ASEAN Mirip Kumpulan yang Menjengkelkan

Simon Saragih

ASEAN telah kenyang dengan kecaman dari dalam dan dari luar. Tidak
apalah. Itu mungkin merupakan gambaran dari kecintaan pada ASEAN. Atau
mungkin juga gambaran kekecewaan dari pihak yang mengharapkan ASEAN
bisa bergerak dinamis, tetapi ternyata tidak. Mengapa harus kecewa
pada ASEAN?

Wilayah berpenduduk 580 juta ini terletak di daerah yang dinamis. Ada
Jepang dan Korea Selatan dengan kekayaan ekonomi dan kemampuannya
berinvestasi. Ada China yang juga makin menggeliat. Ada India yang
menjadi andalan pada bidang teknologi informasi. Lalu, investor global
masih melihat ASEAN sebagai wilayah yang menarik untuk dijadikan
lokasi investasi.

Dinamisme itu tak dimanfaatkan secara optimal. Malah ASEAN semakin
tidak mampu menghadapi persoalan domestik, seperti terorisme dan
ketidakstabilan politik. Hanya Singapura, Malaysia, dan Thailand yang
mungkin bisa menjadi andalan di ASEAN.

Vietnam kini muncul menjadi andalan dengan peran sebagai incaran baru
investor. Kamboja dan Laos adalah pendatang baru yang memang dari segi
waktu baru memulai pembangunan ekonomi. Ada Brunei Darussalam, sebagai
pengikut yang selalu tampil dengan nyaman.

Momok bagi ASEAN adalah dua raksasa Indonesia dan Filipina yang masih
sibuk berjuang sendiri. Kini ditambah lagi Myanmar, negara yang
dipimpin junta militer yang tidak mendapatkan legitimasi dari rakyat.
Pemerintahan junta Myanmar bukan pemerintahan yang sah karena bukan
hasil pemilu, tetapi mengudeta pemenang pemilu, Liga Nasional untuk
Demokrasi yang dipimpin Aung San Suu Kyi.

Tiga negara ini juga hampir selalu hiruk-pikuk dengan krisis politik.
Mungkin tiga negara ini lebih baik untuk menyadari kekurangannya, agar
tidak menjadi faktor negatif bagi ASEAN. Di tiga negara ini bom sering
berdentuman dengan menewaskan warga sipil yang tak bersalah. Tak
mungkin ekonomi jalan dengan mulus, tak mungkin investor datang, jika
sebuah negara dianggap tak stabil.

Ketidakacuhan

Kalau mau jujur, juga tak ada logika bagi negara, yang selalu
menghadapi ketidakstabilan untuk berbicara soal visi ASEAN, apalagi
soal integrasi ekonomi.

Itulah sekilas kelemahan dan kekurangan ASEAN yang beranggota 10
negara. Meski demikian, keberadaan ASEAN tetap penting bagi semua
anggotanya.

Dengan menjadi satu, sesama anggota bisa melihat kelebihan tetangga
dan bisa melihat kekurangannya, secara langsung atau tidak langsung.
Akan tetapi, apakah betul para anggotanya telah menjadikan ASEAN
sebagai cermin untuk perbaikan diri? Mungkin iya, tetapi juga banyak
contoh yang memperlihatkan ketidakacuhan pada ASEAN.

Lihat Myanmar, yang bandel pada permintaan ASEAN soal pembebasan Aung
San Suu Kyi, sehingga giliran Myanmar sebagai Ketua ASEAN langsung
melompat dari Malaysia ke Filipina.

Ada pula Indonesia, yang petaninya termasuk petani berdasi, sibuk
"mengekspor" asap yang membuat sesak pernapasan warga Singapura,
Malaysia, sebagian warga Thailand di wilayah selatan, dan sebagian
besar tentunya warga Indonesia yang bermukim di sekitar lokasi kebakaran.

Lalu, apa manfaat ASEAN? Ada kunjungan bebas visa untuk warga yang
melintas ASEAN, walau tak berlaku di semua anggota. Namun, sebenarnya
ini bukan suatu kelebihan karena negara di luar ASEAN juga sudah
banyak yang melakukannya.

Lalu ada penurunan tarif bea masuk, yang kini rata-rata sudah di bawah
15 persen. Namun, ASEAN juga tidak bisa terlalu bangga dengan
penurunan tarif itu karena penurunan serupa juga menjadi tren di dunia.

Lalu, ada beasiswa sesama anggota ASEAN untuk warga ASEAN. Mungkin ada
banyak hal lain yang kecil ukurannya, yang telah berjalan di ASEAN.
Namun, selebihnya ASEAN dengan jumlah pertemuan yang tergolong
intensif dan kuantitas yang lumayan banyak tidak lebih dari sekadar
ajang kumpul-kumpul para diplomatnya, dengan menikmati hotel
berbintang lima, di hunian eksklusif, dengan biaya negara.

Didorong pihak luar

Coba kita melihat hubungan masing-masing anggota ASEAN dengan negara
di luar ASEAN. Mungkin kemajuannya jauh lebih baik dari hubungan
sesama ASEAN. Ada perjanjian perdagangan bebas oleh Singapura dengan
banyak negara, sementara dengan tetangganya perjanjian serupa berjalan
tertatih-tatih.

Ada contoh menarik dari sisi ekonomi. Walau ASEAN sudah mencanangkan
diri sebagai kawasan perdagangan bebas sejak 28 Januari 1992, tak ada
kemajuan berarti dari segi perdagangan dan investasi di ASEAN.

"Kita sudah berbicara soal integrasi ASEAN dalam 20 tahun terakhir,
tetapi kita tidak melihat ada kemajuan berarti. Kita harus memiliki
kerja sama yang berarti antara pemerintah dan sektor swasta," kata
Ketua Dewan Penasihat Bisnis ASEAN Jose Conception.

Ekonomi dan perdagangan di ASEAN memang meningkat. Namun, itu bukan
karena kekuatan ASEAN sendiri. Terbukti, perdagangan di dalam ASEAN
sendiri tidak mencuat dan tidak berkembang terlalu pesat. Yang terjadi
adalah peningkatan hubungan ekonomi ASEAN dengan Jepang, China, Korea
Selatan, Taiwan, dan Hongkong.

Sebesar 50 persen perdagangan internasional di Asia dengan dunia
terjadi di antara Asia sendiri. Demikian pula tujuan utama ekspor
ASEAN, terjadi dengan negara-negara Asia Timur. Ini dinyatakan oleh
Ketua Kadin Filipina Donald Dee, dalam jumpa pers 7 Desember 2006 di Cebu.

Bermanfaat

Apakah tindakan ASEAN tidak berguna? Sebenarnya jelas sangat berguna,
jika ASEAN serius. Dr Austria S Myrna, dosen dari Universitas de la
Salle Manila, memberi contoh dalam tulisannya berjudul The Pattern of
Intra-ASEAN Trade in the Priority Goods Sectors.

Lewat penelitiannya, terlihat betapa liberalisasi perdagangan di ASEAN
membuahkan integrasi dan perkembangan perdagangan yang pesat. Namun
sayang, hal itu hanya terjadi di beberapa sektor, terutama sektor
teknologi informasi. Selebihnya, tidak terjadi perkembangan pesat. Ada
11 sektor barang dan jasa, yang disepakati para pemimpin ASEAN pada
2003, sebagai uji coba menuju integrasi ekonomi yang direncanakan pada
2015 (sebelumnya 2020).

Sektor itu adalah produk pertanian, perikanan, produk kesehatan,
produk karet, produk kayu, garmen dan tekstil, teknologi komunikasi
dan informasi, serta elektronik, otomotif, turisme, pelayanan
kesehatan, dan e-ASEAN.

Intinya, setiap tindakan liberalisasi di ASEAN memberi hasil yang baik
untuk integrasi. Namun masalahnya keengganan meningkatkan integrasi di
sektor yang lebih luas tidak lagi semata-mata di 11 sektor seperti
sekarang ini masih mencuat.

Bahkan, dari 11 sektor yang diprioritaskan untuk diliberalisasikan
untuk sebuah integrasi ASEAN, juga menghadapi hambatan besar.
Malaysia, misalnya, tak mau melepas proteksinya terhadap Proton Saga.
Thailand mengancam akan memberlakukan hal serupa jika Malaysia
mempertahankan proteksinya.

Jadi, momentum untuk integrasi ekonomi belum dimanfaatkan secara
optimal oleh ASEAN sendiri. Jadi, walaupun terjadi peningkatan
perdagangan ASEAN sekarang ini, pada umumnya digerakkan oleh
perusahaan multinasional yang berasal dari Jepang, Korea Selatan,
Taiwan, dan kini China.

Meskipun demikian, pesannya sangat jelas, jika ASEAN serius dengan
integrasi ekonomi, hasilnya akan sangat nyata. Ini penting untuk
mewujudkan rencana percepatan integrasi ekonomi pada 2015. Namun,
diperlukan cakupan kerja sama ekonomi yang lebih luas. Karena itu,
keberadaan ASEAN tetap sangat penting untuk jadi bahan perenungan
tentang kelemahan-kelemahannya.

Rakyat ASEAN diabaikan

Yang lebih penting dari sekadar integrasi ekonomi adalah upaya ASEAN
untuk mengikutsertakan warganya dalam kerja sama ASEAN. Tak ada
masyarakat ASEAN yang akan berakar di hati masyarakatnya jika pemimpin
ASEAN mengabaikan warganya sendiri.

Untungnya, ASEAN makin beranjak, antara lain dengan membahas hal-hal
yang selama ini relatif terpinggirkan dari ingar-bingar setiap
pertemuan ASEAN. Lepas dari sukses tidaknya pembahasan itu di masa
datang, ASEAN mulai memikirkan nasib wilayah atau nasib warga yang
selama ini tak merasakan dampak dari kerja sama ASEAN.

Dalam pertemuan pejabat senior ASEAN pada hari pertama dan kedua,
Kamis (7/12), sebelum terjadi penundaan, dibahas liberalisasi
penerbangan di wilayah Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Filipina dalam
konteks kerja sama ekonomi Kawasan Pertumbuhan ASEAN Timur
(Brunei-Indonesia-Malaysia-Philippine East ASEAN Growth Area/BIMP-EAGA).

Menurut Menteri Transportasi Malaysia Datuk Seri Chan Kong Choy,
BIMP-EAGA akan mengizinkan penerbangan bebas di 13 kota di empat
negara itu.

Atas dorongan Filipina, juga akan ada penandatanganan tentang aliran
bebas pekerja paramedis (Mutual Recognition Arrangement/MRA) on
Nursing Services. Menurut diplomat senior Filipina Luis Cruz,
kesepakatan itu akan membuat negara anggota bebas menerima tenaga
paramedis dari sesama ASEAN. Kelompok ini memang harus membahas
kepentingan rakyat. 

Kirim email ke