Ari 'kekerasan' naon BS na nya? :(

Kekerasan, Milik Siapa?

Radhar Panca Dahana

Tampaknya kekerasan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup kita.
Kekerasan adalah salah satu ekspresi peradaban kita. Bahkan bagi
sementara pihak, kekerasan—untuk sementara—identik dengan Islam, agama
yang kebetulan menjadi sumber identifikasi kita juga. Namun, betulkah
semua itu bernama kekerasan?

Jika benar, benarkah semua kekerasan itu sama? Jika juga benar, adakah
kekerasan itu milik kita semua? Jika pun benar lagi, apakah semua ia
memang berakar dalam tradisi kita, dalam sejarah kita, dalam cara kita
meneguhkan eksistensi?

Beberapa pertanyaan bertingkat ini sesungguhnya akan memberi kita
bantuan memahami kekerasan, sebagai terma yang kini begitu dominan,
setidaknya untuk tidak membiarkan kita tenggelam dalam pemahaman yang
bias dan keliru terhadapnya. Dengan begitu kita tidak terjebak dalam
simplifikasi, yang pada akhirnya berupa tudingan, hujatan, atau
klaim-klaim yang tak perlu.

Dalam bentuknya yang kerap hampir serupa, bahkan dalam modusnya,
sesungguhnya kekerasan memiliki latar dan tipologi yang berbeda. Di
sini, juga di sana; di negeri ini maupun di negara eksportirnya.
Secara sederhana, kita bisa melihat kekerasan dalam tiga tipe berdasar
latar historisnya.

Pertama adalah kekerasan lokal atau tradisional, sebagai potensi yang
dimiliki komunitas atau suku bangsa mana pun. Bentuknya lebih banyak
bersifat defensif dan mencuat ketika integrasi atau hal-hal yang
dianggap suci dari komunitas itu terasa terancam. Maka, sebuah
kelumrahan, satu nature dari makhluk hidup, jika kemudian ia bertahan,
juga melalui kekerasan.

Kecenderungan ofensif biasanya kecil dan langka diungkapkan. Kecuali
ketika komunitas itu dipimpin oleh satu elite yang memiliki nafsu atau
ambisi "berlebih" (melebihi batasan-batasan sosial, politik,
demografis, geografis, dan kulturalnya). Dari sini muncul
bangsa-bangsa penakluk, seperti Roma, Arab, dan Turki di barat dunia,
atau Mongol, Jawa, dan Jepang di timur dunia.

Tak ada yang salah pada kategori ini. Bumi berputar, sejarah berjalan,
kebudayaan disusun dan peradaban kita terima sebagai risiko. Lalu ilmu
merayakannya. Kekerasan memang ada, tetapi manusia (dulu) mengerti
bagaimana mengelolanya.

Kekerasan bangsa

Pada bentuknya yang kedua, kekerasan mengambil kedua bentuk lokal di
atas untuk menjadi modus pembentukan komunitas yang lebih besar,
sebuah bangsa atau negara. Tak ada sejarah negeri di muka bumi ini
yang tidak diwarnai kekerasan dalam riwayat pembentukannya. Bahkan
Amerika Serikat, perjuangan demokrasi dan demokratisnya berlangsung
melalui kekerasan, yang di beberapa tempat sungguh biadab. Bahkan
Hollywood pun merayakannya melalui The Gangs of New York (Martin
Scorcese, 2004), misalnya.

Di beberapa negara, gerak pembentukan negara bebas ini mengambil
semangat ofensif kolektif, seperti yang dilakukan beberapa bangsa yang
disebut di atas. Sebagian lagi mengaktualisasi kekuatan defensifnya
untuk meraih kemerdekaan sebagaimana riwayat negara-negara terjajah di
Asia dan Afrika sepanjang abad ke-20 yang lalu. Kekerasan di sini,
juga perang di dalamnya, memang bukan bagian dari kearifan lokal,
namun dapat dianggap lumrah karena ia ada dalam logika modern
pembentukan bangsa yang bahkan piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa pun
kemudian ikut merayakannya. Senjata, darah, dan nyawa tampak sebagai
hal biasa—bahkan perlu terjadi—dalam upaya satu bangsa menegakkan
independensi, kebebasan dan kemerdekaannya.

Kedua bentuk atau tipe kekerasan ini sungguh tidak ada urusannya
dengan apa yang kemudian terjadi di masa mutakhir. Dengan apa yang
kita sebut—misalnya—terorisme, baik yang dilakukan satu kelompok atau
satu negara. Tak ada hubungannya dengan ekspresi politik yang penuh
kekerasan, baik di jalan, dalam partai, gedung parlemen, atau
ruang-ruang lobi yang menegosiasikan kepentingan.

Dua kekerasan itu pun tidak bertalian dengan kekerasan sistemik,
kekerasan adab modern, yang bahkan dilakukan oleh negara. Semacam
kekerasan diktatorial yang dilakukan beberapa pemerintahan negara
berkembang. Atau kekerasan konstitusional yang dilakukan negara-negara
maju dan demokratis, melalui produk parlemen atau kebijakan pemerintah
yang hasilnya tidak lebih dari eksploitasi, bahkan penindasan
tersembunyi rakyat yang mestinya ia bela dan ia patuhi.

Kekerasan demokrasi

Tipologi ketiga adalah tempat bagi kekerasan mutakhir. Kekerasan yang
problematis. Bukan problem di dalam kekerasan itu sendiri (yang telah
menjadi nature dari adab dan budaya kita), namun bagaimana kekerasan
itu diproduksi baik pencitraan, modus, bentuk, maupun
tujuan-tujuannya. Satu latar yang diisi oleh perkembangan mutakhir
ilmu dan teknologi serta praksis politik, ekonomi, dan sosial yang
menyertainya. Praksis yang kita mengerti benar, "permainan-permainan"
berskala global ada di dalamnya.

Tiga latar budaya modern dapat kita sebut bertalian dengan kekerasan
mutakhir. Yang pertama adalah sebuah istilah yang kini telah menjadi
"agama" tersendiri, ketika hampir seluruh umat berbangsa di bulat bumi
ini mengucapkan "amin" untuk mempraktikkannya: demokrasi. Sebagai
sebuah modus, sistem, cara berpikir, paradigma, atau apa pun,
demokrasi tidak hanya menawarkan keselarasan, kedamaian, dan
kesejahteraan bagi problem-problem kemasyarakatan modern, tapi juga
kekerasan.

Sebagaimana sejarah Amerika yang tersebut di atas, sejarah
Prancis—yang dianggap sebagai atletik dalam olimpiade demokrasi
ini—pun membangun dirinya dengan kekerasan. Dengan guillotine sebagai
simbol awal kehadirannya. Demokrasi harus dibangun dengan kekerasan,
dengan darah, korban, dan senjata. Hingga hari ini. Sampai pada satu
titik, demokrasi menjadi klaim bagi apa pun dan siapa pun yang coba
menegakkan kepentingan lokalnya masing-masing.

Demokrasi pun adalah cara yang keras. Bukan hanya untuk menegakkannya
saja, tapi juga untuk menjalankannya. Kita jarang dipertemukan dengan
demokrasi yang berwajah lunak, ramah, santun, dan bersahaja. Tapi
keras, bahkan hingga baku hantam, baku ancam, baku sogok, hingga baku
senjata. Kekerasan tidak lagi berdimensi fisik, tapi juga
psikologis/mental, bahkan spiritual.

Ekspresi-ekspresi demokrasi yang paling umum dinyatakan—dalam
demo-demo di jalan, misalnya—memiliki bentuk kekerasan yang universal.
Negeri ini mengenalnya sejak 1960-an, 1970-an, dan secara ekstrem di
dekade belakangan. Semua hanya semacam mode saja, fashion, yang
produsen adibusananya juga dari negeri yang mengklaim dirinya sebagai
pionir dan superhero demokrasi. Tidak lebih.

Dalam sebuah negeri, dengan tingkat kecerdasan intelektual minim,
dengan sejarah kekerasan yang laten, puluhan tahun memendam emosi, dan
impitan hidup kontemporer yang menyiksa, "wajar" saja bila ekspresi
kekerasan itu mencapai tingkat radikal atau ekstremnya. Tapi itu hanya
tiru-meniru. Hanya pola konsumsi. Seperti kita mengonsumsi celana jins
dengan membabi buta. Yang penting bermerk "lepis", terserah ia buatan
Cipulir, Cibaduyut, atau desa kecil di Kongo sana.

Kekerasan kapital

Latar kedua adalah kekerasan yang diproduksi oleh nafsu menciptakan
hegemoni, berdasar kepentingan nasional dan kapital (yang bisa
bersifat global). Latar ini memainkan moda, logika, dan instrumen
tercanggih yang dihasilkan peradaban teknologi modern. Kekuatan fisik
memainkan peran penting, namun kekuatan pencitraan menjadi senjata
utama. Teknologi mediatik nyata-nyata berada di front terdepan,
diikuti drama-drama militer, kemudian penerapan skenario politik dan
pada akhirnya akuisis ekonomis pada sumber-sumber daya dari satu
bangsa yang tertaklukkan.

Latar ini memang berasal dari potensi kekerasan ofensif tradisional,
mengambil bentuk terkini dan sangat modern. Sebagai contoh, perang
Irak yang berhasil menumbangkan Saddam Hussein. Perang itu sebenarnya
sudah usai ketika pasukan aliansi Amerika memasuki perbatasan Irak dan
membombardir dengan kejam kota-kota berperadaban tua itu. Aksi militer
ini, selain satu drama, juga memiliki kepentingan bisnis (senjata)
yang nilainya bisa membiayai hidup 250 juta rakyat Indonesia puluhan
tahun.

Jauh sebelum aksi militer itu, perang pencitraan melalui berbagai
media massa dan komunikasi berlangsung dengan kemenangan telak ada di
Amerika. Cyber war. Publik dan persepsi dunia dipelintir sedemikian
rupa sehingga memiliki pengertian dan kesan yang bias tentang
kemampuan pertahanan (militer) Irak: seolah Saddam begitu kuat,
digdaya, sehingga ia menjadi ancaman.

Aksi militer yang kemudian terjadi membuktikan, hanya kurang dari
seminggu, Baghdad habis. Irak adalah macan yang dikertaskan. Perang
citra (cyber war) menciptakan legitimasi dunia bagi sebuah penaklukan
ala Kublai Khan, Iskandar Agung, Napoleon, atau para kalifah
Abbasiyah. Satu modus yang sebenarnya bisa juga dibaca di Irak
belakangan, Uni Soviet dulu, banyak negara Afrika, dan juga—tentu
saja—di negeri ini.

Latar dan logika ini juga yang memainkan game-nya pada apa yang kita
sebut "terorisme", termasuk "Islam sebagai agama kekerasan dan penuh
teror". Rekayasa pencitraan dilakukan semata untuk penaklukan pada
akhirnya. Kekuatan distribusi media yang gigantik seperti kabut hitam
yang segera menutup identitas sebenarnya dari (satu negara) Islam.
Kekerasan Islam dalam sejarahnya, yang merupakan bentuk tradisional,
semacam perlawanan tradisional terhadap kesewenangan, tertutup kabut
citra baru yang hitam, di mana logika-logikanya dipilin dengan cerdas
untuk menjustifikasi citra baru itu.

Kekerasan mata gelap

Maka, tertipulah kita jika menyangka kekerasan yang ada sekarang
identik dengan potensi kekerasan tradisional kita. Inilah sebab yang
menyebabkan latar ketiga muncul. Di mana "kebebasan" yang kita raih,
"demokrasi" yang kita rayakan, ekspresi modern yang kita sangka modus
eksistensi (semacam demo yang merusak, membakar, hingga bentrok
fisik/senjata), sebenarnya tidak lain adalah produk sampingan dari dua
latar yang terurai di atas.

Sebagai bangsa tetiron, raksasa konsumtif, dan negara yang kehilangan
ide genuine-nya, segala bentuk plastis dan artifisial (bahkan devian)
itu kita mamah seolah ia menjadi substansi dari cara hidup modern.
Semakin kuat praktiknya semakin demokratis tampaknya.

Untuk itu, potensi kekerasan (tradisional) yang terpendam pun
dioptimalkan. Frustrasi publik karena mengalami kekerasan negara,
ketidakberdayaan saat menyadari dirinya menjadi korban permainan
global, menciptakan sirkus dan siklus kekerasan, yang pada tingkat
fisik, sungguh memprihatinkan. Mata kita pun jadi gelap karenanya.

Jika kekerasan bermata gelap ini sudah kita lakukan secara kolektif,
siapa kemudian dapat menyelamatkan? Perlukah Soekarno lahir kembali,
atau Imam Mahdi, atau nabi baru? Atau kembali kita mengharap "bantuan
asing"? Ah..., kenapa kita begitu invalid, hingga untuk menolong diri
sendiri pun kita sudah tak mampu. Begitukah?

Radhar Panca Dahana Sastrawan, Mengajar Sosiologi Budaya di S-1 dan
S-2 Universitas Indonesia

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/25/humaniora/2502799.htm






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke