Mengais-ngais Sampah untuk Sekolah

PEPIH NUGRAHA

Suatu pagi, Heri, pemulung barang-barang bekas, nyaris menjadi amukan
seorang warga di suatu perumahan mewah. Gerobak yang selalu ia bawa ke
mana ia pergi mengais-ngais sampah ditahan warga, sementara Heri yang
kala itu masih duduk di kelas VI sekolah dasar diinterogasi warga.

Kamu kan yang mencuri dua pasang sepatu anak saya tempo hari?" Heri
didorong sampai punggungnya menempel di tembok.

"Sumpah Om, saya enggak nyuri, saya cuma nyari barang-barang bekas."

"Ah, bohong kamu. Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kemari lagi!"

Heri mengenang peristiwa tiga tahun lalu saat kami menemuinya. Minggu,
(17/9), kami baru bisa menemuinya bersama kedua adiknya setelah tiga
hari berturut-turut berada di tempat penampungan barang-barang bekas,
di tanah seluas 1.000 meter persegi di Desa Jombang, Ciputat, Tangerang.

"Orang itu mengira saya yang mencuri hanya karena kebetulan saya
sedang nyari di tempat sampahnya," kenang Heri yang masih mengenakan
pakaian kerjanya, yakni pakaian sehari-hari yang di beberapa tempat
sudah dihiasi tambalan, sementara kotoran kering lekat menempel di
bagian depannya.

Agak sulit menemui Heri dan dua adik laki-lakinya, Hedi dan Hadi,
sebab pagi hari mereka berangkat sekolah dan sehabis pulang sekolah
langsung mencari barang-barang bekas sampai magrib menjelang. Di
tempat penampungan barang-barang bekas itulah Heri tinggal bersama
orangtua dan adik-adiknya.

Hari Minggu mestinya hari bermain bagi umumnya anak-anak. Tetapi bagi
Heri, Hedi dan Hadi, hari luang itu justru dijadikan hari ekstra untuk
mencari barang-barang bekas di perumahan-perumahan di sekitar kawasan
elite Bintaro. Pada hari Sabtu dan Minggu, banyak ibu rumah tangga
membuang sepatu, baju atau pakaian bekas. Kalau rezeki itu datang,
pakaian dan sepatu bekas itu untuk mereka pakai.

Sehari sebelumnya Heri mendapatkan tas sekolah bekas yang dibuang
seorang warga. Murid kelas III SMP Paramarta, sebuah SMP swasta di
Jombang, ini kemudian mencuci dan membersihkannya. Hari ini saat kami
menemuinya, tas sekolah bekas itu masih tergantung di jemuran. "Saya
mau memakainya besok, Om," katanya.

Nama lengkapnya adalah Heri Setiawan (15) yang bersama dua adik
laki-lakinya, Hedi Susanto (13) dan Hadi Prayitno (10), merupakan
keluarga pemulung. Adik perempuannya, Herni (4), masih terlalu kecil
untuk ikut memulung. Hanya memang, mereka berasal dari keluarga
pemulung. Ayah mereka, Yono, juga seorang pemulung. Sedangkan sang
ibu, Hadijah, mengurus rumah tangga.

Di tempat penampungan barang-barang bekas itu terdapat 30 bedeng
terbuat dari bilik bambu atau tripleks. Tiap-tiap bedeng yang hanya
terpisahkan sekat-sekat tanpa jarak itu berukuran lebih kurang 1,5 x 2
meter. Di sanalah 25 keluarga menumpang hidup. Bedeng dan gerobak
disediakan oleh Ajid, juragan penampung barang-barang bekas. Ajid yang
biasa dipanggil "bos" itu mempekerjakan para pemulung, termasuk
keluarga Yono serta tiga anaknya.

Tempat operasi

Tempat operasi mereka berlainan. Yono, sang ayah, sejak subuh sudah
berangkat "nyari", istilah yang biasa mereka pakai untuk memulung.
Ketiga anaknya, Heri, Hedi, dan Hadi, beroperasi kala sekolah usai,
sekitar pukul 13.00 setiap hari. Heri sudah biasa nyari sendiri dengan
gerobak sendiri, sedangkan Hedi dan Hadi selalu berdua, tetapi sudah
membawa gerobak masing-masing.

"Sebenarnya saya sudah berani sendiri, Om, cuma kasihan sama Hadi yang
masih kecil," kata Hedi yang duduk di kelas I SMP, satu SMP dengan
Heri, tentang adiknya. Hadi masih bersekolah di SD Sawah Baru I kelas
V. Tetapi dalam mencari barang-barang bekas, kedua abangnya mengaku
bahwa Hadi jauh lebih terampil. "Sampai ini hari saja gerobaknya sudah
penuh tuh, Pak," sela ibunya, Hadijah, di tengah perbincangan.

Ia seorang ibu asal Rangkasbitung, Banten, yang sudah menikah saat
masih berusia 15 tahun. Saat bertemu Yono 16 tahun lalu, suaminya yang
asal Semarang itu sudah mencari nafkah sebagai pemulung di
Rangkasbitung. Pekerjaan yang tidak berubah sampai sekarang.

Tetangga Hadijah, Arni dan Nia, ikut mendengar perbincangan kami.
Sementara para suami mereka, termasuk suami Hadijah, saat itu belum
pulang dan masih menjalani pekerjaan rutinnya. Hadijah sendiri saat
itu tengah memasak sayur di atas tungku bertenaga kayu bakar. Ia
memasak sayur dan menanak nasi untuk makan keluarganya.

Jika disatukan, penghasilan bapak dan ketiga anak-anaknya itu setiap
dua minggu, saat proses pengiloan barang berlangsung, bisa mencapai Rp
700.000. Karena sebulan berlangsung dua kali pengiloan, setiap
bulannya keluarga Yono bisa menghasilkan Rp 1,4 juta. Uang sebesar
itulah yang menghidupi keluarga itu, termasuk untuk biaya sekolah.

Hadijah, misalnya, menghitung, untuk biaya sekolah Heri per bulannya
Rp 50.000, Hedi Rp 60.000, dan Hadi Rp 15.000. Total sudah Rp 125.000.
Anak-anaknya masing-masing mendapat Rp 3.000 sebagai bekal untuk
sekolah, sehingga rata-rata per bulan Rp 250.000. "Sisanya ya buat
makan, Pak," kata Hadijah yang fasih menghitung pengeluarannya.

Hadijah dan Yono, Hadi dan si bungsu Herni tidur satu ruangan,
sementara Heri dan Hedi, karena dua-duanya sudah SMP dan sudah
beranjak dewasa, diberi satu bedeng terpisah oleh Ajid. Sama seperti
umumnya kamar anak-anak, di kamar Heri terdapat poster Spiderman,
lemari bekas pakaian, kasur yang tanpa seprai, dan beberapa onggok
kertas bekas yang siap dijual. Semua berjejalan di bedeng itu.

Heri yang bercita-cita meneruskan sekolahnya tahun depan ke STM sudah
menjadi pemulung sejak kelas IV SD di Rangkasbitung. Ia bertekad akan
terus menjadi pemulung untuk membiayai pendidikannya, demikian juga
Hedi dan Hadi.

"Kami tidak memaksa anak-anak nyari. Hanya saya bilang tidak bisa
membiayai sekolah. Bolehlah kami dikatakan memeras tenaga anak-anak
jika itu untuk keperluan rumah tangga. Tetapi mereka nyari buat biaya
sekolah mereka, sesuai kemauan mereka," kata Hadijah tentang ketiga
anaknya.

Heri mengaku hampir semua teman sekelasnya tahu apa yang ia kerjakan
selepas pulang sekolah, termasuk guru-gurunya. Tetapi sejauh itu,
teman-teman jarang menghinanya sebagai pemulung. "Ada juga yang
menghina, Om, tetapi saya bilang, 'Elu tuh yang harusnya malu, sekolah
dibiayain orangtua'. Biasanya mereka malu sendiri," katanya.

Akil balig

Sebagai anak yang beranjak akil balig, Heri mengaku pada dirinya
timbul perasaan suka terhadap lawan jenis, teman-teman perempuan
sekelasnya. Tetapi ia mengaku harus lebih berkonsentrasi pada
pelajarannya. "Apa ada Om cewek zaman sekarang yang mau pacaran sama
pemulung?" kata Heri dengan nada bertanya. Kami semua terpancing untuk
tertawa.

Barang-barang bekas yang Heri dan adik-adiknya cari umumnya plastik
bekas minuman kemasan, kertas dan karton bekas, dan juga logam. Tetapi
sebagai anak-anak, mereka akan senang kalau menemukan mainan.
"Beyblade (gasing) ini juga hasil mulung, Om," kata Hadi menunjukkan
mainannya.

Demikian juga sepatu dan baju sehari-hari yang mereka kenakan,
sebagian besar dari hasil memulung, seperti tas sekolah yang ditemukan
Heri yang kini sudah kering di atas jemuran.

Satu hal yang mereka keluhkan, dan ini keluhan umum para pemulung,
bahwa rata-rata tempat sampah di perumahan sudah dikunci rapat-rapat
pemiliknya. Ini karena pemilik rumah tidak mau tempat sampahnya
diacak-acak binatang atau pemulung. Padahal, dari barang-barang bekas
yang masuk tempat sampah itulah Heri, Hedi, dan Hadi bisa bersekolah. 






http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke