Cik atuh pangangsrodkeun! RH Daya Saing Indonesia Melorot Pesaing Baru India dan Banglades Ikut Mengancam
Jakarta, Kompas - Daya saing Indonesia di arena persaingan ekonomi global kian melorot. Kemudahan untuk memulai usaha baru merosot sehingga investasi tak meningkat secara signifikan, sementara kinerja pertumbuhan ekspornya juga turun dibandingkan negara-negara sekawasan ASEAN. Penilaian itu merupakan kesimpulan inti dari penelitian International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia, serta Bank Pembangunan Asia yang diungkapkan dalam kesempatan terpisah, Rabu (6/9). Laporan IFC dan Bank Dunia mengenai "Doing Business 2007" menyatakan, Indonesia menduduki peringkat 135 dari 175 negara dalam hal kemudahan memulai usaha baru. Peringkat itu turun dari posisi 131 tahun lalu karena perbaikan tak sesignifikan negara lain. "Penurunan peringkat tersebut bukan berarti negatif bagi Indonesia, tetapi perbaikan yang terjadi di negara-negara lain sangat signifikan, sementara di Indonesia tidak," kata ekonom IFC, Caralee McLiesh yang juga penulis laporan penelitian IFC dan Bank Dunia yang dilakukan dalam kurun Januari 2005 hingga Januari 2006. Singapura menempati posisi pertama negara yang paling mudah untuk memulai suatu usaha. Negara tersebut berhasil menyingkirkan posisi Selandia Baru ke peringkat kedua, yang tahun lalu menduduki posisi teratas. Dalam telekonferens dari Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (6/9), Caralee McLiesh menyatakan, Indonesia telah mengalami reformasi dalam hal kemudahan memulai usaha. Waktu yang diperlukan tadinya sangat panjang, yakni 151 hari namun telah dipangkas menjadi 97 hari saat ini. Indonesia juga akan menerapkan pengarsipan secara elektronik untuk perpajakan. Dia menambahkan, untuk indikator kemudahan memulai usaha lainnya, Indonesia tidak mengalami perbaikan. Dalam hal mengurus izin, masih harus ditempuh 19 prosedur yang membutuhkan 224 hari. Perpajakan misalnya, ada 52 jenis pajak dengan waktu yang dibutuhkan 576 jam. Pengamat ekonomi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) Chatib Basri mengatakan, sebenarnya yang menjadi indikator utama investor masuk ke Indonesia adalah kondisi kestabilan makro-ekonomi. "Kondisi makro kan menjadi tidak stabil sejak nilai tukar melemah Juli tahun lalu dan kenaikan harga bahan bakar minyak hingga 126 persen pada Oktober. Sejak itu investasi yang masuk ke sedikit menyurut," katanya. Logikanya, kata Chatib, jika indikator-indikator yang dikeluarkan IFC dan Bank Dunia hampir stagnan, dan hanya satu indikator yang mengalami perbaikan, investasi harusnya tumbuh sedikit atau stagnan juga. "Kenyataannya kan investasi yang masuk turun. Ini artinya, pada level teratas, investor masih akan sangat melihat kestabilan makro-ekonomi Indonesia," kata dia. Sampai pada level tertentu, kata dia, kestabilan makro-ekonomi Indonesia akan mendongkrak jumlah investasi. Namun, jika ingin mencapai level yang lebih tinggi, Indonesia tetap harus memperbaiki faktor-faktor yang memberi kemudahan dalam memulai bisnis. Caralee menekankan, hasil laporan IFC dan Bank Dunia tersebut ibarat cek kesehatan lingkungan bisnis di 175 Negara. Adanya perbaikan atau tidak hanya menunjukkan peluang dan perbaikan yang harus dilakukan negara tersebut. "Ibarat tes kolesterol, kalau kolesterol anda tinggi bukan berarti anda akan meninggal kan? Tapi berarti anda tidak sehat dan harus segera menurunkan kadar kolesterol tersebut," katanya. Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Wilayah Indonesia Andrew Steer menyatakan, jika dilihat dalam kurun waktu antara 2003 hingga 2005, sebenarnya kemudahan untuk memulai usaha di Indonesia sudah mengalami perbaikan cukup baik. Perbandingan antara penelitian Bank Pembangunan Asia (ADB) pada tahun 2003 dan penelitian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) pada tahun 2005 menunjukkan perbaikan yang sangat signifikan dalam hal kestabilan mekro-ekonomi dan ketidakpastian kebijakan ekonomi. "Laporan Doing Business tersebut juga belum meliputi empat paket kebijakan yang telah dikeluarkan pmerintah pada tahun ini. Pada penelitian kami bersama LPEM UI yang akan diluncurkan November mendatang sudah memasukan empat paket kebijakan tersebut, jadi saya rasa hasilnya pasti jauh lebih baik dari laporan sekarang," kata Andrew. Namun demikian Andrew menambahkan dengan banyaknya indikator memulai usaha yang tidak menunjukkan perbaikan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Indonesia. "Kesenjangan antara Indonesia dengan negara lain masih sangat jauh," katanya. Cukup besar Kinerja pertumbuhan ekspor Indonesia pun telah mengalami penurunan yang cukup besar, yang secara tradisional sudah menjadi keunggulan komparatif Indonesia seperti mebel, kelapa sawit, karet, tekstil dan alas kaki. Rata-rata pertumbuhan ekspor nonmigas itu kini tinggal 13 persen per tahun, turun dari rata-rata 17 persen per tahun sebelum krisis. Laporan Asian Development Outlook 2006 yang diumumkan di Manila, Rabu (6/9) menyebutkan, peningkatan upah buruh, angka inflasi yang tinggi dan kurs rupiah yang relatif kuat telah menggerogoti kemampuan bersaing Indonesia di pasar ekspor. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pada 2004 bahwa upah buruh Indonesia sudah 37 persen lebih tinggi dari keadaan sebelum 1997, jika dihitung dalam denominasi dollar AS. Pada saat bersamaan, China dan Vietnam telah menjadi pesaing utama bagi Indonesia. Dalam hal pakaian jadi dan tekstil, pangsa pasar Indonesia telah digerogoti oleh China dan Vietnam, terutama sejak berakhirnya era kuota pada Desember 2004 lalu. Jika daya saing tidak diperbaiki, Indonesia juga segera menghadapi pesaing baru di pasar ekspor seperti Bangladesh dan India. Secara umum, lemahnya arus masuk investasi dalam beberapa tahun terakhir turut membuat daya saing Indonesia menurun. Karena itu, kenaikan arus investasi yang juga akan membawa keahlian akan bisa menolong pemulihan daya saing Indonesia. Namun ADB mengatakan, sejauh ini sudah banyak hal yang dilakukan pemerintah untuk mendorong investasi. Akan tetapi persoalannya adalah semuanya belum efektif di lapangan. (tav/MON) http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
