Belajar dari Sinterklas

Pernak-pernik Lebaran rasanya belum lama berlalu dari gerai-gerai mal
kita. Dalam waktu singkat, semuanya itu disulap menjadi pohon cemara,
lilin, dan, tentu saja, "ho-ho-ho" dari Sinterklas.

Padahal, menurut Howard Means (2001: hal 194), sosok Sinterklas yang
kita kenal kini adalah ciptaan bagian promosi Coca-Cola. Sebelum tahun
1931, di Eropa dan Amerika, Sinterklas itu ceking dan warna pakaiannya
bebas. Sejak tahun 1931, iklan Coca-Cola menjadikannya sosok tambun,
lucu, bersepatu salju warna hitam, bersabuk lebar yang juga berwarna
hitam, dan berpakaian berwarna merah tua yang konon sewarna dengan
Coca-Cola.

Moralitas budaya populer

"Sinterklas bisnis" itu sudah 75 tahun menjadi bagian dari budaya
populer yang mengglobal. Pendahulunya sudah berabad-abad hidup sebagai
"Sinterklas folklore" di Eropa. Dalam gaya ahli semiotika Italia,
Umberto Eco, kita dapat mengatakan tidak penting "Sinterklas folklore"
itu ada atau tidak ada. Kita berpegang pada tradisinya saja dan pada
"moralitas publik" yang diajarkannya.

Pelajaran pertama, kedermawanan itu dimulai dari rumah (charity begins
at home). Kedua, memperkenalkan konsep secret charity (apabila tangan
kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu). Ketiga, mendidik budi
pekerti anak agar menjadi anak baik dilihat dari sudut pengawas yang
adil (impartial spectator).

Begitulah, "aslinya" Sinterklas itu adalah kedermawanan yang mulai
dari rumah. Orangtua diajak bersikap dermawan dengan mempersiapkan
hadiah untuk anak-anak. Tetapi kedermawanan itu tidak mendapat
pengakuan (good deeds need no praise). Bukan orangtua yang memberi,
melainkan Sinterklas. Ia datang tengah malam melalui cerobong asap, di
tengah musim dingin yang menggigit, meletakkan hadiah- hadiahnya dalam
tas, sepatu, atau kaus kaki anak-anak.

Bila selama tahun silam si anak berbuat baik, hadiahnya akan sesuai
dengan yang diidamkan waktu mengucapkan mantra: Sinterklaas kapoentje,
leg wat in mijn schoentje, leg wat in mijn tasje, dank U Sinterklaasje
(Sinterklas, letakkan sesuatu di tas kecilku, letakkan sesuatu di
sepatu kecilku, terima kasih ya Sinterklas). Yang benar mendapat
hadiah, yang nakal tidak. Keputusan itu dilakukan oleh Sinterklas,
sang impartial spectator, yang menanamkan benih imparsialitas dan
obyektivitas kepada anak-anak.

Sinterklas dan kita

Kedermawanan dimulai dari rumah bukanlah hal asing bagi kita, yang tak
sebatas pada keluarga inti, tetapi menjangkau keluarga besar, marga,
rekan sekampung, kerabat kerja, sealmamater, seagama. Dalam "lingkaran
persaudaraan" ini, kita tampaknya sudah mewujudkan cita-cita Profesor
Driyarkara, manusia ialah sahabat bagi sesamanya (homo homini socius).
Tetapi, begitu keluar dari "lingkaran persaudaraan" itu, budaya kita
tampaknya macet. Kita tidak berhasil memperluas lingkaran ini menjadi
"lingkaran bangsa" yang lebih anonim, apalagi "lingkaran dunia".

Apa benar kita masih harus belajar tentang obyektivitas dan
imparsialitas? Lihat saja dunia penegakan hukum kita. Lihat bagaimana
kebijakan publik dipertimbangkan dan diputuskan. Lihat perilaku
wakil-wakil rakyat. Lihat bagaimana orang-orang kecil dipinggirkan,
dan lihat bagaimana perempuan diperlakukan.

Jadi, betapa pun hanya folklore yang sudah terkontaminasi bisnis
global, kita masih perlu belajar dari Sinterklas. Tawuran antarwarga
masih banyak terjadi. Harga beras naik. Orang miskin terpaksa beli
nasi aking. Ada warga mengantre selama berjam-jam untuk membeli minyak
tanah. Setiap hari sekitar 40 orang meninggal karena narkoba. Pasien
miskin harus menangis mengiba-iba sebelum rumah sakit mau menolong
(Kompas, 15/12/2006). Padahal, menurut Bank Dunia, hampir separuh
penduduk Indonesia saat ini miskin dan rentan menjadi miskin (Kompas,
8/12/2006).

Ho-ho-ho. Jangan-jangan Sinterklas sedang menertawakan kita dan kita
ini ibarat seorang anak yang tak menemukan apa-apa di dalam sepatu
kecilnya.

Alois A Nugroho Staf Inti Pusat Pengembangan Etika Unika Indonesia
Atma Jaya, Jakarta 

Kirim email ke