Muhun, kang. abdi oge kalebet mualaf ina kasundaan mah. baheula mah teu  
kapikir rek ngagunakeun basa sunda deui da puguh sakuriling mah geus  loba 
pandatang jeung asa jeung saha deuih ngobrolna da puguh teu  saeutik urang 
sunda ayeuna mah nyaiosna ku basa endonesia malah mah ku  basa inggris jeung 
arab. tah jigana ieu mah PR nu kudu geuwat dipigawe  meungpeung pamarhati aya 
dimamana jadi bisa pakumaha.
  

Rahman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                               
   "Susundaan"
  
  JIKA sekali waktu kita mendengar seseorang berucap atau mengucapkan
  satu dua kata dalam bahasa Sunda dan terdengar kurang pas, tetapi
  kemudian kita mengetahui bahwa orang tersebut bukan orang Sunda, kita
  pun akan segera mafhum. Misalnya ketika saya berada di dalam angkot
  jurusan Cicaheum. Di sepanjang jalan Pak Sopir menawarkan jasa
  angkutannya kepada siapa saja yang berdiri di tepi jalan dengan cara
  berteriak, "Cahem! Cahem!" Seketika saya dapat memastikan bahwa
  pengemudi angkot tersebut "bukan orang Sunda".
  
  Ketika baru menikah kami berkunjung ke rumah orang tua saya. Saat
  pulang istri saya berpamitan dalam bahasa Sunda, "Pa, abdi mulih
  heula"? Orang tua saya, entah tidak ngeuh, entah karena mafhum,
  menjawab pertanyaan tersebut seolah tidak ada sesuatu pun yang
  janggal. Barangkali dia memaklumi bahwa meskipun lahir dan besar di
  Kota Bandung, menantunya turunan "urang sebrang" yang berusaha
  "susundaan".
  
  Sebagai upaya untuk beradaptasi dengan lingkungannya banyak orang
  "bukan orang Sunda" yang berusaha keras berbicara dalam bahasa Sunda.
  Bahwa kemudian terdapat kekurangan di sana-sini, tentu merupakan hal
  yang wajar karena bahasa tersebut memang bukan bahasa mereka. Tetapi
  celaka jika kekurangan tersebut justru terdengar dari bibir urang
  Sunda, karena bisa berakibat lebih menggelikan atau malah membuat
  lawan bicara kita tersinggung.
  
  Suatu ketika, telefon di ruangan kerja kami berdering. "Kang, ti pun
  bojo", kata teman saya yang kebetulan menjawab deringan tersebut
  sambil menyodorkan telefon ke arah saya. Saya sempat terheran-heran,
  ada keperluan apa istrinya menghubungi saya lewat telefon. Tetapi yang
  terjadi ternyata tidak seperti yang saya pikirkan karena penelefon
  tersebut ternyata istri saya sendiri. Saya tersenyum geli memikirkan
  "kesalahan berbahasa" yang dilakukan teman saya tadi, yang pituin
  urang Sunda.
  
  Penggunaan bahasa Sunda oleh pituin urang Sunda dalam kenyataannya
  memang masih jauh dari kesempurnaan. Bahkan untuk bahasa yang paling
  sederhana, yang biasa digunakan di dalam percakapan sehari-hari
  sekalipun. Simak saja, masih banyak urang Sunda yang menyebut anggota
  keluarganya sendiri dengan sebutan ibu abdi, bapa abdi, raka abdi,
  istri abdi, dan sebagainya. Ketika ada seseorang mengetahui dan mau
  menggunakan kata yang benar (kata pun bojo), eh pemakaiannya yang salah.
  
  Lebih celaka lagi jika kesalahan berbahasa ini dilihat atau didengar
  banyak orang melalui media massa. Contohnya ketika seorang pemandu
  acara dari sebuah stasiun televisi swasta menemani pemirsanya
  "jalan-jalan" di Kota Bandung. Selama menemani pemirsanya sang pemandu
  menggunakan bahasa Sunda sebagai pengantar. Sayangnya, hal itu dia
  lakukan dengan agak "malu-malu". Di dalam ulasannya seringkali sang
  pemandu acara menyelipkan istilah bahasa Indonesia, walaupun
  padanannya di dalam hahasa Sunda sangat mudah ditemukan.
  
  Ujung-ujungnya saya khawatir, jangan-jangan suatu saat nanti, cara
  berbahasa kita, para pituin, akan kalah bagus dibanding
  saudara-saudara kita dari Jawa Tengah, Palembang, Bukit Tinggi, dan
  Medan. (Karya Gunawan/"PR")***
  
  
      
                                    

 
---------------------------------
Cheap Talk? Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke