Multikulturalisme dan Nilai Agama
Oleh Dr. ROHMAT MULYANA

DEWASA ini buku yang mengangkat isu multikultural cukup banyak terbit
di belahan dunia Barat. Menjamurnya buku tersebut seiring dengan
adanya semangat komunitas baru pada negara-negara maju yang
berpenduduk heterogen. Setidaknya ada dua negara yang paling banyak
menerbitkan buku-buku sejenis, yaitu Inggris dan Amerika Serikat. Pada
dua negara tersebut memang diversifikasi penduduk yang terdiri atas
beragam etnik, ras, budaya, dan agama selalu menjadi bahan pembicaraan
hangat. Apalagi tatanan politik global yang dibentuk oleh image
benturan budaya seperti yang ditulis Huntington (2002) seolah telah
berhasil mengukuhkan hegemoni peradaban negara maju.

Isu multikultural kemudian semakin mengkristal dalam pandangan yang
lebih ekstrem, yaitu multikulturalisme. Dengan adanya tambahan "isme"
dari akar katanya (multikultural), istilah ini ternyata semakin tidak
mudah dipahami. Bethany Bryson (2006), seorang profesor dari
Universitas Virginia, mencoba menelusuri kompleksitas makna kata
tersebut. Ia mewawancara sejumlah profesor berkaliber dalam urusan
multikultural yang akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa makna istilah
tersebut ternyata masih kabur dan perlu diperjuangkan.

Meski begitu, ada dua hal yang menarik dicermati dari hasil riset
Bryson berkenaan dengan ditemukannya kecenderungan utama dalam
memahami istilah multikulturalisme. Multikulturalisme sering
dipersepsi sebagai politik pengajaran dan nilai keragaman pada tatanan
masyarakat plural. Dua istilah tersebut sebenarnya terkait erat dengan
dunia pendidikan yang satu dengan yang lainnya tidak saling
mengecualikan (mutually exclusive), bahkan dapat dikatakan ibarat dua
sisi uang yang berbeda.

Isu multikulturalisme sebenarnya tidak terlepas dari tatanan politik
global. Dunia Barat yang kini sedang berupaya mengubah tatanan dunia
baru agar menjadi "miliknya" mengangkat isu multikulturalisme sebagai
tema penting yang ditawarkan dalam mengubah citra masyarakat
heterogen. Memang luar biasa, dalam prinsip pendidikan multikultural
misalnya, pengakuan terhadap perbedaan menjadi hal yang sangat
diutamakan. Hak asasi individu atau kelompok apa pun bentuk
keunikannya memperoleh tempat yang terhormat di mata
multikulturalisme. Bahkan orientasi seksual semacam homoseksual
sekalipun secara perlahan memperoleh tempat di tengah masyarakat Barat.

Dari sinilah kemudian berkembang semangat komunitas yang
mencampuradukkan antara keragaman dengan keagamaan, antara yang
eksoterik dengan yang esoterik. Setiap keunikan budaya dibiarkan
berkembang, namun pada saat yang sama interaksi trans-budaya yang
inferior dengan budaya yang superior dapat menyebabkan semakin
lunturnya nilai-nilai budaya pada kalangan minoritas yang cenderung
inferior. Karena salah satu elemen pembentuk kebudayaan adalah agama,
maka keadaan ini sesungguhnya dapat menggambarkan terjadinya
pengikisan nilai-nilai agama secara perlahan.

Pada kejadian semacam itu, dampak multikulturalisme dapat menerobos
jauh pada wilayah nilai-nilai intrinsik suatu keyakinan agama. Saat
nilai agama sudah dilenturkan untuk mengikuti irama masyarakat yang
plural, maka batas-batas elemen identitas suatu komunitas beragama
dipastikan akan semakin kabur manakala berada dalam posisi yang kalah
jumlah, kalah kualitas, dan kalah power. Sementara di lain pihak
komunitas beragama yang memiliki superioritas budaya, ekonomi, dan
politik akan semakin diuntungkan.

Karena itu, dengan asumsi agama berperan penting dalam pembentukan
budaya, maka apa yang terkandung dalam gagasan multikulturalisme
sesungguhnya menyangkut eksistensi agama itu sendiri. Agama bukan
hanya diakui sebagai kekayaaan yang unik tetapi bisa menjadi sesuatu
yang ikut lebur dalam tempat percampuran (melting pot) budaya yang
diakui sebagai milik bersama. Ini sesungguhnya berpotensi untuk
melahirkan —meminjam istilah Harold Titus (1979)— perang nilai (war of
values) yang sebenarnya lebih dahsyat ketimbang sebuah benturan budaya
seperti yang digambarkan Huntington. Kekalahan dalam perang nilai
dapat melahirkan penyakit schizophrenia, kepribadian ganda, atau
bahkan kehilangan jati diri sama sekali pada kalangan generasi muda.

Inilah sebenarnya gejala yang dikhawatirkan banyak kalangan pada
tatanan dunia global. Dalam bukunya Our Endangered Values, mantan
Presiden Amerika Jimmy Carter menggarisbawahi adanya krisis moral pada
bangsa Amerika yang pada gilirannya memerlukan penguatan semangat
religius dalam perspektif agama Kristen. Begitu juga John Esposito,
seorang profesor dari Georgetown University yang memiliki perhatian
besar terhadap Islam mensinyalir adanya dampak multikulturalisme dan
pluralisme terhadap sistem keyakinan suatu komunitas Muslim. Bagi
Esposito, pengakuan terhadap keragaman yang ada dalam agama lain tidak
harus melemahkan sistem keyakinan umat Islam.

Kekhawatiran tersebut sebenarnya telah terjadi pada sebagian
masyarakat kita. Bahkan boleh jadi dampak multikulturalisme ini telah
berkembang dalam spesies yang berbeda dari apa yang terjadi di negara
asalnya. Pencampuran budaya pada masyarakat plural di belahan dunia
Barat tampaknya masih diimbangi oleh kemampuan menimbang secara kritis
terhadap pengalaman hidup yang penuh tantangan akibat perbedaan. Namun
tidak demikian dengan apa yang terjadi dalam masyarakat kita.
Multikulturalisme yang dipromosikan melalui dunia maya seperti
televisi, VCD, film, internet, dll., diakui ataupun tidak, telah
membentuk kerelaan sosial kawula muda secara masal untuk menerima
budaya orang lain yang sebenarnya dapat membengkokkan keyakinan kita
terhadap kaidah agama. Di sisi lain, gerakan intelektual yang
cenderung kebablasan dalam menerjemahkan toleransi beragama juga
sesekali terjadi.

Fenomena tersebut muncul bukan hanya karena kuatnya pengaruh
perlintasan budaya dan paham multikulturalisme saat ini, tetapi juga
akibat keadaan generasi muda masyarakat kita yang kurang melek
spiritualitas dan pemahaman agamanya. Ini adalah tantangan bagi dunia
pendidikan, khususnya pendidikan agama, dalam menyiapkan generasi
muda. Untuk itu, yang kita butuhkan sekarang ini adalah model
pendidikan agama yang mampu membentuk cara pandang terbuka, toleran,
dan simpatik terhadap perbedaan, namun di sisi lain keimanan dan
perwujudan syariat agama harus menjadi basis utama bagi pengembangan
semua tatanan berpikir dan sikap sosial tersebut.***  

Penulis, dosen UIN Bandung, sedang mengikuti "Post-Doctor Visiting
Scholar Program" di Columbia University, AS.




http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke