ASAL USUL 
Tenang
  
Ariel Heryanto   
Setahun sesudah hancurnya menara kembar World Trade Center di New York, saya 
mengikuti suatu pertemuan akademik di New York dan sempat mampir di beberapa 
negara bagian lain. 
Yang paling mengesankan dari kunjungan itu: betapa tenang sikap orang-orang 
Amerika menghadapi peristiwa berdarah yang biasa mereka sebut "9/11". 
Bisa dipastikan mereka ikut terpukul. Tetapi, derita itu tidak tampak dalam 
perilaku sehari-hari. Orang-orang AS yang kebetulan saya jumpai tetap saja 
tampil sebagai bagian dari salah satu bangsa paling ramah di dunia seperti yang 
telah saya kenal bertahun-tahun sebelumnya. 
Peristiwa "9/11" sedikit disebut dalam percakapan sehari-hari. Ini saya amati 
dari percakapan santai dengan teman-teman lama. Juga dengan sopir taksi dalam 
perjalanan jauh antarkota selama lebih dari dua jam. Juga dalam seminar yang 
saya ikuti dan secara khusus membahas kekerasan dalam masyarakat. 
Sopir taksi yang disediakan panitia untuk menjemput saya tampil gagah. Tutur 
katanya canggih. Pengetahuannya bak mahasiswa pascasarjana di bidang ilmu 
sosial. Ternyata dia mantan direktur sebuah perusahaan di bidang jasa 
transportasi darat untuk para awak pesawat di sekitar bandara. Perusahaannya 
bangkrut gara-gara peristiwa "9/11". 
Selama perjalanan dia tidak mengeluh tentang perubahan dunia atau kesulitan 
ekonomi. Tidak tampak sikap kecewa, sedih, dendam, atau benci dari raut mukanya 
atau nada bicaranya. Nyaris tanpa emosi ia menceritakan pekerjaannya yang lama 
dan kehancuran usaha itu akibat serangan "9/11". Dia suka mengobrol. Sebagian 
besar ceritanya berkisar tentang kiatnya memelihara kesehatan lewat diet dan 
kegiatan sehari-hari. 
Topik "9/11" sesekali muncul dalam seminar yang saya ikuti. Tetapi, topik itu 
tidak mendominasi pembicaraan. Bila disebut-sebut, peristiwa "9/11" dibahas 
dengan santai walau kritis-akademis. 
Semua itu jelas bertolak belakang dengan gambaran yang kita peroleh dari media 
massa di luar AS tentang negeri itu sesudah "9/11". Juga bertolak belakang 
dengan apa yang saya saksikan ketika masuk-keluar sejumlah bandara udara di AS. 
Termasuk perlakuan yang saya alami sendiri sebagai pemegang paspor Indonesia, 
negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia. 
Apa rahasia kesantaian orang-orang AS pasca-"9/11" itu? Saya tidak tahu. Saya 
menduga, mereka jauh lebih dewasa ketimbang para politikus yang menguasai 
pemerintahan. Walau tidak membenarkan serangan "9/11", mereka seakan-akan bisa 
memahami mengapa ada orang-orang yang bersemangat membenci negeri mereka 
sebagai adikuasa tunggal seusai Perang Dingin. 
Kekerasan "9/11" merupakan pesan politik dari kelompok sosial yang merasa 
terdesak dan mungkin putus asa. Pesan itu ditujukan kepada dunia, khususnya 
segelintir orang di puncak kerajaan kapitalisme dunia, tentang ketidakadilan 
global. Pesan itu berdarah dan menyedihkan. Tetapi, bisa dipahami sebagian 
orang di dunia yang mampu mencernanya dengan tenang. 
Ketenangan pihak korban kekerasan bisa mencerminkan kedewasaan. Dalam konteks 
lain ketenangan bisa dianggap sikap bersekutu dengan pembunuh. Misalnya, sikap 
adem ayem Pemerintah RI terhadap pembunuhan oleh pejabat negara terhadap 
rakyatnya sendiri. Termasuk pembunuhan terencana terhadap Munir dua tahun lalu 
yang diduga pihak pengadilan melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara. 
Seperti peristiwa "9/11", pembunuhan Munir merupakan sebuah pesan politik. 
Bedanya, yang satu teriakan putus asa dari korban ketidakadilan dunia, yang 
lain merupakan pernyataan "tenang" berisi kebencian terhadap warga sendiri yang 
memperjuangkan keadilan bagi bangsanya. 
Para pembajak "9/11" mengorbankan nyawa sendiri demi sebuah pesan bagi 
kepentingan orang lain yang masih hidup. Secara hukum mereka bisa disebut 
penjahat, tetapi bukan "pengecut" seperti dituduhkan Presiden Bush. Istilah 
pengecut lebih tepat bagi komplotan pembunuh Munir yang bersembunyi di balik 
tembok bisu birokrasi negara dan di balik seorang pilot Garuda yang 
dikambinghitamkan sebagai tumbal. 
Para preman dan kaum militan sering dikecam karena main hakim sendiri, tetapi 
mereka berani menampilkan identitas diri. Mereka lebih "jujur" ketimbang otak 
pembunuh Munir, Marsinah, Udin, para korban Mei 1998, Juli 1997, dan jutaan 
warga sebangsa lainnya. Dibandingkan dengan para bonek Persebaya atau "teroris" 
bom Bali, mereka tampak pengecut. 
Namun, para pengecut itu aman dan menikmati impunitas. Sesudah berhasil 
membunuh Munir, mereka menari-nari di atas mayat rasa adil masyarakat sambil 
mengolok-olok 250 juta warga Indonesia: "Siapa berani sentuh aku? Pemerintah 
kamu? Ha-ha-ha." 
Sesudah "9/11" kedewasaan AS sebagai sebuah bangsa adikuasa diuji oleh 
kemampuan bersikap tenang. Di Indonesia, kedewasaan bangsa diuji oleh kemampuan 
melawan diam, takut, dan lupa kejahatan negara atas warganya. Jasad Munir bisa 
ditaklukkan, tetapi tidak keteladanannya dalam melakukan perlawanan terhadap 
semua itu. 


[Non-text portions of this message have been removed]



http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke