Operasi PLTN Harus Ditolak Sumber Energi Alternatif Belum Digarap Optimal
Jakarta, Kompas - Rencana pembangunan reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir harus ditolak. Sebab, sumber energi alternatif yang lebih bersih dan aman untuk pembangkit listrik masih berlimpah di Indonesia. Sumber-sumber energi alternatif itu saat ini belum didayagunakan secara optimal dan terdesentralisasi. "Indonesia memiliki sumber energi alternatif seperti energi panas bumi yang lebih bersih dan aman daripada nuklir. Panas bumi kita memiliki energi potensial untuk pembangkit listrik hingga 29.000 megawatt, lebih besar daripada kapasitas terpasang PLN sekarang, 20.000 megawatt," kata Nur Hidayati, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Minggu (10/12). Sumber-sumber energi alternatif yang menjamin lebih bersih dan aman lainnya, lanjut Nur, misalnya mikrohidro, matahari, atau angin yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik skala kecil sampai menengah. Potensi sumber energi alternatif ini harus dikembangkan secara terdesentralisasi atau menyebar. Pengembangan pembangkit tenaga listrik yang bersih dan aman secara terdesentralisasi sangat tepat bagi wilayah kepulauan di Indonesia. Namun, pemerintah masih enggan mengoptimalkan potensi ini. "PLTN itu memiliki risiko jauh lebih berat daripada mengoptimalkan sumber energi alternatif yang didesentralisasikan ke berbagai wilayah," kata Nur. Jaminan keamanan Manajer Kampanye Tambang dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Pantoro Tri Kuswardono menilai bahwa PLTN yang akan dibangun di Semenanjung Muria, Jawa Tengah, dengan dua reaktor nuklir untuk pembangkit listrik berkapasitas 1.000 megawatt itu masih memiliki ketidakpastian jaminan keamanannya. "Kita juga patut mencurigai akan adanya ketergantungan penggunaan teknologi reaktor nuklir yang akan dibeli dari negara lain," kata Pantoro. Ia juga mengemukakan, bantuan dana sebagai bagian dari kerja sama teknis untuk persiapan PLTN dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang diterima Indonesia sejak 2002 tidak harus diikuti dengan realisasinya. Untuk membangun PLTN di Indonesia harus dipertimbangkan masak-masak. Selain masih berlimpah sumber energi alternatif yang lebih bersih dan aman, juga penggunaan limbah PLTN berupa plutonium berpotensi dapat dipergunakan untuk senjata nuklir paling mematikan di dunia. "Masyarakat Indonesia harus menolak penggunaan teknologi nuklir. Bantuan dana teknis yang selama ini diterima dari IAEA jangan menjadi utang Indonesia," kata Pantoro. Data dari Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, total bantuan dana IAEA 2002-2005 sebesar 31.324.670 dollar AS. Dilanjutkan 2005-2006 sebesar 667.080 dollar AS dan 680.250 dollar AS untuk mempersiapkan penggunaan energi nuklir. "Bantuan-bantuan itu akan menjadi bagian utang Indonesia, yang akhirnya memaksa realisasi proyek PLTN di Indonesia. Selanjutnya, tercipta utang lebih besar lagi akibat ketergantungan terhadap teknologi yang akan digunakan," kata Pantoro. (NAW)
