--- In [email protected], "Rahman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > POLITIK DAN HUKUM > Elite Makin Sejahtera, Rakyat Tetap Merana > "Wealth Management" Menggarap Orang Kaya Indonesia
Tiur Santi Oktavia Kalimat "what money can buy?", atau apa yang bisa dibeli dengan uang, mungkin telah menjadi suatu jargon yang dikenal luas masyarakat. Uang memang tidak bisa membeli segalanya. Namun, uang bisa membeli suatu jasa dan pelayanan lengkap yang juga menawarkan keuntungan dan perlindungan. Penyediaan jasa dan layanan bagi orang-orang berduit di Indonesia menjadi bisnis menggiurkan untuk digarap perbankan. Apalagi perbankan memang masih dipercaya masyarakat untuk menaruh uangnya. Data menunjukkan, saat ini terdapat 3.328 rumah tangga di Indonesia yang memiliki aset senilai 5 juta dollar AS-20 juta dollar AS, dan terdapat 167 rumah tangga yang memiliki aset senilai 20 juta sampai 100 juta dollar AS. Tidak mengherankan kalau bisnis pengelolaan investasi dan keuangan menjadi begitu menggiurkan. Jika angka tersebut dikonversi ke rupiah dengan nilai tukar satu dollar setara Rp 9.000, ada 3.328 rumah tangga yang memiliki aset antara Rp 45 miliar-Rp 180 miliar, sedangkan yang memiliki aset Rp 180 miliar-Rp 900 miliar jumlahnya 167 rumah tangga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 80 persen berdomisili di Jakarta, 12,6 persen di Surabaya, dan 3,3 persen di Bandung. Adapun 4,1 persen lainnya tersebar di daerah lain di Indonesia. Perbankan kemudian mulai menyediakan jasa pelayanan pengelolaan investasi dan keuangan nasabah dengan segmen tertentu dengan nama layanan private banking atau secara umum dikenal dengan wealth management service. Definisi wealth management atau pengelolaan keuangan dan investasi adalah pelayanan yang diberikan perbankan yang akan memenuhi kebutuhan keuangan dan tujuan dari setiap nasabah individu maupun kelompok. Secara lebih spesifik, manajemen investasi dan keuangan tersebut adalah kombinasi dari produk dan pelayanan yang dibuat menjadi suatu paket untuk memenuhi tujuan hidup dan keuangan dari para orang kaya. Menurut Assistant Vice President Investment Management & Trust Group Private Banking Division Bank Negara Indonesia (BNI) Alwas Kurniadi Yarman, ada dua keuntungan bagi bank dalam menyediakan layanan ini. Pertama, dari sisi likuiditas, dana dari nasabah kaya tersebut biasanya tidak mudah masuk-keluar. "Jadi dananya sangat besar dan tidak mudah keluar-masuk," kata Alwas. Selain itu, dari sisi pendapatan nonbunga alias fee based income, juga sangat besar bagi bank. "Saat ini fee based income dari wealth management service sudah tumbuh lebih dari 150 persen. Diperkirakan masih akan meningkat hingga dua kali lipat," ujarnya. Alwas menjelaskan, secara historis wealth management dipandang sangat eksklusif, hanya melayani individu-individu dengan kekayaan di atas satu juta dollar AS, walaupun untuk saat ini dimungkinkan untuk membuka rekening wealth management hanya dengan saldo 50.000 dollar AS. Bank-bank asing memang sudah terlebih dahulu menyediakan layanan ini. Tidak heran jika 70 persen dana wealth management di Indonesia saat ini dikelola bank asing dan sisanya oleh bank lokal. Sebelumnya porsi asing 80 persen. Alwas yang juga merupakan President of Jakarta Private Bankers Club (JPBC) menguraikan, menurut Scorpio Partnership's Annual Private Banking Benchmark for 2006, divisi wealth management terbesar dimiliki UBS AG, diikuti Citigroup dan Merril Lynch, yang masing-masing memiliki aset kelolaan (assets under management/AUM) lebih dari satu miliar dollar AS. Tumbuh pesat Bisnis ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat pada profit dan aset kelolaan selama tahun 2006. Sejak tahun 2000 hingga 2003 bisnis ini mengalami pertumbuhan yang lambat karena penurunan pasar modal dan melambatnya pertumbuhan ekonomi global. "Kajian Scorpio Partnership tersebut juga menyatakan, laba sebelum pajak dari 71 penyedia jasa wealth management yang disurvei tumbuh 25 persen sepanjang tahun 2005. Aset kelolaannya naik 18 persen atau sekitar 8,5 miliar dollar AS," kata Alwas. Sementara itu, menurut Goldman Sachs, aliran modal yang akan masuk ke private banking meningkat sekitar 7 persen per tahun hingga tahun 2007. Di Indonesia, bank lokal pertama yang mulai menggarap nasabah dengan dana di atas Rp 250 juta tersebut adalah Bank Niaga pada tahun 1992, diikuti dengan Bank Negara Indonesia (BNI) pada tahun 1993. Saat ini lebih dari 13 bank lokal yang terjun ke bisnis ini. Ada empat segmen nasabah perbankan, yaitu nasabah dengan dana kurang dari Rp 250 juta (mass retail) yang dilayani dengan produk perbankan ritel. Kemudian nasabah dengan dana mulai dari Rp 250 juta sampai Rp 500 juta (mass affluent) dan nasabah dengan dana Rp 500 juta sampai dengan kurang dari Rp 1 miliar (high net worth individual/HNWI) yang dilayani dengan priority banking. Selain itu, nasabah dengan dana di atas Rp 1 miliar (ultra-high net worth individual) yang dilayani dengan private banking. Nasabah dengan dana di atas Rp 250 juta itulah fokus wealth management perbankan. Alwas mengatakan, HNWI di Indonesia pada tahun 2003 sebanyak 11.000 orang, tahun 2004 sebesar 15.000 orang, dan tahun lalu 17.000 orang. Alwas menggambarkan, penggarapan nasabah kaya memang cukup menjanjikan. Nasabah dengan dana sedikitnya Rp 500 juta biasanya merupakan nasabah loyal dan tidak segan-segan merogoh koceknya untuk membayar biaya atas pelayanan yang diberikan bank.
