Profil Kabupaten Serang Ingin Mengulang Kejayaan Masa Lampau Ignatius Kristanto
Lukisan peta kusam buatan Portugis bertahun 1626 yang tergantung di dinding Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama mungkin akan membuat Anda tertegun. Di sana, berjajar kota terkenal di dunia abad ke-15, menyelip nama Banten sebagai satu-satunya kota di Nusantara. Padahal, pada era itu Makassar, Cirebon, dan Mataram (Yogyakarta) merupakan kota yang tak kalah sibuk. Mengapa kota Banten? Jejak reruntuhan sejarah di kawasan Banten Lama menjadi bukti sisa kebesaran kerajaan ini pada masa lampau. Hampir tiga abad lamanya Banten (1525-1808) mematok masa kejayaannya. Masa ini terukir dari mulai Sultan pertama Maulana Hasanuddin, putra Sunan Gunungjati dari Cirebon, hingga masa Sultan Ageng Tirtayasa. Bukti-bukti tertulis seperti yang diungkapkan sejarawan Hoesein Djajadiningrat (1913) menunjukkan kota Banten waktu itu sudah menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan daerah-daerah Nusantara dengan dunia luar. Banyak orang Eropa seperti Portugis, Inggris, dan Belanda membuka kantor dagang di kota ini. Muncul pula perkampungan-perkampungan warga Asia lainnya seperti China, Jepang, India, dan Arab. Puncak kejayaan berakhir tragis ketika Pemerintah Belanda di bawah pimpinan Daendels yang berpusat di Batavia menghancurkan dan membakar Keraton Surosowan pada 1808. Daendels marah karena Sultan Banten menentang kerja paksa kepada rakyatnya untuk membangun pelabuhan di Labuan. Selanjutnya kekuasaan Belanda-lah yang menancap di Banten dengan pusat pemerintahan dipindah ke Serang. Inilah cikal bakal Kabupaten Serang. Setelah wilayah Banten menjadi provinsi sendiri, lepas dari Provinsi Jawa Barat pada 4 Oktober 2000, era kejayaan mulai dirintis kembali. Dipilihlah Kabupaten Serang sebagai pusat pemerintahan. Selain alasan keterjangkauan dari semua wilayah, juga alasan historis yang ingin mengembalikan kemakmuran seperti yang pernah dialami Kerajaan Banten Lama. Selama enam tahun, pembangunan mulai gencar dilaksanakan. "Dampaknya mulai terasa saat ini, terutama selepas menjadi ibu kota provinsi. Pembangunan di Kabupaten Serang maju pesat," kata Kepala Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Serang Imam Sandjadirdja. Melesatnya perkembangan ekonomi Kabupaten Serang tak lepas dari letaknya yang berada di wilayah utara Banten. Wilayah utara memang merupakan "tambang emas" yang terus tumbuh karena mempunyai mesin pertumbuhan ekonomi modern, yakni industri. Motor penggeraknya adalah Kota Cilegon di sebelah barat dan Kabupaten Tangerang di sebelah timur. Serang berada di tengah sehingga terimbas oleh pertumbuhan kedua daerah tersebut. Lambat laun, struktur ekonomi Kabupaten Serang juga mulai berubah. Jika sebelumnya perekonomian di daerah ini lebih mendasarkan pada pertanian, kini perekonomian yang bersifat perkotaan mulai mendominasi. Kecenderungan dalam lima tahun terakhir menunjukkan arah itu. Sektor-sektor perekonomian seperti industri, perdagangan, keuangan dan jasa tumbuh lebih cepat daripada sektor pertanian. Di jalan-jalan utama di wilayah permukiman perkotaan seperti di Kecamatan Serang pun mulai muncul pusat-pusat belanja modern. Jika lima tahun silam belum ada mal-mal megah seperti di Kota Tangerang atau Kota Cilegon, dalam waktu dekat pusat-pusat belanja modern ini dapat dijumpai di Jalan Veteran. Tanda bahwa ciri perekonomian kota mulai menggantikan perekonomian pedesaan yang bersumber pada sektor pertanian. Ibarat ada gula ada semut, para pelaku ekonomi pun mulai berani untuk berinvestasi ke daerah ini. Bukan hanya investor besar yang menanamkan investasinya di kawasan industri yang terletak di Kecamatan Cikande, tetapi juga para pedagang dari luar Kabupaten Serang. "Saya sudah tiga tahun membuka gerai ponsel di sini, potensi pasarnya baik. Jika tahun pertama dalam tiga minggu dapat menjual sekitar empat ponsel, sekarang cukup seminggu," ujar Rudi (45), pemilik toko handphone di Jalan A Yani. Ciri perkembangan ekonomi Kabupaten Serang ini ternyata tidak berbeda dengan yang dialami beberapa daerah di Indonesia yang berdampak negatif pada ketimpangan, baik ketimpangan antarsubwilayahnya maupun ketimpangan pendapatan antarkeluarga. Ciri ketimpangan pertama, ketimpangan antarkecamatan, dapat dikenali dari perbedaan perkembangan pembangunan antara Kecamatan Anyar, Serang, Cikande, dan kecamatan lainnya. Kecamatan Anyar berkembang karena mempunyai potensi pariwisata, Kecamatan Serang karena sebagai pusat pemerintahan, dan Kecamatan Cikande berkembang karena memiliki kawasan industri. Sedangkan ketimpangan kedua dapat dilihat pada perubahan indeks Gini kabupaten ini yang terus meningkat. Jika pada tahun 2000 nilai indeks Gini mencapai 0,275, enam tahun kemudian menjadi 0,280. Ini menunjukkan perbedaan si kaya dan si miskin kian meningkat. Selain itu, dampak dari melesatnya pertumbuhan ekonomi ibu kota Provinsi Banten ini juga memengaruhi baik jumlah maupun penyebaran keluarga miskin. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, jika pada tahun 2000 terdapat 14.016 keluarga miskin, tahun 2005 meningkat menjadi 102.626 keluarga. (Ignatius Kristanto/ Litbang Kompas) http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
