Energi Alternatif Mesti Dikembangkan secara Serius

Bandung, Kompas - Mengantisipasi terjadinya krisis energi—khususnya
hidrokarbon—di masa mendatang, penggunaan energi dan pembangkit
listrik alternatif perlu dijajaki secara serius. Tanpa dukungan
finansial dan investasi yang konkret, pengembangan energi alternatif
hanya sebatas wacana.

"Sebagai bangsa, kita jangan hanya bangga memiliki sumber daya
melimpah. Agar jangan jadi bangsa kerdil, kita harus mulai pandai
mengolah potensi sumber daya alam. Apalagi, negara kita kaya potensi
energi terbarukan yang sangat besar, mulai tenaga surya, geotermal
(panas bumi), bayu (angin), biomassa, arus laut, hingga ombak," ujar
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Said Djauharsjah Jenie
di Bandung, Minggu (26/11).

Dalam program kerja saat ini, ungkap Said, pengembangan energi
alternatif dan pembangkit listrik terbarukan telah menjadi prioritas
BPPT. Terlebih setelah Presiden mengeluarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 5 Tahun 2006 tentang Strategi Energi Nasional "Energy Mix 2025".

Dalam konsep ini, pemanfaatan energi biofuel diharapkan mencapai 5
persen dari total konsumsi energi nasional. Sementara energi lainnya,
yaitu surya, biomassa, angin, dan batu bara mencapai 7 persen.
Sebaliknya, konsumsi minyak bumi diharapkan turun dari 54,4 persen
menjadi 20 persen.

"Tahun ini, fokus ada di penyiapan perangkat hukum dan kebijakan serta
pembelian lahan. Selanjutnya baru penunjukan desa-desa mandiri sebagai
proyek percontohan yang mulai ditindaklanjuti pengolahan lahan, bahan
baku, dan produksi skala kecil," ujar guru besar ITB ini.

Untuk pengembangan biodiesel, misalnya, BPPT saat ini telah
mengembangkan penelitiannya di pabrik percontohan di Riau. Di tempat
ini, mulai Desember 2006, produksi biodesel ditargetkan bisa mencapai
kapasitas delapan ton per hari. Sementara untuk bioetanol,
pengembangan dilakukan di Slusuban, Lampung.

Selain ramah lingkungan, penggunaan bioetanol, biodiesel, dan bio-oil
berdampak positif terhadap terciptanya lapangan kerja baru. Dalam
presentasinya, Said menjelaskan, produksi bioetanol per 1,85 juta
kiloliter, misalnya, mampu membuka lapangan kerja bagi 1,2 juta orang,
hanya untuk perkebunan saja. Untuk biodiesel, jumlahnya bahkan lebih
besar, yaitu 3,4 juta orang dalam skala produksi 1,24 juta kiloliter.

Untuk pengembangan pembangkit listrik alternatif, BPPT saat ini
memfokuskan penelitiannya pada energi gelombang pantai dan tenaga
angin. Untuk energi gelombang pantai, ungkap Said, rencananya akan
mulai diproduksi massal dengan mengambil model Over Topping the Wave
Fixe Base. Syaratnya, jika dana sudah tersedia.

"Jujur, salah satu kendala adalah pendanaan. Pengembangan proyek ini
tentu butuh investasi besar. Bahkan, akibat dana pula kami lebih
memfokuskan pada penelitian," ujarnya. (jon) 

Kirim email ke