Dedi T Karminta, Melawan Serbuan Produk China

buyung W Kusuma

Mengeluh atau diam karena pelanggan beralih ke produk lain hanya
membuat kita semakin hancur. Pasar harus dipertahankan dengan
memberikan sesuatu yang baru kepada konsumen, ujar Dedi T Karmita
ditemui di pameran industri kecil dan menengah di Departemen
Perindustrian di Jakarta, pekan lalu.

Kalimat itulah yang menggambarkan kegigihan Dedi untuk melawan serbuan
produk tekstil dari China yang menggerus industri tekstil nasional.
Garmen China yang jauh lebih murah, desain, dan mutu yang lebih baik,
membuat konsumen tak melirik lagi produksi dalam negeri.

Semangat untuk bertahan telah mendorong Dedi lewat perusahaannya,
Berkat Textile, untuk menciptakan kreasi kain gaun dengan lukisan
kembang pada tahun 2003. Lewat pemikiran keras dan serangkaian
eksperimen yang melelahkan, akhirnya berhasil menciptakan karya yang
dapat digunakan untuk merebut pasar yang belum tersentuh oleh produk
China.

Awalnya, Dedi diam-diam melakukan uji coba melukis di atas kain yang
sebelumnya hanya dibordir. Upayanya selalu gagal karena kain yang
dilukis selalu rusak saat dicuci sehingga tidak mungkin dilepas ke
pasar. Lalu dia menemukan cat khusus buatan Jerman, yang ternyata bisa
membuat lukisan di kain tidak luntur. Kemudian, dia memulai produksi
secara komersial, meskipun hasilnya belum langsung memuaskan pasar
karena konsumen belum terbiasa dengan kain yang dilukis dengan kembang.

Bahkan saya berkesempatan pameran di Malaysia, tetapi kain dengan
lukisan tidak mendapat peminat di negara tersebut. Akhirnya, pulang
hanya dengan mengantongi kontrak penjualan baju koko dan mukena, ujarnya.

Kesedihan karena kainnya tidak laku di Malaysia tak membuat Dedi putus
asa. Justru ia langsung menyempurnakan ciptaannya dengan memberikan
tambahan manik- manik dan greater agar lukisan pada kain tidak
terkesan terlalu dove.

Meskipun mengaku tak pernah mengekspor, produk Dedi telah menembus
pasar di Timur Tengah melalui jasa seorang teman yang punya hubungan
dagang. Namun, Dedi hanya konsentrasi di pasar domestik, terutama di
Kalimantan dan Sumatera.

Walaupun hanya menjual di tiga toko miliknya yang terdapat di
Cigondewah dan Pasar Baru Trade Center Bandung, omzet penjualan pernah
mencapai puluhan juta per toko per bulan. Saat ini omzetnya merosot
akibat menurunnya daya beli masyarakat setiap bulan

Tidak ada kata berhenti

Kreativitas tidak pernah berhenti, Dedi terus melakukan invasi dengan
memperbaiki desain maupun ragam dari produk kain lukis ciptaannya.
Setidak-tidaknya setiap bulan ada satu produk baru yang ingin
diluncurkan. Sekarang sudah ada pasar, tinggal melakukan pengembangan
produk yang lebih bagus dan menarik agar konsumen tidak beralih ke
produk lain. Kita harus terus mencoba hal-hal yang baru, misalnya
mengganti kain, warna cat atau tambahan pada lukisan, ujar Dedi.

Terakhir yang luncurkan Dedi adalah lukisan pada sutra troso yang
selama ini digunakan oleh perajin batik tulis di Jawa. Tetapi ia
memesan yang sudah diwarnai sesuai tren pasar, kemudian diberikan
lukisan kembang. Produk sutra troso, menurut Dedi, lumayan diminati
oleh pasar. Ketika baru diluncurkan sudah bisa mendapatkan pasar 100
lembar per bulan. Bahkan, kain dengan bahan dasar itu bukan cuma
menarik dijadikan gaun, tetapi juga bisa dibuat pakaian koko.

Sebelumnya, Dedi membuat kain berlukis dengan bahan dasar kain serena,
serat nanas, sifon, dan hifon. Akan tetapi, hanya satu yang tidak bisa
dilukis, yakni kain organdi karena lukisan tidak bisa menempel.

Jual kiloan

Sebelum terjun ke bisnis tekstil pada tahun 1998, Dedi bekerja sebagai
seorang sopir. Setelah krisis ekonomi tahun 1998 ia kehilangan
pekerjaan, ia kemudian memulai usaha kecil-kecilan dengan menjual
bahan kain kiloan Cigondewah, Bandung.

Ketika di antara bahan yang dijual kiloan terselip kain yang relatif
masih bagus, dia langsung berpikir untuk memberikan nilai tambah. Hal
yang pertama dilakukan adalah memilah-milah bahan yang menarik,
kemudian dibawa ke tukang bordir lalu dibuat gaun atau pakaian Muslim.

Ternyata, bisnis baru tersebut memberikan penghasilan yang lumayan
besar sehingga dia beralih menjadi produsen garmen dengan bordir. Akan
tetapi, ketika usahanya makin besar, dia kemudian hanya menjual bahan
kain karena banyak pakaian jadi yang tidak laku. Waktu itu saya
berpikir lebih baik menjual kain saja karena ukuran wanita Indonesia
tidak ideal. Ada ibu-ibu yang tangannya M, tetapi ukuran pinggangnya
L. Jadi, sulit kalau menyediakan gaun jadi, ujarnya.

Dedi tidak pernah berhenti berinovasi dalam menjalankan usahanya
dengan bantuan 100 orang tenaga kerja. Semua perubahan yang dibuat itu
dilakukan guna mempertahankan pasar di dalam negeri yang sebenarnya
memang sangat besar.






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke