Negeri yang Luka
Oleh SOEROSO DASAR

SYAHDAN, dahulu ada syaikh yang hidup di pantai, sederhana, sufi,
punya pesantren, dia juga seorang nelayan. Sekembalinya melaut, daging
ikan hasil tangkapannya dibagikan kepada orang lain, kepala dan
tulangnya saja yang dimakan. Oleh karena itu ia dikenal dengan julukan
"Syaikh Kepala Ikan".

Suatu ketika, seorang muridnya hendak pergi berdagang ke Mursia
(Spanyol). Kebetulan syaikh mempunyai seorang guru sufi besar di sana.
" Tolong mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasihatnya
untukku'". Pesan syaikh ketika melepas muridnya. Sang murid
membayangkan bertemu dengan orang tua, berjanggut panjang, miskin,
kurus, dan kucel. Tetapi sebaliknya, guru Syaikh Kepala Ikan tersebut
mendiami sebuah rumah mirip istana, pelayan dan sajian buah buahan
lezat. Sang muridpun tercengang heran." "Bilang sama Syaikh Kepala
Ikan, jangan terlalu memikirkan dunia".

Nasihat syaikh dari Mursia, yang semakin membuat keheranan sang murid.
"Syaikh Akbar dari Mursia itu benar. Menjalani hidup sufi bukan
berarti harus hidup miskin," kata Syaikh Kepala Ikan. Karena menjadi
orang kaya, tidak mesti jauh dari kehidupan sufi. Menjadi orang miskin
tidak otomatis mendekatkan seseorang menjadi sufistik. Syaikh Akbar
dari Mursia tersebut adalah Muhyi al-Din Ibn'Arabi. Sufi besar dan
cemerlang dalam sejarah perkembangan tasawuf, dermawan dan banyak
memanfaatkan tenaga orang lain. Juga nama lain seperti : Farid al-Din
al-Aththar, Junayd al-baghdadi, Al-Hallaj dan lainnya.

Dalam konteks kekinian, ada pertanyaan, mana lebih baik: Orang kaya
yang bersyukur dan membantu kepentingan orang banyak, atau miskin yang
sabar dengan kemiskinannya? Hidup bekerja keras mencari karunia Allah
di muka bumi, membantu para duafa dan mustadh'afin (fakir miskin dan
orang lemah), terasa makin relevan di masa sekarang dimana kaum duafa
semakin banyak jumlahnya terlebih sejak krisis multidimensi tahun
1997. Kondisi ini diperparah lagi dengan naiknya harga BBM beberapa
waktu yang lalu. Bukankah Khoiron naasi man yan fauna naasi.
(sebaik-baiknya manusia, adalah manusia yang punya arti dan manfaat
bagi manusia lainnya).

Mendorong dan membantu kaum papa di republik ini untuk mengejar
karunia Allah, yang kemudian mensyukurinya dan menggunakan untuk
keperluan pengembangan, kemakmuran bersama, adalah lebih tepat.
Semuanya ini untuk mengatasi diparsitas pendapatan dan kemiskinan,
yang demikian akut. Beberapa penggalan cerita tadi, disemangati (roh)
dan dikutip dari diskusi kecil penulis dengan rekan H.A. Darun Setiadi
(seorang kandidat Doktor Sosiologi Unpad), ketika merancang materi
pelatihan Manajemen berbasis etika dan spiritualitas, beberapa waktu
yang lalu.

Republik ini sekarang terluka, berdarah-darah. Kekerabatan, kerja
keras, dan kebersamaan yang merupakan kekuatan dahsyat tercabik sudah.
Yang muncul adalah bagaimana kepentingan diri sendiri dapat
terpuaskan. Kearifan, musyawarah, kepala dingin, mengutamakan
kepentingan orang lain, semakin sulit ditemukan. Negeri yang terkoyak
itu tersiksa dengan tingkah laku aparat (korupsi, kolusi, dan
nepotisme) kian menjadi pada era otonomi daerah. Kini malapetaka baru
terkuak, hampir 1000 rekening negara ada di tangan pejabat, bahkan ada
yang masih dipegang oleh keluarga pejabat, sedangkan pejabat tersebut
sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Betapa memilukan melihat realitas
ini. Pada sisi yang lain, negara ini dihakimi oleh rakyatnya sendiri
dalam bentuk berbagai demonstrasi, rusaknya lingkungan, tawuran
antarkelompok, apatisme, merosotnya disiplin, konsumerisme, boros,
yang mengeluarkan begitu banyak ongkos sosial (social cost).

Negeri yang gemuk, tegap dan sehat dahulu itu, kini kurus, lapar,
sakit, didera musibah, keberatan hutang, disintegrasi, berjalan
tertatih-tatih dan mengucurkan darah. Indonesia yang terkulai layu,
merintih, sedih, berduka, siapa yang akan mengobatinya kalau bukan
kita sendiri.

Kemiskinan, sebagai refleksi dari tingkat pengangguran yang tinggi,
kelaparan, kekurangan gizi, kebodohan, kriminalitas, begitu mencuat di
permukaan pada dekade belakangan ini. Tragis memang, apabila kita mau
simak ucapan Presiden Soekarno ketika berbicara pada Konferensi
Colombo Plan tahun 1953 di Yogyakarta : Kalau kita tidak bisa
menyelenggarakan sandang pangan di tanah air kita yang kaya ini, maka
sebenarnya kita sendiri yang tolol, kita sendiri yang maha tolol. Saat
ini republik tercinta : masih impor beras, kedelai, buah-buahan,
daging, susu, dan hasil produksi pertanian lainnya. Betapa setelah 53
tahun ucapan bersayap Soekarno itu perlu direnungkan.

Kemiskinan yang selama ini berlangsung, dikhawatirkan bukan karena
kesalahan operasional, namun karena sesuatu hal yang lebih dalam lagi
yakni kekeliruan filsafat, pada perangkat aksiomatika yang mendasari
teori-teori ekonomi dijalankan. Suatu hal yang perlu kita jelaskan
adalah bahwa kemiskinan bukan hanya pangan, papan dan pakaian.
Melainkan kemiskinan ilmu, moral, estetika, rekreasi dan lain
sebagainya. Karenanya memerangi kemiskinan negeri ini harus bersamaan
antara membangun moral dan ilmu pengetahuan, ekonomi, kesempatan
kerja, dan lainnya tanpa meletakkan skala prioritas.

Kita harus mulai mengindahkan secara serius aset manusia (intangible)
seperti : talenta, kejujuran, kerja keras, ketrampilan, kompetensi,
disiplin, santun, kerja sama, berpikir strategis. dan lainnya. Menurut
Robert Kaplan dan David Norton dari Universitas Harvard (The Balanced
Score Card), penanganan intangible asset ini lebih strategis, untuk
memenangkan persaingan global. Banyak negara maju yang tidak mempunyai
tangible asset, tapi memiliki intangible asset yang baik. Sebaliknya,
banyak negara yang mempunyai asset tangible dengan potensi alam yang
melimpah ruah namun menjadi negara miskin.

Usaha-usaha yang lebih konkret untuk memberantas kemiskinan dan
meratakan hasil pembangunan perlu perhatian besar. Namun membuat usaha
tersebut menjadi program yang konkret, tidaklah sesederhana dan
semudah yang direncanakan. Antara lain yang sering dikonstatasi adanya
perbedaan tingkat kesejahteraan masyarakat di kota dengan masyarakat
di perdesaan. Desa selalu dieksploitasi oleh masyarakat kota, sebagai
sumber supply bahan mentah hasil sektor pertanian, atau sumber kuli
murahan.

Penghisapan parasitis pun terjadi antara desa-kota, dan kemiskinan di
desa memunculkan utopia atau mimpi-mimpi yang tak kunjung tiba. Hal
ini menimbulkan perkembangan saling ketergantungan yang asimetris.
Dalam proses pembangunan, dikenal 2 (dua) konsep tentang utopia.
Pertama, utopia sekuler yang mengharapkan datangnya suatu dunia baru,
melalui pembentukan kemauan yang keras dan usaha yang keras. Kedua,
utopia spiritual, yang mengharapkan dunia baru melalui perbuatan dan
kekuatan Illahi. (Frank E. Manuel, Toward a Psycological History of
Utopia).

Dari kedua konsep utopia diatas, ada persamaan yakni kerinduan
perubahan di masa depan. Namun abad emas sektor pertanian yang
diharapkan dari radikalisme agraris, dalam pandangan utopis sebagai
pemanfaatan rakyat yang terus menderita dan kemiskinan, tidak
terbukti. Limpahan makanan, pangan, pakaian, di mana pemerataan lebih
terjamin semakin menjauh. Bahkan negeri ini sedang membagikan uang
sebagai kompensasi dana BBM kepada orang miskin. Tidak mampu
memberikan kail, tetapi ikannya, refleksi dari kebuntuan konsep.

Betapa buramnya potret kemiskinan dan ketimpangan pendapatan di negeri
ini. Pengangguran yang tinggi, setengah pengangguran di perdesaan
serta sektor informal di perkotaan, pengangguraan terbuka khususnya di
perkotaan telah mencapai dimensi yang begitu gawat. Maka diperlukan
peninjauan kembali tentang strategi pembangunan kita (ILO, Meeting
Basic Needs, Strategy for Eradicating Mass Poverty and Undevelopment).

Kemerosotan moral menjadi sempurna ketika payung hukum yang merupakan
sandaran terakhir rakyat bocor. Lengkaplah darah dan penderitaan
republik ini saat benteng moral dan manusia yang berada di lembaga
penegak hukum runtuh. Seolah-olah muncul suatu fenomena kehidupan :
biarlah yang lain hancur yang penting saya bisa tegak. Biarlah yang
lain miskin, yang penting saya kaya. Biarlah yang lain menderita dan
sakit, yang penting saya sehat. Individualisme, yang lahir dari rahim
pembangunan itu sendiri, telah menyeret negeri ini ke lembah yang
lebih hina.

Hilang kebersamaan, hilang kemanusiaan, hilang persahabatan, hilang
adat ketimuran, hilang kesejukan. Yang menonjol adalah hedonisme,
anarkisme, kekerasan, konflik, aji mumpung. Bangsa ini seperti hilang
kendali, karena permusuhan da pertikaian muncul tidak berhenti.
Sebagai manusia Ilahi, kita tidak akan melangkah kecuali di jalan yang
benar padahal, sifat zuhud pun jangan kita jadikan pekerjaan untuk
mencari dunia. Tetapi pekerjaan sebagai ibadah untuk meraih pahala
akhirat. Apabila ahli dunia berterima kasih dengan memuji, anggaplah
itu sebagai dongeng. (Dr. 'Aidh bin 'Abdullah bin 'Aidh, 'Alli Majdu'
Al-harni: Cambuk Hati). Seorang Zahid (yang zuhud) bukan suatu pribadi
yang lemah yang hidup di bawah perintah penyembah dunia, dan terkadang
mengharapkan sisa makanan mereka. Tidak, tetapi yang dimaksud adalah
orang yang mempunyai derajat di atas para penyembah dunia, mempunyai
tingkatan ilmu dan pemikiran yang lebih tinggi dari mereka.
(Jejak-jejak Ruhani : Murtadha Mutahhari) Di mana mereka ahli
kebaikan, ahli ibadah, sufi, ahli zuhud, ahli sosial, seperti pribadi
Muhyi al-Din Ibn'Arabi, yang ada di Republik ini? Negeri yang tercinta
dan sekarang terluka, menunggu uluran tangan kita semua, bukan hanya
do'a, apalagi diam membisu dan menutup mata...***

Penulis, peneliti senior PPK-PSDM, Lembaga Penelitian Universitas
Padjadjaran Bandung.





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/

[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea]




SPONSORED LINKS
Spanish language and culture Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke