Mengakrabkan Kembali Sandiwara Sunda

LAPANGAN sepak bola, Desa/Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang,
Sabtu (26/8) malam, padat dengan berjubelnya ribuan masyarakat. Mereka
seolah ingin mendapat tempat paling dekat dengan panggung untuk
menyimak pertunjukan kesenian langka berupa sandiwara Sunda, dari grup
sandiwara Miss Tjitjih.
PERTARUNGAN Raja Sumedanglarang, Raden Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun)
dengan musuh yang mencegatnya pada pertunjukkan Sandiwara Miss Tjitjih
di lapangan sepak bola Desa/Kec. Ujjungjaya Kab. Sumedang, Sabtu
(26/8) malam.*BIBING RUSMANA/GALURA

Pentas sandiwara di lapangan terbuka, seperti di Ujungjaya, memang
sudah menjadi hal yang sangat langka. Akibatnya, kehadiran pertunjukan
itu memikat ribuan masyarakat di sekitar Ujungjaya, untuk datang
berbondong-bondong menyaksikannya.

Warga begitu serius menyaksikan setiap adegan petunjukan yang
berlangsung sekira satu jam, meski mereka menonton berdiri, atau duduk
di atas rerumputan. Apalagi ketika pertunjukan memunculkan adegan
dagelan-dagelan, tak urung memunculkan reaksi tertawa para penonton.

Sartani (65) mengaku senang menonton pertunjukan tersebut. "Jarang
sekali pertunjukan seperti ini diadakan di Ujungjaya. Dulu, saya
pernah menonton sandiwara seperti ini di Indramayu dan sekarang saya
senang pertunjukan seperti ini diadakan di sini (Ujungjaya-red),"
tuturnya.

Teater rakyat berupa sandiwara, pada masa lalu pernah berjaya dan
memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Bahkan, hingga
pertengahan tahun 1970-an, sandiwara merupakan tontonan primadona bagi
masyarakat di pedesaan.

Pada masa itu, puluhan grup sandiwara tumbuh subur di Tatar Pasundan.
Grup-grup sandiwara pada masa itu biasanya menggelar pertunjukan ala
pengamen. Berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain hingga
menembus berbagai pelosok perkampungan di Jawa Barat.

Bak aktris, aktor, atau bintang sinetron pada zaman sekarang, tak
jarang di antara sekian grup sandiwara pada masa itu pun, telah
melahirkan dan memunculkan cukup banyak pemain sandiwara yang menjadi
idola masyarakat. Namun, seperti dialami kesenian tradisional lainnya,
kesenian sandiwara pun akhirnya tersisih kemajuan teknologi.

Sejak pesawat televisi mulai banyak dikenal dan dimiliki masyarakat di
Jawa Barat, juga dengan hadirnya gedung-gedung bioskop dan layar
tancap hingga ke pelosok-pelosok desa, kesenian sandiwara seolah kalah
bersaing. Peminat pertunjukan sandiwara pun, lambat laun seperti terus
melorot sehinga satu per satu perkumpulan sandiwara yang semula tumbuh
subur di Jawa Barat, terpaksa gulung tikar, tak ubahnya dengan nasib
kesenian tradisional lainnya.

Masyarakat penggemar kesenian sandiwara lambat laun juga seakan
tergiring larut menikmati dan bahkan menjadi penggemar berbagai
kesenian modern. Dalam era modern yang syarat dengan berbagai kesenian
berbasis teknologi, sandiwara menjadi jenis hiburan yang langka.

Rurukan (Tetua Adat) Masyarakat Adat Ujungjaya, Dr. H. Asep Sumaryana,
sebagai pihak pemrakarsa hadirnya pertunjukan sandiwara Miss Tjitjih,
berharap, pergelaran sandiwara tersebut bisa menggugah kembali
masyarakat untuk menggali dan memelihara kesenian tradisional dan
nilai budaya luhur yang pernah ada di daerahnya. "Kita coba mengangkat
nilai-nilai tradisi, termasuk kesenian tradisional, sebagai alat
refleksi kejenuhan masyarakat," kata Asep, yang didampingi Ketua
Yayasan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, Mayjen TNI Tubagus Hasanuddin.

Asep mengemukakan, jenis hiburan yang dikonsumsi masyarakat lewat
televisi dewasa ini telah banyak mencerabut tata nilai masyarakat,
sehingga menjauhkan kearifan dalam berperilaku. Sekalipun ada tayangan
sinetron yang berbasis tradisi, lanjut dia, namun kebanyakan
menonjolkan aspek mistik secara berlebihan. Sehingga, menisbikan
konsep nalar masyarakat yang seharusnya dibangun ke arah konstruksi
berpikir kritis dan logis.

Padahal, lanjut doktor ilmu agronomi itu, tema-tema cerita lokal yang
berbasis nilai tradisi tak sedikit yang layak diangkat ke layar kaca
dalam bentuk sineas. Misalnya, cerita Lutung Kasarung, Sangkuriang,
Mundinglaya yang sarat dengan filosofi. Menurut dia, jika digarap
secara profesional dalam bentuk kesenian, cerita-cerita rakyat
tersebut akan menjadi sebuah sajian hiburan bermakna, dibanding dengan
tema-tema picisan yang kini banyak ditayangkan televisi.

Melalui pementasan sandiwara Sunda Miss Tjitjih, menurut Asep,
merupakan upaya mengakrabkan kembali kesenian tradisional kepada
khalayak. Untuk itu, atas dukungan Ketua Yayasan Sandiwara Miss
Tjitjih, dalam pentas sandiwara Sabtu malam di Ujungjaya, pertunjukan
sengaja memilih dan menyajikan cerita tentang tokoh lokal Pangeran
Angkawidjaya, yang kemudian menjadi Raja Sumedanglarang dengan gelar
Prabu Geusan Ulun (1579 -1601).

Pada pementasan tersebut, tata panggung dan efek visual, tak banyak
melibatkan teknologi modern. Tampilannya seolah dibuat tak jauh
berbeda dengan pertunjukan sandiwara tradisional di masa lalu.

Panggung dibangun dengan rangka bambu, dilatari beberapa layar
berlukiskan alam Parahyangan. Di bagian depan, dilengkapi layar
penutup berlukiskan ornamen-ornamen gerbang kerajaan. Hanya, untuk
pengeras suara, sudah mengunakan perangkat sound system dan tata audio
modern, tidak seperti sandiwara masa lalu, yang hanya mengandalkan
perangkat pengeras suara sederhana. Masyarakat juga disuguhi beberapa
kesenian lain, seperti tari jaipongan, serimpi, dan penampilan
kesenian reog Grup Langensari, yang juga masih di bawah naungan
Yayasan Miss Tjitjih.(Nuryaman/Bibing Rusmana/"PR"/"Galura")***





http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke