Kemurtadan yang Niscaya dan Globalisasi Dakwah
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
20/03/2006

Pindah agama biasa disebut sebagai konversi. Ada dua model konversi:
internal dan eksternal. Konversi internal adalah peristiwa yang hampir
lazim terjadi dalam semua agama. Ia terjadi saat seseorang pindah dari
mazhab dan perspektif tertentu ke mazhab dan perspketif lain, tetapi
masih dalam lingkungan agama yang sama. Seseorang yang semula
"fundamentalis" berubah jadi "moderat" atau sebaliknya, pada dasarnya
telah melakukan konversi, tetapi dalam batas-batas agama yang sama.

Dengan makin membludaknya pilihan-pilihan "pendekatan" dalam memahami
agama (Islam, misalnya) saat ini, maka peristiwa konversi internal
hampir merupakan kejadian yang lazim terjadi setiap saat. Seorang
sosiolog agama dari Boston University, Peter Berger, bahkan menyebut
salah satu ciri modernitas adalah munculnya gejala "heretical
imperative", gejala kemurtadan yang niscaya. Murtad di sini dimaknai
menyimpang dari pandangan yang dominan dalam sebuah agama.

Sekarang ini, seseorang bisa dengan mudah menjadi "koki" agama untuk
dirinya sendiri. Maksudnya, dia bisa meracik ramuan "agama" dari
pelbagai sumber, entah kiai, buku, majalah, koran, atau ceramah di TV
dan radio, lalu memasak bahan-bahan itu menjadi "menu" baru yang pas
untuk dirinya sendiri.

Dalam satu aspek, dia bisa ambil dari Quraish Shihab, dari aspek lain
kulakan dari Kang Jalal, sementara di aspek lainnya lagi bisa mencomot
dari MUI, lalu bahan-bahan itu ia olah sendiri menjadi "model Islam
baru" yang "customized" dan pas benar dengan ukuran hati dan pikiran
dia sendiri. Semua orang, sekarang, makin cenderung memiliki agama
yang pas buat dirinya sendiri, hasil dari racikan yang ia buat sendiri.

Bentuk-bentuk Islam yang sudah "cutomized" itu tak perlu disuarakan
secara publik ke luar, tetapi umumnya tersimpan sebagai rahasia
pribadi antara orang berangkutan dengan dirinya sendiri dan Tuhan. MUI
tak meungkin berkuasa mendikte jenis Islam apa yang harus diyakini
oleh masing-masing individu pada wilayah yang sangat privat ini.

Karena bahan bacaan yang makin meluas, atau pengalaman hidup yang
baru, orang bisa mengocok kembali racikan yang ada, menambahkan
racikan baru, membuang beberapa racikan lama yang sudah usang, lalu
menciptakan Islam baru yang lain lagi dan lebih pas dengan dirinya
yang sudah berubah itu. Dalam hal ini, ia telah melakukan proses
"swa-murtad", maksudnya, murtad dan menyeleweng dari "racikan Islam
lama" yang ia ciptakan sendiri, menuju racikan baru yang lebih cocok.

Begitulah, proses itu berlangsung terus sepanjang hidup orang modern.
Kita memasuki era "customized Islam", era di mana telah terjadi
heretical imperative.

Sementara itu, konversi eksternal terjadi jika seseorang pindah dari
satu agama ke agama lain. Konversi internal jauh lebih sering terjadi
ketimbang konversi eksternal. Yang terakhir ini biasanya terjadi dalam
situasi yang sangat khusus.

Saya kira, agama yang paling bersemangat melakukan konversi eksternal
saat ini adalah Kristen, terutama Kristen evangelis dengan beragam
denominasi. Rangking kedua diduduki Islam, terutama Islam Wahabi yang
didanai milyaran petro-dollar Arab Saudi. Rangking berikutnya adalah
Budha.

Jarang orang memperhatikan bahwa agama Budha juga salah satu agama
yang pesat perkembangannya di Barat saat ini. Yang menarik, penyebaran
agama Budha di Barat, terutama di AS, tidak terkait dengan kegiatan
proselitisasi yang agresif seperti kita kenal dalam Kristen. Agama
Budha dipeluk orang-orang Barat justru sebagai lifestyle baru yang
menggairahkan. Sebagaimana orang-orang dengan bergairah menyambut buku
Da Vinci Code, begitu pula tingginya entusiasme mereka menyambut agama
Budha, Dalai Lama, dan kebijaksanaan timur yang bersumber dari agama itu.

Kita mengenal gejala yang disebut New Age di mana unsur-unsur agama
Budha sangat berpengaruh di sana. Karena kejenuhan orang Barat
terhadap agama-agama terorganisir seperti Kristen, agama Budha bisa
menjadi alternatif yang menarik buat mereka, sebab agama ini (tidak
semuanya, tetapi beberapa sekte di sana) tidak terlalu peduli dengan
aspek kelembagaan.

Yang ditekankan adalah proses meditasi personal. Tidak ada "syariat"
di sana. Yang ada adalah "laku" atau "tarikat". Agama ini, diam-diam,
berkembang pesat di dunia Barat, dan tampaknya lebih cocok dengan
orang modern yang sudah lelah akan "institusi".

Di negeri-negeri luar Eropa atau Amerika, kegiatan proselitisasi
memang jadi masalah besar. Di Cina, dakwah Kristen mendapat rintangan
dan tekanan luar biasa dari pemerintah komunis. Di India, reaksi atas
Kristenisasi juga luar biasa keras. Di semua negara Timur Tengah,
aktivitas Kristenisasi tak bisa berkembang dengan leluasa karena
resistensi pemerintah atau masyarakat setempat. Di Asia Tenggara,
seperti Burma, Vietnam dan Kamboja, Kristenisasi juga mendapat reaksi
yang tak kalah keras dari masyarakat Budhis di sana.

Kristenisasi yang paling sukses di Asia terjadi di Korea Selatan.
Bahkan, Korsel telah berhasil melahirkan gereja-gereja baru yang
berbasis kultur Korea dan memunculkan genre Kristen baru yang boleh
disebut "Koreo-Christianity".

Secara umum, agama Kristen merosot total di Eropa, tapi mengalami
re-invogorasi di negeri-negeri dunia ketiga, terutama di Asia, Afrika
dan Amerika Latin.

Agama Islam sendiri, sebetulnya, juga tak kalah agresif dalam kegiatan
proselitisasi. Seperti yang telah saya sebut, Arab Saudi adalah negeri
yang paling bersemangat mendakwahkan Islam model Wahabi ke seluruh
penjuru dunia. Tetapi, banyak orang lupa, ada sejumlah proselitisasi
Islam yang dilakukan oleh kelompok-kelompok "swasta" atau
organisasi-organisasi mandiri seperti Ahmadiyah dan Jamaat Tabligh.
Banyak yang tidak tahu, proses Islamisasi di Afrika terjadi dengan
sangat sukses berkat dakwah yang dilakukan Jamaah Ahmadiyah dan Jamaat
Tabligh.

Jika melihat gejala proselitisasi ini secara global, sesungguhnya kita
sedang melihat proses makin intensifnya gejala dakwah agama dalam
semua agama di tingkat dunia. Dengan mengecualikan sejumlah agama
lokal yang sifatnya sangat terbatas, kita melihat semua agama saat ini
melakukan proselitisasi dengan satu dan lain cara. Proses
proselitisasi makin menjadi fenomena global. Globalisasi dakwah adalah
gejala yang makin umum, dan sebetulnya merupakan bagian dari gejala
globalisasi dalam makna yang luas.

Sebagaimana kita tak bisa menghindar dari "tempias" berita-berita yang
disiarkan CNN; atau lebih tepatnya lagi, sebagaimana kita tak bisa
menghindar dari Microsoft, begitu juga kita tak bisa menghindar dari
gejala globalisasi dakwah.

Ulil Abshar-Abdalla, mantan Koordinator Jaringan Islam Liberal





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke