Yordania desak Irak agar bersatu
Raja Yordania, Abdullah
Raja Abdullah mendesak para pemimpin Irak untuk mencegah kekerasan
sektarian
Raja Yordania, Abdullah mendesak para pemimpin keagamaan dan politik
Irak untuk mencegah negara mereka hancur.
Dalam wawancara dengan BBC, Raja Abdullah mengatakan para pemimpin
Irak harus menyadari keseriusan masalah ini dan mencegah Irak
dihancurkan oleh "putaran kekerasan".
Pernyataan itu dia sampaikan menjelang pertemuan antara Perdana
Menteri Irak Nouri Maliki dan Presiden AS George Bush di Yordania.
Sebelumnya, Presiden Irak Jalal Talabani mendesak Iran untuk mendukung
pemerintah Irak yang terpilih, bukan kelompok-kelompok milisi Syiah.
Talabani memperpanjang lawatannya untuk datang ke Teheran, yang
direncana untuk meyakinkan Iran agar membantu menstabilkan Irak.
Peningkatakan kekerasan
Raja Abdullah dijadwalkan akan menjamu pertemuan Presiden Bush dan PM
Maliki dalam pertemuan puncak tiga pihak di Amman pada hari Rabu.
Tentara Yordania
Keamanan ditingkatkan di Amman menjelang pertemuan
Menjelang pertemuan tersebut, Raja Abdullah mengatakan kepada BBC
Siaran Bahasa Arab bahwa dia sangat khawatir dengan peningkatan
kekerasan di Irak.
"Kami telah memperingatkan, mulai dari awal dan kami lakukan lebih
dari satu kali, bahwa perseteruan politik ini berkembang menjadi
konflik sektarian dan agama antara orang-orang yang satu agama di satu
negara," katanya.
"Kami mendesak saudara-saudara kami di Irak, para pemimpin politik dan
pemuka agama di Irak - baik itu Syiah atau Sunni - untuk menyadari
keseriusan situasi ini dan tidak membiarkan konspirasi terjadi yang
bertujuan untuk memecah atau menghancurkan Irak dalam putaran
kekerasan dan kekacauan."
Bush, yang akan datang ke Amman, Yordania setelah menghadiri KTT NATO
di Latvia, diperkirakan akan mendesak Nouri Naliki agar mencari
penyelesaian atas aksi kekerasan di Irak yang terus meningkat.
Kedua pemimpin itu juga akan membicarakan upaya untuk memberi
tanggungjawab lebih besar kepada pasukan keamanan Irak.
Memo dibocorkan
Hanya beberapa jam sebelum pertemuan dilangsungkan, koran the New York
Times menerbitkan rincian sebuah memo yang berisi keraguan penasehat
keamanan nasional pemerintah Bush, Stephen Hadley, akan kemampuan
Perdana Menteri Irak Maliki mengendalikan kekerasan sektarian.
PM Irak Nouri Maliki
Sebuah memo terungkap yang mempertanyakan kemampuan PM Irak menangani
kekerasan
Menurut koran itu, memo tertanggal 8 November yang dikirimkan ke para
pejabat tinggi AS menyarankan agar Gedung Putih mengambil tindakan
tambahan untuk memperkuat tangan Maliki.
"Niatnya [Nouri Maliki] sepertinya baik ketika dia berbicara kepada
para pejabat Amerika, dan laporan-laporan yang peka mengungkapkan dia
berusaha untuk tegas terhadap kepemimpinan kalangan Syiah dan
menerapkan perubahan yang positif," kata memo itu.
"Namun kenyataan di jalan-jalan Baghdad menunjukkan bahwa Maliki tidak
mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, atau tidak mampu menerapkan
niat baiknya."
Jurubicara Gedung Putih Tony Snow, yang ikut dalam rombongan Bush,
mengatakan tujuan utama memo itu adalah "untuk membantu Maliki dan
meningkatkan kemampuannya".