Orang Baduy Sakit, Malah Minta Ditonjok

PENDERITA sakit lazimnya berperilaku manja. Kalau harus berjalan pun,
umumnya minta dipapah dan jalan pun harus perlahan. Namun, tidak
begitu bagi orang Baduy di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Masyarakat
yang tinggal di daerah terpencil itu, ketika jatuh sakit, malah minta
ditonjok. Lho kok malah ingin ditonjok?

Bagi kita, permintaan ingin ditonjok sepertinya permintaan "ngawur"
dan aneh. Tapi begitulah masyarakat Baduy. Kalau sakit, mereka
langsung mendatangi mantri atau petugas kesehatan lainnya dan minta
ditonjok. Begitu bertemu dengan mantri, biasa awalnya mereka mengeluh
tentang penyakit yang dideritanya. Terakhir, kemudian minta ditonjok.

Tonjokan mantri atau petugas kesehatan diyakini bisa mengusir berbagai
penyakit. Penyakit yang dominan diderita warga Baduy yakni penyakit
kulit scabies (budug dalam bahasa Baduy). Juga infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA), diare, panas, caries (kelainan pada mulut),
gastritis (sakit perut/lambung) dan hipertensi.

Ir. Imam Solichudin, District Coordinator DBE1 USAID Kabupaten Lebak,
memaparkan tentang kebiasaan baru orang Baduy yang ingin sembuh dari
sakitnya dengan ditonjok. Hal itu, menurut Imam, menandai pola
perubahan pelayanan kesehatan di kalangan masyarakat Baduy. Dulu,
mereka berobat dengan mengacu pada pengalaman tradisional. Perubahan
sosial telah mendorong warga Baduy menerima obat-obat dari luar,
termasuk pelayanan kesehatan modern, tanpa menghilangkan tradisi
pengobatan tradisional yang mereka kuasai.

Lazimnya, petugas kesehatan dari Puskesmas Cisimeut misalnya, secara
rutin mendatangi kampung-kampung Kaduketug, Gajeboh, Leuwibuleud,
Kaduketer, Kadujangkung dan Cisabah. "Kebiasaan masyarakat Baduy Luar
yang sakit, saat ketemu mantri, pasti minta 'ditonjok'."

Namun, ungkap Imam, jangan salah mengartikan. Bukan minta ditonjok
dengan kepalan tangan. "Maksudnya 'ditonjok' bagi warga Baduy berarti
disuntik, ha ha ha...," kata Imam Solichudin sewaktu memaparkan
makalah "Derajat Kesehatan Masyarakat Baduy" pada seminar
"Mensejahterakan Masyarakat Baduy Melalui Perlindungan Terhadap Adat,
Tradisi dan Hak Ulayat Mereka" di Serang, Sabtu (4/11).

Bagi warga dewasa, mereka pun tidak cukup ditonjok, eh disuntik, di
pantat sebelah kiri saja. Mereka bahkan minta ditonjok dobel. Ya
pantat kiri, ya sebelah kanan juga. Supaya paten dan penyakit yang
mereka derita segera kabur. Kalau anak-anak atau remaja, memang cukup
satu "tonjokan" saja. "Pembayarannya bervariasi. Ada yang membayar Rp
5.000,00, Rp 25.000,00. Bahkan ada yang memberi Rp 50.000,00."

Mereka berani "membayar mahal", padahal di sana ada pengobatan gratis,
rupanya terkait sugesti. Makin mahal bayarannya, makin mantap
tonjokannya serta makin manjur. "Orang Baduy mulai percaya, obat yang
lebih mahal mesti lebih manjur. Oleh karena itu, mereka sering kali
minta takaran obat yang lebih mahal, dan bersedia membayar Rp
50.000,00 untuk satu kali suntik. Padahal perda menentukan, satu kali
pelayanan, mereka cukup membayar Rp 2.000,00," kata Imam Solichudin.

Pemkab Lebak sebenarnya telah mengeluarkan kartu berobat gratis. Di
Desa Kenekes misalnya, dikeluarkan kartu Asuransi Kesehatan Keluarga
Miskin (Askeskin). Sebanyak 766 KK (2.911 jiwa) di Desa Kanekes
mendapatkan pelayanan kesehatan gratis.

Di luar penyakit dominan tersebut, warga Baduy kadang terjangkit
semacam penyakit khusus. Namanya penyakit frambusia atau patek dalam
bahasa setempat. Para petugas kesehatan menyebut penyakit menular ini
hanya ada di komunitas Baduy Dalam.

Gejala penyakit ini berbentuk layaknya cendawan di kulit dan
berkembang menjadi benjolan (papilomata) di permukaan kulit. Penyakit
yang dipicu oleh semacam bakteri ini kemungkinan dibawa oleh kebiasaan
warga yang mandi tanpa menggunakan sabun atau begitu selesai mandi
tidak ganti baju. Penyakit ini, bisa menjadi kronis hingga
mengakibatkan bengkok pada tulang. Penyakit khusus ini selama tahun
2006 ditemukan tiga kasus, 2005 lima kasus, 1990 dua kasus, 1982
sebelas kasus, 1981 enam kasus, 1980 tiga kasus, 1978 lima kasus, dan
1975 dua kasus.

Karena jenis obat yang tersedia di puskesmas, sangat terbatas dan
lebih banyak tersedia amoxilin, petugas kesehatan pun memberikan
amoxilin kepada pasien yang saat itu datang berobat. Karena obat itu
dirasakan manjur oleh warga Baduy, warga pun hafal, kalau sakit patek
harus diobati amoxilin.

Begitu penyakit serupa menyerang lagi, selain minta "ditonjok", mereka
pun minta amoxilin. Walau ada antibiotik lain pun, warga Baduy tetap
minta amoxilin. Karena antibiotik itulah yang dirasakan manjur
menyembuhkan penyakit patek. (Mukhijab/"PR").***




http://groups.yahoo.com/group/baraya_sunda/
http://barayasunda.servertalk.in/index.php?mforum=barayasunda


[Ti urang, nu urang, ku urang jeung keur urang balarea] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Baraya_Sunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke