme sebenarnya merupakan salah satu jalan pilihan baru untuk menemukan kesalingpemahaman antara masyarakat Islam dan Barat, tetapi istilah ini telanjur sering kali disalahtafsirkan sebagai paham relativitas agama-agama. Dalam konteks Indonesia, misalnya, sementara pihak memahami pluralisme sebagai pengakuan kebenaran semua agama dan tidak mau menerima definisi yang lain mengenai pluralisme meskipun definisi lain itu mungkin lebih cocok dengan kondisi umat Islam Indonesia. Definisi Syed Hashim Ali, mantan wakil konselor pada Universitas Utsmania dan Alighar Muslim, misalnya, sangat netral dan tidak ada unsur penyamaan agama-agama. Dia menyatakan, pluralisme adalah "kondisi masyarakat di mana kelompok etnis, agama, dan budaya hidup bersama dalam sebuah bangsa". Akan tetapi, definisi yang sangat bagus seperti ini ada yang menyingkirkannya dan tetap memelihara definisi yang cenderung menciptakan kekeruhan. Dari sini kita bisa memahami bahwa pemilihan definisi adalah bagian dari pertempuran ideologi itu sendiri. Akibat ini, maka banyak, tidak hanya kalangan Islam, tetapi juga non-Islam, yang merasa khawatir apabila menggunakan pluralisme sebagai metodologi untuk menciptakan kesalingpengertian dan kesalingpemahaman di antara kelompok-kelompok yang memiliki perbedaan di dalam masyarakat. Mereka takut jatuh di dalam pembenaran agama-agama. Bahkan, pada tahap tertentu penolakan terhadap pluralisme sudah tidak didasarkan atas pemikiran yang obyektif-humanis lagi, tetapi lebih didasarkan pada pemikiran yang ideologis-sektarian. Multikulturalisme Meskipun kemungkinan untuk disalahpahami tetap saja terbuka, multikulturalisme memiliki konotasi yang agak netral dibandingkan dengan konsep-konsep lain. Multikulturalisme mengajak orang untuk menghormati spektrum yang luas tentang kebudayaan, agama, komunitas etnik, serta kelompok-kelompok lainnya yang ada di dalam masyarakat. Perlu penandasan bahwa multikulturalisme bukan agama baru, penambahan isme di dalam kata ini dilakukan untuk melukiskan sebuah cara pemahaman. Hal ini perlu penekanan karena masyarakat Islam sedang alergi menerima isme-isme meskipun isme-isme tersebut juga dikenal padanannya dalam bahasa Arab dengan penambahan ya nisbat pada akhir kata benda (isim). Namun, agak berbeda dengan konsep-konsep lain yang lebih bersifat teologis, multikulturalisme menawarkan perspektif kebudayaan dalam memahami perbedaan-perbedaan yang ada. Selain itu, secara akademis multikulturalisme memang belum pernah dipahami atau didefinisikan oleh kalangan ilmuwan sosial sebagai cara pandang yang menyamakan kebenaran agama-agama. Ini merupakan keuntungan penggunaan konsep ini. Multikulturalisme mendorong orang untuk menghormati pihak lain yang berbeda bukan karena pengakuan terhadap kebenaran agama mereka, tetapi karena setiap orang harus menghormati tradisi pihak lain dalam menyembah Tuhan mereka. Syafiq Hasyim Deputi Direktur International Center for Islam and Pluralism Jakarta http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
