Allah dalam Monoteisme dan Politeisme K BERTENS
Menarik juga membaca "Allah Milik Siapa?" oleh Samsudin Berlian dalam rubrik ini pada terbitan 18 Agustus 2006. Nama-nama yang dipakai dalam agama-agama yang berbeda untuk menunjukkan Yang Mahakuasa ternyata masih saling berhubungan dalam akar yang sama. Contohnya adalah nama Allah, Ilah, El, Elohim, dan lain-lain. Nama-nama tadi mungkin berasal dari akar kuno yang berarti 'terang'. Terang dialami dalam kaitan dengan api, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Pengalaman religius paling awal dalam sejarah agama menemukan Yang Sakral dalam alam. Alam yang penuh misteri itu menyatakan Yang Lain kepada manusia. Hal itu dilukiskan dengan bagus sekali oleh Mircea Eliade dalam bukunya Traite d'histoire des religions (Ulasan sejarah agama), 1948. Tulisan ini ingin meneruskan analisis tadi ke suatu arah tertentu: bagaimana berbicara tentang Allah dalam monoteisme dan politeisme? Dalam rangka sejarah agama, monoteisme merupakan suatu perkembangan revolusioner. Namun, dalam penuturan religius nama-nama kuno untuk Yang Mahakuasa tetap dipakai. Agama Yahudi untuk pertama kali "menemukan" monoteisme itu dan menggunakan nama khusus Yahweh, di samping nama yang memiliki akar kuno seperti El dan Elohim. Dalam bahasa Arab terbentuk nama Allah, yang juga merupakan nama monoteisme yang khas: Al-lah. Dalam bahasa Yunani sebelumnya sudah dipakai nama ho theos, yang dalam bentuk tunggal memiliki juga suatu nada monoteistis. Di samping itu orang Yunani memakai hoi theoi dalam arti politeistis. Dengan demikian istilah modern monoteisme mendapat makna: pandangan yang mengatakan bahwa ada satu theos saja, sedangkan politeisme berarti pandangan bahwa ada banyak theoi. Karena itu, dalam istilah monoteisme maupun politeisme kita bisa mendapatkan kata dasar yang sama. Bahasa Latin tak mengenal kata sandang. Penutur bahasa ini memakai kata deus (bentuk jamak: dei) guna menunjukkan Sembahan mereka, tetapi mereka tak bisa mengkhususkan kata itu lagi untuk konteks monoteistis seperti ho theos dalam bahasa Yunani. Karena itu, mereka mencari akal dengan menggunakan huruf besar atau kecil: Deus dipakai dalam rangka monoteisme, deus serta dei dikhususkan untuk konteks politeisme. Kebiasaan ini diikuti dalam banyak bahasa modern juga, misalnya bahasa Inggris: God, gods, a god. Bagaimana caranya dalam bahasa Indonesia? Jika kita beralih dari konteks monoteisme ke konteks politeisme, sebaiknya kita memakai kata apa? Pertanyaan ini mendesak bila kita mau menerjemahkan bagian Kitab Suci Kristen yang disebut Perjanjian Lama dan menurut isinya sama dengan Kitab Suci Yahudi. Kalau memang benar bahwa agama Yahudi untuk pertama kali dalam sejarah mewujudkan monoteisme, tak mengherankan bila para penganutnya sering harus berpolemik dengan bangsa lain yang masih menganut politeisme. Keadaan itu dengan jelas tecermin dalam Kitab Suci mereka. Bagaimana kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Terjemahan Alkitab dari Lembaga Alkitab Indonesia (1976) memakai Allah jika konteksnya monoteisme dan allah-allah atau allah jika konteksnya politeistis. Akan tetapi, apakah hal itu konsekuen? Kata Allah itu menurut kodratnya monoteistis dan karena itu tidak dapat dipakai dalam bentuk jamak. Menjadi semacam kontradiksi jika kita menerjemahkan gods (dalam konteks politeisme) sebagai allah-allah. Beberapa contoh sebagai ilustrasi. "Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu" (Keluaran 20: 3). "Sebab Allah kami lebih besar dari segala allah" (II Tawarikh 2: 5). "Mereka beribadah kepada allah lain" (Yosua 24: 2). "Allah... mengatasi segala allah" (Mazmur 95: 3). "Allah segala allah" (Mazmur 136: 2). Kadang-kadang ada jalan keluar dari kesulitan, bila dalam konteks politeisme dipakai kata dewa atau dewata. Kata-kata ini memiliki konotasi "tidak benar". Namun, justru karena itu kata ini sering tidak cocok juga. Ayat Keluaran 20: 3 tadi tidak bisa diterjemahkan sebagai "Jangan ada padamu dewa lain di hadapanKu", karena hal itu akan menyatakan bahwa Allah (dari monoteisme) adalah dewa juga. Lebih baik untuk konteks politeistis kita memakai kata ilah. Kata ini tersedia dalam kosakata Indonesia, tapi jarang dipakai. Adapun kata sifat ilahi justru banyak dipakai, dalam arti monoteistis maupun politeistis. Kata ilah dapat dipakai dalam semua teks yang dikutip di atas untuk menggantikan allah (dalam arti politeistis). K Bertens Guru Besar, Pusat Pengembangan Etika, Universitas Atma Jaya, Jakarta http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
