Pendidikan Multikultural Sekolah Dapat Menjadi Lahan untuk Menghapus Prasangka
Jakarta, Kompas - Pendidikan multikultural kian mendesak untuk dilaksanakan di sekolah. Dengan pendidikan multikultural, sekolah menjadi lahan untuk menghapus prasangka. Pembangunan rasa kesatuan berdasarkan budaya lokal juga dapat dimulai di sekolah. "Sayangnya, sejauh ini pendidikan multikultural yang menjadi perhatian dunia internasional itu masih asing di Indonesia," kata tokoh pendidikan HAR Tilaar dalam seminar "Program Pendidikan Multikultural untuk Anak Usia Sekolah di Indonesia". Acara yang diselenggarakan di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta tersebut berlangsung dua hari, 16-17 November 2006. Tilaar mengatakan, Indonesia terdiri atas ratusan suku dengan bahasa berbeda, namun mampu membentuk negara-bangsa. "Bagi dunia internasional, Indonesia menjadi laboratorium kehidupan multikultural," ujarnya. Multikulturalisme yang belum tua usianya itu sendiri pesat berkembang di dunia yang semakin terbuka, seiring perkembangan teknologi informasi. Warga di berbagai belahan bagian dunia berbeda dapat mengamati kehidupan di tempat lain melalui berbagai media. Hanya saja, kata Tilaar mengingatkan, tidak ada satu model tunggal untuk pengembangan model pendidikan multikultural. Hal ini mengingat multikulturalisme di berbagai wilayah mempunyai akar dan sejarahnya masing-masing. "Oleh karena itu, di Indonesia, sekolah dapat merumuskan model pembelajaran mana yang sesuai," katanya. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas Suyanto mengatakan, setidaknya ada dua hal yang perlu dilakukan dalam pembangunan pendidikan multikultural di sekolah. Pertama, melakukan dialog dengan menempatkan setiap peradaban dan kebudayaan yang ada pada posisi sejajar. Kedua, mengembangkan toleransi untuk memberikan kesempatan masing-masing kebudayaan saling memahami. "Toleransi diperlukan tidak hanya pada tataran konseptual, melainkan juga teknis operasional," ujarnya. Proyek percontohan Pusat Kajian Pembangunan Masyarakat (PKPM) Universitas Katolik Atmajaya—dengan bantuan dana dari Kedutaan Besar Amerika Serikat—telah mengembangkan model pendidikan multikultural di tingkat pendidikan dasar. Ada delapan SD percontohan, yakni empat SD negeri dan empat SD berbasis agama (Islam, Katolik, Protestan, dan Buddha). "Kami menggunakan buku dan film seri Pustaka Anak Nusantara yang dirancang untuk pendidikan multikultural oleh Visi Anak Bangsa. Anak diajak menonton film dokumenter tentang kehidupan anak dari suku lain. Setelah itu diadakan diskusi kelompok, membuat prakarya, bernyanyi dan menceritakan kembali," ujar Murniati Agustian, kepala proyek percontohan ini. Hasilnya, kata Murniati, pengetahuan dan sikap anak berubah. Muncul nilai-nilai baru dalam memandang perbedaan. Ketua Yayasan Visi Anak Bangsa, Debra Yatim, mengatakan bahwa seri yang dikerjakan bersama dengan PT Indofood itu tidak hanya mengenalkan berbagai budaya dari sudut pandang anak. Akan tetapi, kata Debra menambahkan, mampu menjembatani antara masyarakat perkotaan dan mereka yang hidup dengan cara berbeda. (INE)
