Dokter Jepang akui aniaya tawanan perang
 
        
Militer Jepang
Militer Jepang menduduki Filipina selama Perang Dunia II
Seorang mantan dokter Angkatan Laut Jepang dalam Perang Dunia II
mengatakan, dia diperintakan melakukan eksperimen medis terhadap
tawanan Filipina sebelum mereka dieksekusi.

Akira Makino, 84 tahun, mengatakan kepada kantor berita Kyodo bahwa
dia melakukan pembedahan dan amputasi terhadap tahanan yang akan
dieksekusi, termasuk anak-anak dan wanita.

Pasukan Kekaisaran Jepang diyakini melancarkan eksperimen medis
terhadap tawanan yang ditangkap di Cina.

Sedikit veteran Jepang menuturkan kekejian yang dilakukan selama perang.

Wartawan BBC Chris Hogg mengatakan, kebanyakan veteran ingin melupakan
masa lalu, dan mereka tidak begitu didorong pihak berwenang untuk
menuturkan pengalaman mereka.

Kesaksian Makino diyakini merupakan penuturan pertama oleh veteran
Jepang dari perang di Asia Tenggara yang menggambarkan eksperimen
medis terhadap tawanan.

Dianggap latihan

Makino ditugaskan di Pulau Mindanao, Filipina selama Perang Dunia II.

        
Tentara Jepang juga menduduki Cina semasa Perang Dunia II
Tentara Jepang juga menduduki Cina semasa Perang Dunia II

Dia mengatakan kepada kantor berita Kyodo bahwa dia mengoperasi
sekitar 30 tawanan antara Desember 1944 dan Februari 1945.

Operasi, yang mencakup amputasi dan bedah perut, dipandang sebagai
bagian dari latihan medis, kata Makino.

"Saya pasti akan dibunuh jika saya menolak perintah," jelas Makino.
"Ini yang terjadi di masa itu."

Makino juga mengatakan, dia muak dengan perintah untuk berlatih
membedah dua pria Filipina yang dianiaya hingga pingsan setelah
ditangkap atas kecurigaan menjadi mata-mata Amerika Serikat.

"Saya rasa,' betapa mengerikan yang saya lakukan terhadap orang-orang
tidak bersalah, meski saya diperintahkan untuk melakukannya," katanya.

Perang biologi

Makino mengatakan, dia masih dihantui kenangan atas tugas yang dia
lakukan di Filipina.

"Kita seyogyanya tidak akan mengulangi penderitaan semacam itu,"
katanya. "saya ingin menceritakan kebenaran tentang perang, sekali pun
ini hanya terjadi pada satu atau dua orang."

Satuan militer Jepang yang khusus menangani perang biologi diyakini
melakukan uji medis terhadap tawanan selama menduduki wilayah timur
laut Cina.

Paling tidak 3.000 tawanan diyakini mati di tangan anggota satuan ini.

Jepang mengakui keberadaan satuan ini, tapi belum mendakwa satu orang
pun berkaitan dengan tuduhan kekejaman.

Kirim email ke