Orang Sunda tidak Malas Oleh SOEROSO DASAR DISKURSUS tentang keberhasilan penduduk pendatang dalam merebut segmen kerja di Jawa Barat mencuat ke permukaan. Diawali dengan munculnya berita pada Pikiran Rakyat 23-24 Agustus pada halaman satu, bahkan dijadikan berita utama, masalah ini menjadi isu yang menarik untuk dikembangkan. Hasil survei yang dilakukan oleh BPS (Biro Pusat Statistik) Jawa Barat menunjukkan angka yang cukup mengagetkan banyak khalayak. Penduduk migran di Jawa Barat memiliki lapangan pekerjaan yang lebih baik bila dibandingkan dengan penduduk non-migran (penduduk asli). Migran mampu bekerja disektor industri pengolahan sebesar 22,97%, sektor jasa 34,38%. Kedua sektor ini secara persentase migran jauh meninggalkan (mendominasi) penduduk asli. Sedangkan sektor perdagangan, migran menempati 15,92%, yang hanya unggul tipis saja dengan penduduk asli. Dari angka tersebut, berbagai penafsiran pun muncul.
Sebuah seminar di Bandung tahun 2005 yang dilaksanakan oleh Unpad bekerja sama dengan Bapeda Provinsi Jawa Barat (penulis kebetulan sebagai ketua tim perumus), menghasilkan angka yang lebih signifikan. Dari hasil seminar tersebut (dengan menggunakan kuisioner kepada responden Dibale, SKPD, Bapeda Kabupaten Kota) terungkap bahwa penduduk migran mampu merebut pekerjaan di sektor industri pengolahan, perdagangan, dan jasa rata-rata sekira 35%. Bahkan untuk Bekasi, Kabupaten Bandung, Purwakarta, Kabupaten Bogor di atas 40%. Data terakhir yang dimunculkan oleh BPS Jawa Barat tahun 2004 penduduk Jawa Barat yang bekerja di ketiga sektor tersebut sebanyak 8.273.591 orang. Dengan demikian, para migran yang bekerja di sektor itu adalah 2.895.756 orang. Apabila estimasinya diturunkan (under estimate) 30%, maka jumlah migran yang bekerja di sektor tersebut sebanyak 2.482.077 orang. Kalau diturunkan lagi menjadi 25% hasilnya adalah 2.068.397 orang. Pada saat yang sama, pengangguran terbuka 2.037.764 orang. Jadi asumsi 25% pun para migran secara nominal lebih banyak bekerja dibandingkan dengan pengangguran Jawa Barat. Betapa besar sebenarnya peluang kerja di perkotaan Jawa Barat yang telah direbut oleh migran. Prof. Dr. Kusnaka Adimiharja, mahaguru dan sosiolog dari Unpad membaca fenomena ini bukanlah suatu indikasi bahwa orang Sunda malas. Karena daya juang setiap orang ketika merantau relatif lebih tinggi. Orang Sunda yang dirantau juga mempunyai daya juang yang sama. Penulis setuju dengan pernyataan ini. Karena orang Sunda yang berada di Lampung mereka cukup ulet bekerja di sektor perkebunan. Orang Sunda di Sulawesi Selatan lebih banyak berdagang. Para transmigran Sunda di Meulaboh Aceh yang bekerja di sektor perkebunan (kopi dan cengkeh) tidak mau pulang kalau tidak ada konflik. Orang Sunda (baca Tasikmalaya) yang bekerja sebagai pedagang keliling di Medan luar biasa gigihnya. Bahkan disepanjang Jalan Gatot Subroto hampir semua perajin rotan adalah orang Sunda. Di sana ada sebuah jalan bernama Jalan PWS (Persatuan Warga Sunda). Di Batam dan Riau pada umumnya sektor jasa hiburan yang bekerja adalah orang Sunda dari Pantura. Di Jambi hampir setengahnya warung kopi dan pedagang dari Mandirancan Kuningan. Di Jakarta sebagian besar pedagang rokok, bubur, indomie saudara kita dari Luragung Kuningan. Sampai ada plesetannya orang Luragung di Jakarta bekerja di BRI (Bubur Rokok dan Indomie). Ini suatu realitas betapa daya juang orang Sunda ketika jauh dari kampungnya demikian gigih. Tapi kenapa tiga sektor (perdagangan, jasa, industri pengolahan) direbut oleh para pendatang di tanah Sunda? Untuk itu kita tidak bisa melihatnya secara hitam putih. Beberapa indikator haruslah dijadikan variabel guna mencari rumusan-rumusan bijak menjawab masalah ini. Ada beberapa perbedaan yang sangat menonjol antara migran masuk ke Jawa Barat dengan orang Sunda yang menjadi migran ke luar. Migran masuk (diluar mahasiswa) pada umumnya mereka migran dengan keluarga. Sedangkan migran ke luar cenderung keluarganya tetap berada di Jawa Barat (kecuali yang bergerak di sektor pertanian). Orang Sunda sangat cekatan bekerja di sektor-sektor primer seperti pertanian tanaman pangan dan lainnya. Karena tanah Jawa Barat dikenal subur dengan air yang melimpah. Sektor ini merupakan pekerjaan turun temurun mereka. Kalau pun ada di luar sektor tersebut, orang Sunda akrab dengan industri kecil (home industry) dengan sentuhan budaya yang adi luhung. Menurut data BPS Jabar, sektor yang direbut migran bukanlah sektor tersebut. Konsep pembangunan Jawa Barat saat ini telah bergeser dari sektor pertanian ke sektor industri. Dengan kata lain kontribusi sektor industri di Jawa Barat semakin dominan. Maka bukanlah suatu yang aneh apabila sektor ini direbut oleh migran. Apakah benar masyarakat Sunda kurang tertarik bekerja di sektor ini ? Bahkan regulasi-regulasi yang bertujuan untuk menahan lajunya migran ke Jawa Barat untuk mencari pekerjaan tidak mampu membendung. Di sinilah pepatah "dimana ada gula, di situ ada semut" berlaku. Terlebih pada era informasi saat ini, kesempatan kerja diserahkan kepada mekanisme pasar (demand supplay). Siapa yang unggul dialah yang akan memenangkan persaingan. Dalam konteks bingkai NKRI tidak ada satu peraturan pun yang dapat dirujuk bahwa migran tidak boleh masuk ke Jawa Barat, begitu juga sebaliknya. Tidak ada yang salah kalau ada migran mencari rezeki di Jawa Barat, begitu juga sebaliknya. Karena tanah yang terhampar dan tempat mencari nafkah semuanya itu adalah milik Allah. Apabila kita ingin melakukan introspeksi kenapa peta (mapping) kesempatan kerja demikian, maka beberapa pertanyaan yang sangat esensi perlu dikemukakan. (1) Sudahkah pembangunan di Jawa Barat sesuai dengan akar budaya yang ada, atau justru sebaliknya tercerabut dari akar budaya. (2) Seberapa jauh kita mengapresiasi konsep bahwa kerja merupakan ibadah. (3) Apakah masih relevan pada saat kekinian kita terpesona bahwa tanah Jawa Barat adalah tanah yang subur, tidak perlu bekerja keras untuk mengolahnya. (4) Seberapa jauh aparatur pemerintah, instansi terkait, para cendekiawan, dan lainnya memberikan "lampu kuning" bahwa perdagangan bebas sudah di depan mata. Pertanyaan-pertanyaan tadi haruslah kita jawab secara bersama-sama. Karena regulasi-regulasi terutama yang berbau pressure tidak zamannya dan tidak mendidik. Yang terbaik adalah bagaimana kita simulasikan konsep-konsep pembangunan tersebut di Jawa Barat agar bermanfaat bagi masyarakat Jawa Barat pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. *** Penulis, peneliti senior pada Pusat Penelitian Kependudukan dan Pengembangan SDM (PPK-SDM) Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
