Hidup Semakin Susah "HIDUP teh susah aja, nya Mang......"
"Ilaing kakara sadar geuning, Ndun?" tanya Madhapi. "Sadarna mah udah dari dulu, sebab hidup susah teh dari dulu. Hanya aja baru nyarita sekarang teh tadinya banyak harapan. Heueuh, sugan we nanti mah nggak begii sugan we, sugan we. Eh, udah gunta-ganti zaman, udah capek bilang sugen we, tetep aja sengsara, Mang!" keluh. "Segitu juga ilaing untung masih tetap sengsara, Endun." "Lho, kok bilang begitu? Masa dibilang untung liar orang tetap sengsara?" tanya Endun sembari melotot tak senang. "Lha, kan yang lain mah hidupnya nggak bisa tetep sengsara, sebab nasib mereka semakin tenggelam dalam kesengsaraan. Dulu sengsara, sekarang tambah sengsara. Dulu miskin, sekarang semakin miskin! Mangkanya uang termasuk jalma beruntung kalo tetap sengsara mah!" kata Madhapi. Dibilangin begitu, Endun hanya manyun sembari nanggeuy gado. "Mamang mah ngeledek aja sama orang miskin teh......" akhirnya Endun mengomel. "Bukan ngeledek. Tapi begitulah nasib si miskin. Sekarang ini hukum lagi ditegakkan, tak pandang bulu siapa saja salah siapa melanggar aturan pasti ditindak. Celakanya, yang mudah ditindak mah, malah yang kecil-kecil aja. Hampir saban waktu si kecil mah ditindak. Rumah liar dibongkar sebab menghuni tanah milik negara, pertanian liar ditindak sebab gunakan tanah milik negara, kios liar diberangus, sebab gunakan trotoar milik negara..." "Padahal mah, Mang....." "Padahal apa, Endun?" "Selama negara belum sanggup sejahterakan rakyat kecil mah, atuh kasih toleransi." "Toleransi apa?" "Iya, yang bikin kejahatan kecil-kecilan mah atuh diampuni we, jangan dihukum. "Koruptor deuleu yang dihukum mah. Belum dengar tuh ada pedagang kaki lima dijebloskan ke bui gara-gara bikin kejahatan jualan di emper?" kata Madhapi. "Betul kalo nggak nyampe dijebloskan ke bui mah. Tapi dengan diberangusnya dagangan mereka dengan dihancurkannya kios-kios mereka, eta sarua jeung dihukum mati. Sebab, dengan hancur-leburnya sarana usaha mereka, sama dengan disuruh mati kelaparan. Kejahatan mereka teh dosa mereka teh, teu pira pingin pertahankan perut keluarga jangan lapar, bukan pingin kaya tujuh turunan. Mang!" kata Endun melenguh sedih. "Nyaeta dilematis, euy. Rakyat kecil dibiarkan berlaku semau gue, kerjanya melanggar dan melanggar. Kota jadi kumuh, sampah di mana-mana, solokan kapendet trotoar heurin, jalan menyemprot, copet merajalela, memalak dan pemeras semakin beringas, semuanya rakyat kecil euy! Bikin rumah liar di bantaran sungai membahayakan umat, membuka hutan jadi pertanian, membahayakan umat, demontrasi merusak tiang-tiang jaringan SUTET membahayakan umat, demo menuntut kenaikan UMR membahayakan umat, ngamuk minta perusahaan di Freeport ditutup, membahayakan umat." "Umat yang mana?" "Ari ilaing....... Memangnya pejabat, mantan pejabat, pengusaha gede, eta bukan umat? Mereka juga sama manusia euy! Hidupnya musti dilindungi!" "Ngaco ah! Wong cilik yang musti dilindungi mah!" "Naha atuh wong ciliknya beringas aja?" "Eta mah bongannya pemimpin atawa yang mengaku pemimpin. Udah dipilih, udah dipercaya, nggak sanggup mengangkat hidup wong cilik, jadinya wong cilik dibiarkan nyari penghidupan sendiri-sendiri dan kelayaban pertahankan hidup semaunya," bantah Endun. Mendengar ini, Madhapi terkekeh-kekeh. "Kenapa ketawa?" "Iya Mamang jadi ingat zaman kampanye dulu, saban parpol saban calon pemimpin berkoar dan tempatkan diri sebagai pembela wong cilik." "Tuh, bohong, kan?" "Ah, nggak bohong." "Lho?" "Kan yang dia dekati itu wong cilik. Keberadaan mereka itu lantaran keberadaan wong cilik." "Lantas?" "Kalo wong ciliknya naik status jadi wong besar, lalu di musim kampanye nanti mereka mau bela siapa?" "Oh, jadi maksud Mamang, siapa pun sebenarnya nggak bermaksud ubah status wong cilik jadi wong besar. Jadi supaya mereka tetap idup, kira-kira ini musti tetap jadi, wong cilik gitu?" Madhapi tidak menjawab kecuali ketawa hahah-heheh.*** http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
