ASAL USUL

Orang Bijak

Mohamad Sobary

Di hadapan istrinya, Presiden Franklin Delano Roosevelt pada suatu
hari menerima seorang senator yang melaporkan suatu perkara
kontroversial. Sang Presiden mengangguk-angguk selama mendengarkan
laporan tersebut, dengan sikap simpatik.

"Kau benar senator," jawabnya sesudah senator itu selesai melapor.
"Ya, ya, kau benar."

Kemudian datang senator lain, yang juga melaporkan perkara tersebut,
dengan sudut pandang dan cara penilaian sebaliknya. Meskipun begitu,
Sang Presiden tetap dengan sikap simpatik menjawab:

"Kau benar senator," katanya. "Kau benar...."

First Lady, yang tak sabar menyaksikan sikap suaminya, segera
memprotes secara terus terang. Baginya, kelihatannya kebenaran harus
lebih diutamakan dalam menyikapi suatu persoalan dalam hidup, apa pun
persoalan itu.

"Franklin, kau setuju pada kedua senator yang mengutarakan pandangan
yang sangat bertentangan satu sama lain. Kau tidak boleh begitu."

Dan apa lagi jawab Sang Presiden kali ini? Dengan keteguhan hati
seperti semula, ia menjawab:

"Kau benar sayang," katanya lembut. "Kau benar...."

Saya memperoleh cerita ini dari buku Mayor Jenderal Audrey Newman,
"Ikuti Aku", seri I: Unsur Manusia Dalam Kepemimpinan.

Orang bijak memakai "topi" banyak. Maksudnya ia berganti-ganti "topi",
bukan untuk penyamaran, bukan pula tanda kemunafikan dan sikap
mencla-mencle. Topi, milik siapa pun, meneduhkan. Apalagi "topi" milik
orang bijak: "topi" kearifan hidup.

Presiden Roosevelt bukan filsuf, bukan sufi, dan karena itu dunia juga
tak mengenalnya sebagai orang bijak, tetapi jelas tak bisa diragukan,
pada hari ketika menerima kedua senator itu ia bersikap sebagai orang
bijak.

Seorang pemikir pluralis, yang melihat kompleksitas dunia, termasuk
dunia pemikiran, yang rumit dan kompleks, sering memberi kita kesan
bahwa sikapnya tak berpola, dan tak mengikuti logika suatu struktur
pemikiran baku dan konvensional. Ia memiliki logika yang tak lazimnya
bagi banyak kalangan.

Mereka yang melihat dunia ini dengan kacamata hitam-putih, dengan
logika benar-salah sesuai ajaran, terutama menurut kitab-kitab yang
penafsirannya diseragamkan dan dibakukan oleh otoritas penafsir
konvensional, yang menyembunyikan secara rapi kepentingan kelompok,
kepentingan gender dan kepentingan pribadi, sering marah-marah melihat
sikap pluralis macam itu.

Usaha memahami pilihan-pilihan cara menyelesaikan pertikaian dalam
hidup, juga dalam urusan pemikiran, termasuk keagamaan, sering tak
dapat disandarkan pada kebenaran sebagai ukuran tunggal. Tak jarang,
di sana kebenaran justru menambah sengketa makin parah.

Maka, bukan kebenaran yang kita butuhkan, melainkan "wisdom". Hidup
membutuhkan sikap bijak dan orang-orang bijak agar banyak kebenaran
yang bertingkat-tingkat, dan berwarna-warni, bisa hidup berdampingan
dengan nyaman, dan memberi banyak kalangan kekayaan khazanah cara
memahami dan mengolah hidup kita.

Kita sudah lama merdeka, tapi kita tak memerdekakan orang lain untuk
berpikir berbeda. Kita memberi kesempatan otonomi daerah dalam
pemerintahan, tapi bagaimana otonomi bisa berjalan baik kalau otonomi
pemikiran diharamkan, dan segala peraturan, termasuk peraturan daerah,
diseragamkan?

Orang bijak memiliki banyak tingkatan pemahaman akan kebenaran dan
punya banyak jawaban atas satu pertanyaan, tapi orang "teknis" selalu
mengira satu pertanyaan hanya memiliki satu jawaban. Lautan hidup yang
dalam diukur hanya dengan meteran.

Kita lupa bahwa kompleksitas dan kedalaman hidup, dengan segenap
misterinya, bukanlah urusan matematika. Selain ukuran-ukuran serba
pasti: kebijakan publik, hukum, peraturan, dan logika matematika,
hidup juga membutuhkan jernihnya hati dan spiritualitas yang mengalir
langsung dari sumbernya: cahaya Tuhan.

Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW sendiri pun pernah kelihatan keliru
jika tindakan beliau dilihat dari segi hukum (fikih) semata, ketika
suatu sore, menjelang magrib, sesudah selesai acara jamuan makan,
mewajibkan semua orang berwudu kembali tanpa menimbang mereka yang
sebetulnya masih dalam posisi suci karena terjaga air wudu.

Apa sebabnya? Hari itu ada salah seorang sahabat yang, maaf, kentut,
dan baunya tercium Nabi maupun sahabat-sahabat lain. Perbuatan itu
pasti tak disengaja. Dan karena itu bisa sangat memalukan. Ini suatu
aib, yang justru terjadi di hadapan Kanjeng Nabi yang mulia.

Maka, sekali lagi, beliau mewajibkan semua pihak berwudu lagi. Sehabis
makan, kali ini sebaiknya kita berwudu lagi, katanya. Dengan begitu,
siapa yang tadi, maaf lagi, kentut, tak ketahuan, dan yang
bersangkutan tak merasa malu di depan umum.

Nabi, kepala negara, pemimpin kehidupan, turun tangan mengurus perkara
sekecil itu. Kecil? Harga diri, dan rasa malu, karena aib terbuka,
dianggap kecil? Bagi etika kenabian, ini urusan besar.

Orang bijak tak bisa membiarkan orang lain malu. Apalagi celaka. Nabi
tahu, kalau Tuhan mau membeberkan aib dalam diri setiap orang, dan
orang yang kelihatan terhormat dan mulia pun aib-aibnya dibeberkan,
maka habislah riwayat setiap umat manusia, karena tiap orang memiliki
aib dirinya, yang melekat dalam sejarah hidupnya.

Kita, umat Nabi, yang memuliakannya, dan mengaku taat akan semua
ajarannya, dan siap sedia mencontoh segenap tindakan dan perilakunya.
Tapi mengapa banyak sekali di antara kita selalu sibuk menelusuri
kekurangan dan aib orang lain, untuk dibeberkan kepada publik, untuk
menjatuhkannya, dan menghancurkan namanya?

Bumi Sidoarjo kentut, dan saking kuatnya, mengalirlah dari perutnya
lahar yang siap menghabiskan kehidupan manusia seisi kota. Urusannya
sangat jelas: kentut itu bukan hanya membuat malu, melainkan mengancam
kelangsungan hidup manusia.

Tapi mengapa tak ada di antara kita "nabi" dan sikap "ke-nabian" yang
rela turun tangan untuk menunjukkan kepada publik bahwa kita
bertanggung jawab?

Apa membunuh banyak orang tak membuat kita malu? Mencelakai orang
menjadi perkara lumrah, dan tak harus diurus? Negara tak usah mengurus
perkara malu karena mungkin kita tak punya malu. Tapi negara wajib
mengurus tanggung jawab publik atas suatu peristiwa yang mengancam
keselamatan umat manusia.

Tak adanya tindakan apa pun yang kita harapkan ini membuat saya harus
tahu, bahwa orang bijak, apalagi sebijak Nabi, mahal sekali. Orang
bijak tak ada lagi di negeri ini. 





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke