ndeks Pembangunan Manusia

Razali Ritonga

Pembangunan manusia kian mendapat perhatian dari penyelenggara
pemerintahan di pusat dan daerah. Indikasinya, pembangunan manusia
dimanifestasikan dalam bentuk indeks pembangunan manusia atau IPM.

Adanya target IPM dalam rencana pembangunan selayaknya disambut
positif. Alasannya, pertama, IPM jangan dijadikan komoditas politik,
tetapi tak terwujud.

Kedua, target IPM selayaknya selaras potensi dan kemampuan dalam
pencapaian, tidak terlalu rendah atau tinggi. Jika terlalu rendah,
segala daya dan dana menjadi tidak efektif, boros. Jika terlalu
tinggi, itu sama dengan ilusi.

Maka, target IPM harus obyektif dan rasional. Maka, perlu dipahami
fenomena yang mendasari IPM, yaitu angka umur harapan hidup, melek
huruf, rata-rata lama sekolah, dan kemampuan daya beli.

Untuk meningkatkan umur harapan hidup sebesar satu poin selama satu
tahun, baru bisa diperoleh jika selama setahun tak seorang penduduk
pun di Nusantara meninggal. Ini tidak mungkin terwujud. Yang paling
mungkin dilakukan, meminimalkan risiko kematian. Kita tahu, kematian
paling tinggi dari kelompok bayi. Sekitar 35 kematian bayi terjadi
tiap tahun per 1.000 kelahiran hidup (BPS, 2002). Jika angka kematian
bayi bisa ditekan, ini amat berarti dalam meningkatkan umur harapan
hidup. Angka umur harapan hidup kian meningkat jika ada upaya menekan
angka kematian ibu yang kini masih tinggi. Sekitar 307 kematian ibu
terjadi untuk tiap 100.000 kelahiran hidup (BPS, 2002).

Untuk pendidikan, sulit meningkatkan satu poin. Komponen pendidikan
pada IPM terdiri dari dua aspek: angka melek huruf dan rata-rata lama
sekolah (mean years schooling). Suatu daerah yang telah mencapai angka
melek huruf di atas 90 persen akan kian sulit diharapkan bisa memberi
kontribusi besar terhadap peningkatan pendidikan. Untuk rata-rata lama
sekolah, kontribusinya bergantung tingkat partisipasi sekolah. Suatu
daerah dengan partisipasi sekolah 40 persen untuk semua umur, maksimal
akan memperoleh kenaikan rata-rata lama sekolah 0,4 poin.

Berbeda dengan komponen kesehatan dan pendidikan yang kontribusinya
sulit diperbesar, komponen kemampuan daya beli dapat memberi
kontribusi tinggi terhadap IPM. Bahkan, kontribusi daya beli itu bisa
berlipat seiring keberhasilan peningkatan kesejahteraan masyarakat,
sebagai dampak pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan.
Celakanya, pertumbuhan ekonomi kita masih dalam skala medium dengan
kisaran 5-6 persen, sedangkan pemerataan pendapatan masih timpang.
Ketimpangan itu, antara lain, terindikasi dari pengeluaran.
Berdasarkan pendekatan pengeluaran, terlihat 20 persen penduduk
teratas menurut Bank Dunia, pada 2002 tercatat 38,98 persen terhadap
seluruh total pengeluaran rumah tangga, naik menjadi 40,43 persen
tahun 2005. Sebaliknya, 40 persen penduduk terendah, pengeluarannya
memburuk dari 22,83 persen tahun 2002 menjadi 21,84 persen tahun 2005
(BPS, 2005).

"Opportunity loss"

Celakanya lagi, penduduk pada kelompok pengeluaran terkecil umumnya
memiliki peluang yang juga kecil untuk mendapat berbagai kemudahan
yang diberikan pemerintah. Hilangnya peluang itu kerap disebut
opportunity loss. Fenomena opportunity loss terjadi karena
ketidaktersediaan fasilitas pelayanan publik, seperti listrik, air
bersih, telepon, pelayanan kesehatan, dan pendidikan. Akibatnya,
masyarakat yang tinggal di daerah yang tidak memiliki layanan publik
mengalami opportunity loss meski mereka mampu mengaksesnya.

Opportunity loss banyak menimpa daerah yang belum tersentuh
pembangunan, seperti pedalaman, terisolasi, atau pulau terpencil.
Berdasarkan hasil Potensi Desa 2005, dari 69.957 desa, kelurahan atau
nagari, yang mendapat aliran listrik PLN baru 57.186 desa. Untuk
fasilitas pendidikan, yang memiliki SD 62.658 desa, SMP 23.320 desa,
dan SMA di 9.854 desa. Untuk kesehatan, ada 8.256 desa memiliki
puskesmas, puskesmas pembantu di 21.924 desa, posyandu di 63.198 desa,
dan polindes di 26.455 desa.

Meski pelayanan publik tersedia, opportunity loss masih bisa terjadi,
antara lain karena ketakmampuan masyarakat mengakses pelayanan publik.
Ketidakmampuan itu karena tempat pelayanan yang jauh dan kemiskinan.
Banyak kasus kematian, drop out, dan anak yang tidak bersekolah karena
kemiskinan. Khusus kematian, terjadi karena terlambat mendapat layanan
dan pengobatan. Kasus kematian seperti itu adalah contoh ekstrem
opportunity loss. Bahkan, opportunity loss kini juga berdampak pada
peningkatan kelahiran karena tak ada sarana dan prasarana KB atau
ketidakmampuan mengakses sarana dan prasarana dimaksud.

Pembangunan manusia timpang

Fenomena opportunity loss diperkirakan mengakibatkan ketimpangan
pembangunan manusia antardaerah. Daerah-daerah dengan layanan publik
yang kian lengkap umumnya kian diuntungkan dalam pembangunan manusia.
Keuntungan itu kian bertambah jika diiringi subsidi yang kian beragam,
seperti subsidi pendidikan, kesehatan, dan listrik.

Pembangunan manusia di daerah kian terakselerasi jika ditambah
kemampuan masyarakat yang kian meningkat untuk mengakses aneka layanan
publik yang disediakan pemerintah. Sebaliknya, daerah yang tidak
memiliki peluang akibat opportunity loss akan mengalami ketertinggalan
dalam pembangunan manusia.

Ketimpangan pembangunan manusia antardaerah antara lain terekam dari
capaian tiap komponen IPM. Tahun 2005, misalnya, angka umur harapan
hidup tertinggi tercatat di Kabupaten Tabanan (74,2 tahun), yang
terendah di Kabupaten Lombok Timur (58,3 tahun).

Angka tertinggi melek huruf di Kota Pekanbaru (99,7 persen) dan
terendah di Kabupaten Asmat (30,9 persen). Untuk rata-rata lama
sekolah tertinggi di Kota Pekanbaru (11,3 tahun), terendah di
Kabupaten Pegunungan Bintang (2,2 tahun).

Untuk kemampuan daya beli, tertinggi di Jakarta Selatan (Rp 640.500
per kapita), terendah di Kabupaten Raja Ampat (Rp 548.600 per kapita).
Secara keseluruhan, capaian IPM tertinggi di Jakarta Selatan 77,9 dan
terendah di Pegunungan Bintang sebesar 46,9 (BPS, 2006).

Sebenarnya, masih banyak ruang untuk meningkatkan IPM secara nasional.
Ditilik dari aspek pendapatan per kapita, yang tercatat dalam laporan
UNDP tahun 2006 untuk Indonesia sebesar 3.610 dollar AS, lebih tinggi
dibandingkan dengan Georgia. Pendapatan per kapita Georgia (2.844
dollar AS), peringkat 97 dari 177 negara dalam capaian IPM. Menurut
laporan itu, Indonesia berada di peringkat ke-108.

Kita berharap dapat mengejar kemajuan pembangunan manusia dibandingkan
negara yang telah mengalami kemajuan. Untuk itu, diperlukan komitmen
yang tinggi dari kita semua, khususnya pemerintah, dalam melakukan
pemerataan pembangunan yang termasuk di dalamnya meniadakan
opportunity loss.

Razali Ritonga Kepala Subdirektorat Analisis Konsistensi Statistik, BPS 

Kirim email ke