Peningkatan Daya Saing Dinilai Ajaib Implementasi Paket Kebijakan Kian Mendesak
Jakarta, Kompas - Kenaikan peringkat daya saing Indonesia versi Forum Ekonomi Dunia atau WEF dari peringkat 69 menjadi 50, dinilai sangat ajaib. Pasalnya, kondisi riil negara Indonesia masih menunjukkan merosotnya daya saing. Misalnya, kondisi jalan raya sebagai penunjang kegiatan ekonomi masih hancur. Demikian dikatakan pengamat ekonomi Faisal Basri ketika dimintai tanggapannya berkaitan dengan membaiknya daya saing Indonesia versi WEF, Jumat (22/9) di Jakarta. Menurut Faisal, pembangunan yang kurang terencana mengakibatkan jalan cepat berlubang dan kemacetan sulit dihindari. Akibatnya, pungutan pun tidak terelakkan. Selain itu, aliran listrik yang semakin sering mati di beberapa daerah menunjukkan sistem pemeliharaan infrastruktur buruk. "Jadi, pemerintah seharusnya fokus dahulu menyelesaikan persoalan ini," ungkap Faisal. Masalah klasik lainnya, ketidakefisienan birokrasi, regulasi perpajakan, dan ketidakstabilan penentuan kebijakan seharusnya lebih dahulu diselesaikan. Jika seluruh masalah tersebut terselesaikan, niscaya investor akan datang ke Indonesia. "Buat apa pemerintah menawarkan dan menjanjikan iklim investasi kepada para investor asing kalau kondisi riil ekonomi di dalam negeri belum bisa diperbaiki?" ujar Faisal. Hanya janji Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, implementasi paket kebijakan infrastruktur, paket perbaikan iklim investasi, dan paket kebijakan sektor keuangan dirasakan kian mendesak. Perbaikan regulasi ketiga paket itu, ujar Sofjan, akan menentukan peningkatan daya saing Indonesia. Paket kebijakan itu penting untuk diimplementasikan sesuai tenggat yang sudah ditentukan oleh pemerintah sendiri, yakni akhir tahun ini. "Perlu disadari, sepanjang tahun 2006 ini belum ada satu pun sinyal positif yang bisa dilihat calon investor. Makin hari yang ada hanya janji. Kalau tidak ada implementasi, pelaku usaha akan makin kehilangan kepercayaan pada janji-janji itu," kata Sofjan. Terkait dengan penyelesaian paket perundang-undangan itu, Sofjan berharap DPR dapat lebih memfungsikan diri sebagai wakil rakyat yang mampu memahami permasalahan dan kebutuhan riil masyarakat, yakni penciptaan lapangan kerja. "Jangan terus-menerus ada politisasi," katanya. Asisten Deputi Urusan Informasi dan Publikasi Bisnis Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Emilia Suhaimi mengatakan, daya saing merosot karena UKM kurang memerhatikan kualitas produk. Perajin umumnya belum siap melayani permintaan ekspor. "Banyak UKM belum memiliki kemampuan manajerial, termasuk efisiensinya," tutur Emilia. Ketua Komite Tetap Perdagangan Kamar Dagang dan Industri Nuril Hakim Yohansyah mengatakan, kepastian hukum juga sangat dinantikan investor. Kebijakan untuk meningkatkan daya saing hanya bisa dilakukan jika pengambil kebijakan tidak lagi mengedepankan kepentingan partai dan mempertahankan jabatan. (OSA/DAY) [Non-text portions of this message have been removed] http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
