Peran Negara Islam di Tengah Konflik Irak

Rakaryan Sukarjaputra

Konflik berdarah di Irak dari hari ke hari tidak pernah berhenti
memakan korban jiwa. Pasukan Amerika Serikat dan aliansinya terbukti
tak berdaya menghadapi gelombang kekerasan yang membuat siapa pun
warga Irak tidak lagi memiliki ketenangan hidup dan harapan akan masa
depan yang lebih baik.

Dalam kondisi seperti itu muncul gagasan yang mempertanyakan masih
layakkah mengatakan persoalan Irak adalah persoalan AS dan aliansinya,
yang memang memulai semua kekacauan itu?

Perkembangan kehidupan di Irak yang tidak pernah berhenti diwarnai
berbagai aksi kekerasan dan korban jiwa, terutama di kalangan rakyat
biasa, semakin menunjukkan bahwa keberadaan pasukan AS dan aliansinya
sebagai pencipta masalah di Irak tidak akan pernah bisa menjadi bagian
dari penyelesaian masalah.

Upaya Pemerintah AS menghadirkan pemerintahan yang demokratis di Irak
tidak pernah berhasil sebagaimana ditunjukkan dengan minimnya
pengakuan berbagai elemen masyarakat di Irak terhadap pemerintahan
itu. Bahkan sebaliknya, obyek-obyek pemerintahan dan mereka yang
memiliki kaitan dengan Pemerintah Irak menjadi target serangan
berbagai kelompok pelaku kekerasan di Irak karena dianggap sebagai
representasi dari kepentingan AS.

Rekonsiliasi yang diupayakan di Irak sangat sulit akan bisa meredam
berbagai aksi kekerasan selama AS dan aliansinya tetap berada di
negara itu. Wajarlah apabila di kalangan masyarakat Irak sendiri kini
semakin kuat suara yang menginginkan AS dan aliansinya segera angkat
kaki dari Irak, dan biarkan rakyat Irak menyelesaikan persoalannya
sendiri.

Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai tiga jalur
penyelesaian masalah Irak, yang disampaikan saat mengadakan jumpa pers
bersama dengan Presiden George Walker Bush, di Istana Bogor, pekan
lalu, memang sempat membuat banyak pihak terkaget-kaget.

Beberapa kalangan berpandangan, gagasan yang disampaikan Presiden
Yudhoyono itu adalah titipan AS yang didesakkan kepada Pemerintah RI,
dengan iming-iming bantuan finansial tertentu, sehingga dinilai RI
telah masuk dalam perangkap kepentingan AS. Beberapa kalangan lain
juga mempersoalkan, mengapa Indonesia mau bersusah payah membantu
menyelesaikan masalah Irak, sementara AS sang pembuat masalah angkat
kaki dari Irak.

Ada juga kalangan yang bisa memahami itikad baik Pemerintah RI
membantu penyelesaian masalah Irak, tetapi menyayangkan kesediaan RI
itu tidak digunakan untuk mendapatkan keuntungan timbal balik lebih
besar dari AS. Terkesan kuat, Indonesia yang dulu sangat menentang
penyerbuan AS ke Irak kini telah berbalik arah dan seolah-olah ikut
membela AS untuk menyelesaikan persoalan di Irak.

Disuarakan di OKI

Wajarlah kalau beberapa kalangan kemudian mempertanyakan dan meminta
Presiden Yudhoyono mengklarifikasi pernyataannya itu. Presiden
kemudian menjelaskan bahwa perlu sebuah set-up yang baru untuk Irak,
di mana pasukan AS dan aliansinya ditarik untuk kemudian diganti
pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berunsurkan utama pasukan dari
negara-negara Islam.

Pemikiran mengenai perlunya PBB lebih berperan dalam menyelesaikan
masalah Irak sesungguhnya sudah disampaikan pada pertemuan luar biasa
ketiga negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Mekkah,
Desember 2005. Dalam Pernyataan Akhir pertemuan itu disebutkan,
pertemuan mendorong lebih jauh pentingnya peran PBB di Irak dengan
bekerja sama dengan OKI.

Pemikiran itu pulalah yang kemudian disuarakan lagi beberapa ulama
Indonesia pada pertemuan sumbang saran di Departemen Luar Negeri.
Keprihatinan yang mendalam terhadap nasib umat di Irak menjadi alasan
utama, selain memperbaiki citra Islam di tengah sebagian masyarakat
dunia yang melihat aksi kekerasan berdarah antarumat satu dengan umat
lainnya, yang sering digambarkan sebagai konflik antara penganut Syiah
dan penganut Sunni. Padahal, baik wakil Sunni maupun wakil Syiah Irak
pada pertemuan di Mekkah telah menegaskan bahwa konflik di Irak
bukanlah konflik Sunni-Syiah, melainkan konflik politik yang
mengendarai agama.

Dorongan dari dalam Irak sendiri, serta perubahan lanskap politik di
AS pascapemilu sela yang memunculkan Partai Demokrat sebagai kekuatan
utama politik AS menggusur Partai Republik, memang membuka peluang
untuk mendorong peran PBB di Irak itu. Terlebih lagi Iran dan Suriah
sebagai dua tetangga Irak juga sudah bergerak mendekat, dengan membuka
hubungan dengan Irak. Maknanya, di kawasan Timur Tengah sendiri memang
tengah terjadi gerakan untuk mendorong peran negara-negara di kawasan
itu yang mayoritas adalah negara-negara Islam.

Tentu saja upaya-upaya itu dilakukan di luar kerangka strategis AS
yang hingga kini tampak malas untuk melibatkan Iran dan Suriah dalam
proses mewujudkan perdamaian di Irak.

Di tengah perkembangan seperti itu, upaya Indonesia mempromosikan tiga
pendekatan yang harus dilakukan secara simultan di Irak memberikan
warna lebih tegas lagi terhadap peran negara-negara Islam di tengah
konflik Irak. Kini saatnya negara-negara Islam menunjukkan solidaritas
dan juga kemampuannya untuk mengatasi konflik yang terus merenggut
nyawa manusia di Irak.

Pihak AS kabarnya memang pernah mempertanyakan, apakah pasukan
negara-negara Islam di Irak akan punya hak untuk menembak, memiliki
kemampuan untuk menembak? Hal itu kemudian dijawab, yang penting
adalah bukan punya hak menembak atau tidak, karena kehadiran pasukan
Islam seperti dari Indonesia kecil kemungkinan akan dimusuhi. Akan
tetapi syaratnya tentu saja pasukan itu bukan menjadi bagian dari
pasukan koalisi pimpinan AS yang ada di sana sekarang ini.

Di sisi lain, upaya itu juga harus diawali upaya proses rekonsiliasi
penuh tanpa keterlibatan AS dan sekutunya, yang melibatkan semua
kekuatan yang ada di Irak, khususnya Syiah, Sunni, dan Kurdi. Di bawah
payung PBB dan didukung OKI, rekonsiliasi di Irak itu berpeluang besar
bisa dicapai sebagaimana pandangan wakil-wakil kelompok kekuatan di
Irak saat mereka menghadiri pertemuan darurat OKI di Mekkah.

Tidak mudah

Bagi AS, keluar dari Irak bukanlah keputusan yang mudah, meski semakin
banyak warga AS menginginkannya. Selain menyangkut harga diri bangsa
yang akan kembali dipermalukan setelah dipaksa mundur dari Vietnam, AS
juga sudah menanamkan miliaran dollar uangnya di Irak dengan harapan
akan memperoleh kembali dana "modalnya" itu dari hasil penjualan
minyak Irak yang kini praktis lebih dikuasai AS. Pergi begitu saja
dari Irak, karena itu, berarti juga kehilangan prospek memperoleh
kembali miliaran dollar uang rakyat AS yang sudah digelontorkan ke
Irak. Bagaimana uang itu akan dipertanggungjawabkan? Di sisi lain, AS
pun tentu tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan Irak dalam
kehancuran. Negara itu masih memiliki tanggung jawab utama untuk ikut
merehabilitasi dan mengonstruksi kembali Irak yang hancur lebur karena
perang berkepanjangan. Ini, tentu saja, adalah soal uang dalam jumlah
besar yang belum tentu bisa diperoleh kembali oleh AS dalam jangka pendek.

Oleh karena itu, sesungguhnya tidak ada yang sangat diuntungkan dengan
situasi di Irak sekarang ini. Negara-negara Islam yang ketiban susah
akibat ulah AS di Irak kini harus terjun langsung memadamkan api yang
dibuat AS. Akan tetapi, bagi AS, mereka pun tidak bisa pulang dengan
menegakkan dada, bahkan mungkin berdarah-darah. Sekarang tinggal kita
tunggu, apakah AS mau dengan legawa mundur dari Irak dan menerima
digantikan perannya oleh PBB dan negara-negara Islam. 

Kirim email ke