Di masyarakat Jawa, aya golongan nu disebut Abangan. Golongan Abangan teh
urang Jawa,  nu agamana Islam tapi teu pati nurut kana parentah-parentah
para Kyai.  Aya nu sholatna ngan sataun sakali, waktu Sholat Iedul Fitri,
eta oge kapaksa. Biasana deukeut kana aliran kabatinan, arah pulitikna
umumna ka partey-partey nu azasna nasional lain kaagamaan. Cenah mah sikep
"abangan" teh, muncunghul tina resistensi pangaruh luar (agama), hayang
tetep ngalanggengkeun "kajawaan" (identitas sosial).

Urang Sunda tangtu wae lain urang Jawa, tapi sigana aya harib-haribna jeung
Urang Jawa, ngan beda saeutik, salah sahiji bedana kaum Priyayi (menak)
urang Sunda mah umumna "santri" (dina tanda kutip). Bupati Bandung
Wiranatukusamah ngadamel wawacan Nabi Muhammad. Bupati di Sumedang jaman
baheula, loba ngawakafkeun tanah keur pasantren. Tapi, sikep resistensina
mah tetep aya. Contona ku lobana mucunghul aliran kabatinan nu sok
nyabit-nyabit karuhun sunda. Hanjakalna masyarakat Sunda, teu acan aya nu
nalungtik ku ahli anu netral ...... maksud teh ahli ti urang deungeun, siga
Clifford Geertz di Masyarakat Jawa.

"Gerentesna" GM di  Majalah Tempo 17 September 2006.  eusina perkara kaum
Abangan ieu. Nyanggakeun, keur bandingkeuneun jeung masyarakat Sunda.

ABANGAN

PADA suatu saat di abad ke-19, seorang sastrawan Jawa bertanya gelisah
kepada dirinya sendiri: lebih berat ke manakah hatiku, ke Allah atau ke
Ratu?

Untuk beberapa lama is tak bisa menjawab. Tapi akhirnya ia, seperti tertulis
dalam kitab Wedatama, me­nentukan sikap: dalam soal bot Allah apa gusti,
kesetia­annya tertuju lebih kepada is yang bertakhta di bumi. "Allah" bukan
pilihan pertama.

Kita sekarang akan menganggap pilihan itu kontrover­sial. Tapi sudah
disebutkan, ini abad ke-19. Penulis puisi itu-konon is Mangkunegara IV
sendiri, yang memerintah Surakarta dari 1857 sampai 1881-menganggap yang
di­hadapinya bukan persoalan theologi atau filsafat, melain­kan identitas
sosial.

Alasannya sederhana: is bukan keturunan khatib atau tokoh agama. Ia anak
"priayi", lapisan pejabat kerajaan yang terpaut langsung atau tak langsung
dengan aristo­krasi. Sang penyair Wedatama tak merasa tergabung dalam
kalangan kaum, sebutan untuk orang­orang yang penampilan dan pernyataan
dirinya dibentuk idiom "Islam". Ia bukan "santri". De­ngan keangkuhan yang
setengah disembunyi­kan is anggap is akan "nista" bila bergabung dengan
kasta kaum yang di bawah itu. "Yen muriha dadi kaum temah nista...."

Dengan demikian, "Allah" dilihat hanya seba­gai salah satu pilihan. Ia dapat
dibandingkan dengan Raja. Keduanya praktis sejajar. Bersa­maan dengan itu,
"Allah" juga tak dianggap pu­nya daya imbau yang universal.

Mungkin awalnya sebuah ketegangan. Mem­baca Wedatama saya mendapat kesan
tentang sebuah masyarakat Jawa, khususnya di sekitar Surakarta, yang sedang
merasa diri terbelah dan menanggung kerisauan identitas. Waktu itu dengan
resah orang bertanya-tanya: apa yang berubah di masyarakat, siapa kita,
siapa aku, siapa kami, siapa mereka? Adakah kami "Jawa", dan apa sebenarnya
arti kata itu?

Jawab Wedatama: "Jawa" adalah sikap yang meman­dang Panembahan Senapati,
pendiri Kerajaan Mataram, sebagai model. Bukan Muhammad SAW, nabi yang
ter­lampau jauh untuk dijadikan tauladan:

lamun lira paksa nulad
 tuladaning kangjeng nabi
o ngger kadohan panjangkah

Menarik untuk menduga kenapa begitu bunyi petuah itu. Siapa pun dia, penulis
Wedatama tampak terganggu be­tul oleh ekspresi yang agresif dan demonstratif
atas nama "Islam" pada masanya.. Dengan tajam is menyebut mere­ka yang
"bengkrakan mring masdjid agung", bertingkah pamer di masjid agung, para
pemuda yang tak henti-hen­tinya mencela orang lain (nguwus-uwus) dengan cara
kasar bak "raksasa yang gemar menganiaya". Puisi Jawa itu juga mencemooh
mereka yang memamerkan kepintar­an dengan syariat yang hebat-hebat
(saringate elok-elok), seakan-akan orang tergesa-gesa ingin menyaksikan
"ca­haya Tuhan".

Terhadap itu, Wedatama menawarkan sesuatu yang ber­ beda: tauladan Mataram
adalah keheningan laku, bukan dalil yang gaduh dan angkuh. Para kesatria
Jawa dulu, kata Wedatama, menganggap "tahu" datang dari tindak­an yang mirip
pertapa: dari posisi yang tak hendak me­nguasai, mirip Gelassenheit
Heidegger. Ia rela kehilangan, is menerima bila hatinya dilukai, is ikhlas
dalam derita karena pasrah kepada Yang Maha Agung, legawa nelang­sa srah ing
Bathara. Sikap ini memandang Tuhan tak ada dalam amarah dan kecerewetan,
melainkan dalam keten­teraman yang suci dan tersembunyi.

Di sini tampak, "Jawa" dibayangkan sebagai sesuatu yang hampir sepenuhnya
bertentangan dengan sebuah identitas sosial mereka yang terus-menerus sibuk
dengan syariat ("anggung anggubel sarengat"). Maka terhadap fikih yang tegar
Wedatama menegaskan sikap yang prag­matic. Terhadap lagak bersuci-suci is
mengakui-den­gan nada yang sedikit mengejek diri sendiri-pentingnya
martabat, harta, dan kepandaian (wirya, harta, winasis). Terhadap sikap yang
mau mencontoh nabi nun di Arab abad ke-6, is menasihati: "karena kau Jawa,
sedikit saja cukuplah".

Antagonisme itu menunjukkan bahwa "Is­lam" sebagai sebuah pengertian yang
datang ke Jawa baru di abad ke-14 selamanya berbolong­bolong; selalu ada
yang mrucut dari cakupan­nya. Ketika hubungan langsung orang di Jawa dengan
Timur Tengah kian Bering, seperti tam­pak sejak pertengahan abad ke-19 itu,
dan sema­ngat dakwah dan gerakan "pemurnian" Islam meningkat, dorongan pun
bertambah untuk menambal bolong itu. Berarti yang "tak mur­ ni", yang
"lain", harus disumpal, ditiadakan.

Konflik pun berjangkit. Di situlah lahir dikotomi yang dicatat Clifford
Geertz dalam The Religion of Java: abangan dan santri. Tidak, dikotomi itu
bukanlah hakikat masyarakat Jawa: is tumbuh dari pergulatan sosial pada
suatu waktu, dari perebutan posisi, terkadang tegang, ter­kadang kendur.

Sejarawan M.C. Rickels menunjukkan hal itu dengan me­yakinkan dalam sebuah
buku yang bakal terbit, Polarising Javanese Society; Islamic and other
visions, c. 1830-1930: abangan adalah pengertian yang baru dipakai orang
pada pertengahan abad ke-19. Kata itu semula sebuah cemooh orang yang taat
beribadat kepada mereka yang tidak.

Cap negatif itu lama-kelamaan bertransformasi, dan akhirnya diterima tanpa
disesali. Apalagi bagi penulis Wedatama. Dari sikapnya tampak, baginya
"Islam" tak menampung, tapi menendang. Agama itu tak lagi menim­bulkan daya
tarik universal-dan Wedatama adalah se­buah komentar tentang kegagalan
universalisasi itu. Buku puisi itu suara keinginan untuk bertahan, bertahan
seba­gai yang "lain" yang tengah terdesak: jika Wedatama tak 100 persen
menampik Islam, setidaknya is ingin memilih sebuah "Islam" yang "Jawa".

Tapi apa arti "Jawa" sebenarnya? Seperti halnya tafsir tentang apa itu
"Islam", ia pun dibentuk sejarah yang tak bebas dari ketegangan. Maka tak
ada "Jawa" yang kekal. Wedatama, sebagaimana suara para priayi, bukanlah
kata akhir. Wacana tak mati-mati.

Goenawan Mohamad

Kirim email ke