Penyalahgunaan Narkoba Kematian Alda, Fenomena Gunung Es Narkoba Diskotek masih dihinggapi stigma negatif: kelas sosial rawan psikotropika, narkotika, dan obat-obatan berbahaya. Di situ berkumpul generasi penerus bangsa, segmen pasar paling potensial untuk dijadikan klien para pengedar ekstasi, sabu, dan sebagainya.
Liputan media begitu hebat melaknat barang haram itu, terutama pascakematian artis Alda Risma Elfariana yang meninggal diduga akibat overdosis narkoba. Kehidupan malam yang bebas melawan nilai-nilai konvensional turut dihujat. Dampaknya, masyarakat malam diperkirakan berkurang anggotanya karena shock dan tersadar betapa kehidupan bebas, narkoba, dan kematian amatlah tipis batasnya. Setidaknya mereka akan cooling down. Namun, di diskotek-diskotek di Jakarta, misalnya dua diskotek di Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, dugaan itu meleset. Di dua tempat itu pada Sabtu (16/12) dini hari kehidupan justru baru dimulai, melepas penat kota dengan iringan musik monoton yang terasa mistis dan memicu trance. Didominasi muda-mudi, suasana malam diskotek bukannya sepi, tapi makin bergolak. Mereka yang memuja keindahan tubuh, merayakan hidup hampir tiap malam dengan cara yang tak pernah sempat dipikirkan para guru mereka. Mata memejam, bibir terkatup, kepala bergoyang-goyang, kadang-kadang seolah berputar. Di bawah udara pengap oleh asap rokok dengan bau khas yang menawarkan ekstase, mereka tetap menjadi sorotan masyarakat sekitar namun hidup tetap jalan terus. Ikon-ikon tren anak muda terkini, ikon-ikon para pemuja keindahan tubuh, dan ikon-ikon hidup merdeka lepas dari pertentangan nilai konvensional, terasa menemukan habitatnya. Karena ini bukan bursa saham, fluktuasi komunitas ini tak terpengaruh berita terkini kematian Alda. Uniknya, ekonomi sekitar justru berputar cepat. Toko swalayan dan pedagang kaki lima tak tidur melayani pelanggan. Tak bisa dimungkiri, tempat seperti ini penting menjadi salah satu sel transaksi ilegal. Misalnya, hanya malam itu saja, Jumat (15/12), aparat Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya menemukan 4.000 butir ekstasi di Jakarta Barat. Malam itu pula, di Jakarta Pusat ditemukan 1.000 butir ekstasi. Kasus ini menambah daftar barang bukti yang disita selama 2006 (hingga Oktober) sebanyak 180.498 butir ekstasi; 1,12 juta gram sabu; 597.641 butir obat daftar "G"; dan ganja mencapai angka mengesankan, 9,9 juta gram (Data Badan Narkotika Nasional atau BNN). Remaja memang mendominasi penggunaan narkoba. Remaja itu adalah pelajar SD (malah bisa disebut anak-anak) hingga SLTA. Tahun 2006 (hingga Oktober), pengguna SLTA mencapai 14.971 orang, SLTP 4.736 orang, dan SD 2.260 orang. Dari mahasiswa, 536 orang. Kasus Alda Kasus Alda adalah fenomena gunung es. Alda (24), satu dari 5.743 orang usia 20-24 tahun yang terlibat narkoba. Atau hanya satu dari 22.503 pengguna narkoba tahun 2006. "Jumlah ini bisa bertambah karena data ini baru sampai Oktober," ujar Pranowo Dahlan, Sekretaris Pelaksana Harian BNN. Tragisnya, Alda masuk jajaran satu dari 40 orang yang meninggal tiap hari karena narkoba. Hari itu, kata Pranowo, selain Alda masih ada 39 orang meninggal. Kondisi ini hampir dianggap lazim, parahnya publikasi masih minim. Kematian Alda yang menyentak publik menjadi peringatan aktual untuk mengingatkan bahaya narkoba. Pesan yang ditangkap bukan sekadar jangan sekali-kali check-in di hotel dengan pengedar walaupun dia baik. Lebih dari itu, jangan sekali-kali mendekati narkoba! Sayangnya, momentum ini tak bisa digunakan baik oleh polisi untuk menggeber kasus narkoba. Polisi belum bisa memainkan public relation yang baik. Derap informasi tak mampu mengantar polisi profesional dalam menyampaikan berita ke publik. Hasilnya justru kontraproduktif, selain publik tak mendapatkan haknya, bisa jadi ada yang jadi korban karena berbagai spekulasi berita. Media menempatkan mereka bak artis, diuber untuk jadi narasumber. Namun, berita masih berkembang penuh rumor, padahal bisa dicegah jika polisi mengerti informasi itu bisa menjadi edukasi efektif. Kematian Alda, dan 39 orang lainnya per hari itu, harus bisa memberi edukasi kepada kita. (amr/mul)
