Mengurai Polemik Kemiskinan

Iman Sugema

Jumat (1/9) pekan lalu merupakan hari yang paling menyedihkan bagi
saya dan teman-teman di Tim Indonesia Bangkit. Pasalnya, prediksi kami
benar, yaitu telah terjadi peningkatan jumlah orang miskin di tahun
2005-2006. Hal tersebut telah dikonfirmasi oleh Badan Pusat Statistik
atau BPS yang menyatakan bahwa tingkat kemiskinan di bulan Maret 2006
telah menjadi 17,75 persen, yang lebih tinggi dibandingkan 13 bulan
sebelumnya, yakni 15,97 persen.

Kenaikan angka kemiskinan dalam setahun terakhir merupakan kejadian
luar biasa karena berlawanan dengan tren sebelumnya. Selama tujuh
tahun berturut-turut dari tahun 1998 ke tahun 2005, tingkat kemiskinan
berhasil turun.

Hati kami mendung karena beban bangsa ini menjadi semakin berat.
Sekadar meratapi dan mewacanakan kemiskinan sama sekali tidak akan
menolong saudara-saudara kita yang berkubang dalam lumpur kemiskinan
yang lebih pedih dibandingkan dengan lumpur Lapindo. Lantas apa yang
harus kita perbuat?

Jangan ulangi kesalahan

Pertama, tentunya pemerintah tidak boleh mengulangi kesalahan yang
sama di masa yang akan datang. Syarat utama untuk hal ini adalah
meyakini bahwa meningkatnya angka kemiskinan adalah produk dari
kebijakan pemerintah, yakni kenaikan harga BBM yang overdosis, program
kompensasi yang tidak memadai, ketidakberhasilan dalam melakukan
stabilisasi harga kebutuhan pokok, dan masalah kualitas pertumbuhan
ekonomi. Sudah banyak yang membahas masalah ini, sekarang kita tinggal
mengambil hikmahnya.

Intinya, kalau kita tidak bisa menciptakan pertumbuhan yang disertai
pemerataan dan sementara program kompensasi tak bisa sepenuhnya kita
sediakan, jalan terbaik untuk menghindari kemiskinan adalah jangan
sekali-kali menciptakan inflasi yang melebihi batas kemampuan
masyarakat bawah untuk menanggungnya. Sebesar 20 persen populasi yang
berada di atas garis kemiskinan adalah mereka yang sangat rentan
terhadap gejolak harga. Mereka adalah kelompok pekerja yang
berpenghasilan tidak menentu dan petani gurem. Mereka hanya memiliki
kemampuan yang sangat terbatas untuk memperbaiki penghidupan dan
karena itu daya beli mereka sangat sensitif terhadap inflasi. Sekali
lagi, jangan ciptakan inflasi yang berlebihan.

Akan tetapi, terkadang untuk tidak mengulangi kesalahan adalah sebuah
pekerjaan yang sulit karena harus diawali dengan kesadaran bahwa
memang telah terjadi kesalahan. Sebagai contoh, dalam sebuah sidang
kabinet dua minggu yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
betul-betul marah dan merasa dipojokkan atas data yang dilaporkan
dalam pidato 16 Agustus. Marah karena tidak pernah satu menteri pun
yang melaporkan data kemiskinan yang sebenarnya, dan merasa dipojokkan
karena para menteri yang dianggap kompeten tidak melakukan pembelaan
di hadapan publik.

Dalam sidang kabinet tersebut setidaknya ada dua menteri yang
terus-terusan bertahan bahwa angka kemiskinan memang turun. Mereka
sejak awal telah membentuk sebuah tim pakar untuk "mengawal" data
kemiskinan, pertumbuhan, inflasi, dan pengangguran supaya tampak lebih
kinclong. Intinya, ada upaya sistematis untuk menutupi kesalahan
dengan kesalahan berikutnya. Beruntung pada sidang itu, Kepala BPS
menyatakan bahwa tingkat kemiskinan memang naik sehingga kemudian
Presiden memerintahkan untuk memublikasikan apa adanya. Bahkan,
sesudah itu pun masih ada operasi bawah tanah untuk memengaruhi staf
BPS melalui jaringan intelektual 'partikelir'. Karena upaya mereka di
BPS menemui hambatan, dua ahli soal kemiskinan dari negeri Paman Sam
yang dibiayai oleh lembaga donor tertentu akan didatangkan. Kita
ucapkan selamat datang kepada para economic hit man.

Resep konvensional

Kedua, harus ada langkah komprehensif dan sistematis dalam jangka
panjang dan jangka pendek untuk mengentaskan kemiskinan. Berdasarkan
pengalaman, pengurangan angka kemiskinan paling banter hanya 1,2
persen per tahun. Itu karena program yang dilakukan hanya mengikuti
resep konvensional dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi semata. Tak
ada yang salah dengan pertumbuhan ekonomi kalau saja dibarengi dengan
pemerataan dan penciptaan lapangan kerja.

Laju penurunan angka kemiskinan seperti di atas tentunya akan terasa
sangat lamban dan tidak bisa dipakai sebagai strategi untuk memenuhi
janji kampanye Presiden dan Wapres. Dengan demikian, harus ada
perubahan strategi yang sangat mendasar, yaitu strategi pembangunan
yang langsung menyentuh pada akar masalahnya, yakni kemiskinan dan
pengangguran.

Pada intinya, kita ingin melihat bahwa strategi pro-poor,
pro-employment, dan pro-growth diimplementasikan secara terintegrasi,
tidak diterjemahkan secara terpisah. Contoh riilnya adalah pembangunan
infrastruktur berupa megaproyek jalan tol. Kalau kita hanya mengejar
pertumbuhan semata, sah saja untuk membangun jalan tol dengan memakai
mesin. Namun, karena kita ingin menyediakan lapangan kerja
sebanyak-banyaknya, bisa saja dipersyaratkan untuk memakai teknologi
padat karya walaupun jangka waktu pengerjaannya lebih lama.

Sekarang pun sebetulnya pemerintah sedang menggodok konsep
pengembangan biofuel. Kalau ingin gampang, kita undang investor besar
untuk membangun lima juta hektar sawit dan jarak melalui beragam
insentif dan fasilitas kemudahan. Namun, kalau kita ingin agar
pemerataan juga terjadi, mungkin pola perkebunan inti rakyat menjadi
pilihan yang baik.

Akhir kata, kemiskinan telah terjadi dan mari kita menatap ke depan
dengan mengubah strategi pembangunan. Guru saya bilang, poor people
were not borned to be poor, but they are tipically the victim of poor
policy. Tak usah kita ratapi karena saudara kita sedang menunggu
pemecahan masalah secara segera.

Iman Sugema Senior Economist, Inter-CAFE, Institut Pertanian Bogor 






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke