Raja dan Kuda Mohamad Sobary
Raja yang tak menunggang kuda bukan raja. Alam bisa mengatur sebaliknya: raja seperti itu ditunggangi oleh kuda. Mungkin malah diinjak-injak, dan dikencinginya. Dengan begitu, ia sudah bukan raja lagi kedudukannya, melainkan budak. Misi kelangitan kita, yang harus kita panggul, selama kita masih kuat, dan tak ada halangan suatu apa, ialah menyingkirkan musuh-musuh yang hendak mengalahkan dan memperbudak kita, agar kitalah yang menguasai mereka. Dan kita yang menjadi raja. Sebulan lamanya, selama bulan suci Ramadhan, kita berperang melawan semua musuh. Kita lucuti kekuatan mereka, dan kemudian kita taklukkan mereka tanpa syarat, karena musuh yang sudah takluk tak lagi memiliki hak untuk mengajukan syarat apa pun. Di ujung bulan, bila selama sebulan penuh itu kita menang, kita berhak merayakan kemenangan itu dengan keanggunan seorang pemenang. Di zaman dahulu, di daerah taklukannya, seorang pemenang membangun kerajaan, menghimpun prajurit, dan mengumumkan ke segenap penjuru wilayah bahwa ia naik takhta sebagai raja. Lalu raja-raja kecil taklukannya bersimpuh di hadapan duli paduka tuanku sang raja baru, dan tiap saat mereka menyerahkan sebagian hasil bumi di dalam kerajaan mereka sebagai tanpa patuh. Lebih tepat mungkin tanda takut. Dalam kemenangan di hari raya ini, kita tak perlu membangun kerajaan. Kita menang di suatu wilayah yang tak memiliki batas-batas geografis. Dan karena itu kita menjadi raja tanpa kerajaan. Raja yang tak menunggang kuda bukan raja. Hal itu sudah jelas sejak tadi. Tapi raja yang tak punya kerajaan, dan tak punya wilayah yang jelas batas-batasnya, boleh jadi tetap seorang raja. Namanya raja rohani. "Kitakah raja rohani itu?" Dengan rendah hati, dan agak merasa malu, kita mengakuinya. Secara rohaniah kita telah menang dalam jihat besar sebulan lamanya. Secara abstrak kita dimahkotai Tuhan, dengan sebutan raja, karena kita pernah berhasil menguasai semua jenis nafsu, dan musuh-musuh yang mengancam kita. Musuh-musuh itu sudah kita taklukkan. Dan ibarat kuda, mereka kita kendalikan sepenuhnya. Kitalah raja yang menunggang kuda itu. Dalam fitrah alam, memang rajalah yang menunggang kuda. Bukan kuda yang menunggang raja. Maka, sejak awal bulan ini, ke mana-mana kita menunggang kuda. Tapi sampai kapan? Ini pertanyaan, dan mungkin lebih tepat "ancaman", yang sungguh menggelisahkan. Ya, sampai kapan, dan berapa lama, kita bisa terus-menerus duduk di punggung kuda? Sampai kapan kita merdeka sebagai raja, yang mampu mengendalikan semua jenis kudatermasuk kuda binal, dan yang paling binaldalam diri kita agar kita tetap patut dan berhak disebut raja? Biarpun kerajaan rohani itu luas tanpa batas, tapi sang raja di sana mudah sekali tergelincir dari status raja menjadi budak terendah. Di dalam masjid mudah kita tetap saleh sebagai raja yang menunggang kuda. Tapi bila kita masuk ke dalam birokrasi, dan mengatur distribusi uang, dan harta benda kepada pihak lain, mungkin akan lain lagi ceritanya. Kekuasaan dan kewenangan di tangan akan tetap membuat kita raja. Tapi godaan, dan nafsu-nafsu untuk memiliki dan menguasai sendiri uang dan harta benda itu, membuat kita menjadi raja yang tak menunggang kuda. Kita raja yang tergelincir dari punggung kuda. Godaan telah lulus dengan gemilang mengubah derajat sang raja menjadi budak. Dengan kata lain, di birokrasi ada kekuasaan dan kewenangan, tapi di sana tak ada raja. Di sana, yang ada mungkin hanya budak besar dan budak kecil, yang sama-sama berebut menjarah apa yang bukan milik mereka. Raja rohani diuji bukan di rumah Tuhan, melainkan di rumah rakyatdi istana presiden, di istana wakil presiden, di istana menteri, di istana dirjen, di istana direktur, di istana ketua NU, di istana ketua Muhammadiyah, di istana ketua tentara, di istana ketua polisi, di rumah ketua LSM, di istana para pebisnis dan juga di lingkungan wartawan dan tokoh-tokoh seniman dan budayawandengan pertanyaan: mampukah kalian menjadi raja yang tetap anggun menunggang kuda? Ini bukan pertanyaan mengada-ada. Teman-teman aktivis, yang gigih memantau program pembangunan di berbagai daerah, juga di departemen-departemen, melalui "sistem anggaran partisipatif", dan pihak lain yang secara khusus memantau "sistem anggaran berbasis gender" membawa laporan sahih, kuat, asli, bahwa anggaran pemerintah itu di mana-mana, yang terbesar, lenyap untuk keperluan rutin birokrasi itu sendiri. Mengejutkan bahwa anggaran rutin ituuntuk perawatan kantor, untuk gaji, untuk seminar, untuk lokakarya, training, pembekalandan ini bisa diada-adakan dan diatur menurut cara lamaditambah ongkos jalan-jalan pimpinan, untuk honor bulanan atau honor lain, untuk bayar hotel, untuk bayar taksi, untuk beli tusuk gigi, jumlahnya mencapai sekitartidak kurangtujuh puluh persen. Sikap selingkuh ini dilakukan secara rutin, hingga masih tampak wajar dan mulia. Ini bukan cermin "good governance" yang harus kita tegakkan. Pelayanan bagi kaum mikin hanya bisa terwujud bila "good governance" sudah berhasil membentuk "reformed minded leaders" yang saleh di rumah Tuhan, dan saleh pula di rumah rakyat. http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/ http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda [Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
