Bahasa Jawa? Ih, "Boring" Banget Bahasa Jawa? Ih, boring banget," kata Geovani, siswa kelas II SMA Negeri 1 Semarang, saat Kompas meminta komentarnya soal mata pelajaran Bahasa Jawa, pekan lalu. Alvian, teman Geovani, langsung menimpali, "Mending diajar bahasa asing aja deh daripada bahasa Jawa. Selain bosan, juga sulit dipahami."
Begitulah sekilas pandangan kaum muda terhadap bahasa Jawa. Padahal, Kongres Bahasa Jawa (KBJ) III tahun 2001 di Yogyakarta, yang ditegaskan kembali dalam KBJ IV di Semarang, merekomendasikan pengajaran bahasa Jawa dari tingkat SD hingga SLTA di tiga provinsi dengan jumlah penutur bahasa Jawa paling banyak, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Rekomendasi itu memang sudah dijalankan. Mungkin pendapat Geovani dan Alvian tak mewakili cara pandang semua siswa di Jateng, apalagi Jatim dan DIY, dalam memandang bahasa daerahnya. Tetapi, kenyataan banyak generasi muda yang tak bangga belajar dan mengerti bahasa Jawa memang sulit dibantah. Bahkan, Menur, siswa kelas III SD Antonius II, Semarang, yang ditemui terpisah, juga mengaku lebih menyukai belajar bahasa Indonesia atau bahasa asing dibandingkan dengan bahasa Jawa. Selain harus menghafalkan sejumlah pengetahuanberkaitan dengan kebudayaan Jawayang mungkin kini tidak terlalu banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, pengenalan aksara (huruf) Jawa dalam mata pelajaran Bahasa Jawa terasa sulit dan tak menarik. Menurut Menur, pengenalan aksara Jawa di sekolahnya pun tidak diajarkan secara menarik dan interaktif. Ia makin tak mengerti, sehingga belajar bahasa Jawa menjadi kian membebani, sebab pengetahuan aksara Jawa juga tidak dipakai (berfungsi) dalam kehidupan sehari-hari. Ini berbeda dengan huruf kanji di Jepang yang memang digunakan dalam keseharian masyarakat. Tidak asing lagi Alvian menuturkan, bagi sebagai orang Jawa, sebenarnya bahasa Jawa tidak asing lagi. Hampir setiap hari ia memakainya untuk berkomunikasi dengan teman-temannya meski bahasa Jawa ngoko dan bercampur dengan bahasa Indonesia. Tetapi, untuk mempelajari dan mendalami bahasa Jawa dalam suatu proses belajar mengajar di sekolah bukan perkara gampang baginya. Bukan hanya karena bahasa pengantar yang dipakai gurunya cenderung bahasa Jawa krama hingga krama inggil, tetapi juga karena banyak kosakata bahasa Jawa yang tak diketahuinya. "Menurut saya, lebih mudah pelajaran bahasa Inggris. Kalau bahasa Inggris, misalnya, kita tidak tahu satu kosakata dari satu kalimat yang disampaikan, tetapi secara umum masih bisa memahami. Ini beda dengan bahasa Jawa. Kalau satu kata saja kita enggak paham, seterusnya tidak paham," tutur Alvian. Persoalan lain yang dihadapi Alvian dan Geovani adalah tidak adanya kalangan di luar sekolah yang bisa membantunya memahami pelajaran bahasa Jawa. Di lingkungan keluarga, bahasa Jawa sudah jarang mereka pakai. Orangtua pun tak memahami bahasa Jawa secara mendalam. Tempat les bahasa Jawa juga tak bisa ditemukan. Bagi Geovani, lebih mudah dan penting belajar bahasa asing, seperti Mandarin, Jepang, dan Prancis. Bukan karena mudah menemukan tempat les, tetapi juga dari sisi kegunaan bagi masa depan, bahasa asing lebih diperlukan daripada bahasa Jawa, terutama terkait untuk mencari pekerjaan. Baik Geovani maupun Alvian menyatakan, pandangannya itu bukan berarti mereka anti terhadap bahasa Jawa. Tetapi, di tengah era globalisasi ini penggunaan bahasa asing lebih mengedepan, sehingga generasi sekarang mau tidak mau harus mengikutinya. Emeralda, siswa kelas II SMA Karangturi, Semarang, menuturkan, belajar bahasa Jawa tak ubahnya belajar bahasa asing. Hampir semua kosakata yang dituturkan guru maupun buku pelajaran dalam bahasa Jawa yang cenderung krama dan krama inggil. Padahal, dalam keseharian ia tak pernah menggunakan bahasa krama itu. "Tidak mungkin kami bergaul pakai bahasa Jawa krama. Kalau ngoko okelah," ucapnya. Di SMA dan SMP Karangturi, pengajar mata pelajaran Bahasa Jawa berasal dari luar sekolah karena tak ada guru di sekolah itu yang khusus membidangi Bahasa Jawa. Cara mengajar yang diterapkan guru Bahasa Jawa tak berbeda dengan pelajaran yang lain, di kelas dengan materi buku ajar yang dipilih oleh sang guru sendiri. Kepala SMP Karangturi Shinta Dewi Gondomartono mengungkapkan, selain kesulitan mencari tenaga pengajar guru Bahasa Jawa, pihaknya juga kesulitan mencari buku ajar Bahasa Jawa yang standar bagi siswa. Meski muatan lokal, hingga saat ini belum ada buku ajar paket untuk mata pelajaran tersebut. "Di SMP Karangturi ini pelajaran Bahasa Jawa masih baru. Baru dua pekan ini diajarkan. Karena tak ada buku pegangan berupa paket, sulit bagi kami untuk mencari acuan yang pas dalam pengajaran. Saya kira ini perlu diperhatikan. Buku paketnya kalau bisa mudah dipahami," paparnya. Budayawan Darmanto Jatman dalam Kongres Sastra Jawa (KSJ) II di Semarang, awal September lalu, menegaskan, bahasa Jawa seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Bahkan, ia memperkenalkan bahasa Jawa gaul, yang sejalan dengan dinamika masyarakat, terutama kaum muda yang akan meneruskan pengembangan bahasa itu. Tak perlu bahasa Jawa yang ndakik-ndakik (rumit), yang justru tak dimengerti dan tak diminati kaum muda. Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto pun saat menutup KBJ IV mengingatkan, agar bahasa Jawa nut ing zaman kalakone, mengikuti perkembangan zaman. Jika tidak, maka bahasa Jawa hanya akan menjadi bahasa masa lalu. (M Burhanudin/ Tri Agung Kristanto) http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
