alan Sensualitas, Pintu Spiritualitas
Oleh Muhammad Nugroho
18/12/2006

Ketika seseorang merasakan kenikmatan ejakulasi atau orgasme, maka ia
seperti sedikit merasakan kenikmatan penyatuan diri (`fana) seperti
yang dialami para mistikus. 

Sensualitas dan spiritualitas sebagai proses keberagamaan masih
diyakini oleh arus utama (mainstream) agamawan, khususnya Islam,
sebagai dua aspek yang berposisi opisisional. Sensualitas yang bisa
didefinisikan sebagai pencerapan dengan panca indera diasumsikan
fakultas tubuh yang menghalangi perjalangan menuju pintu
spiritualitas. Puasa seperti yang dilaksanakan pada Ramadan lalu
adalah salah satu cara untuk mengendalikan sensualitas agar tak
menutupi pintu ke spiritualitas.

Sebenarnya Islam tak menganut paham asketisme ekstrim, karena itu
pengendalian sensualitas dalam puasa bisa dipahami sebagai manajemen
sensualitas untuk meningkatkan spiritualitas. Sikap asketisme
didefiniskan sebagai sikap yang menolak diri dan menjauhi kesenangan
duniawi (Wikipedia: ascetism describes a life characterized by
self-denial and abstinence from worldly-pleasures). Sifat
komplementaritas sensualitas dan spiritualitas ini kebetulan pernah
disinggung sastrawan Mesir Naguib Mahfouz (19-11-2006) yang wafat pada
30 Agustus lalu.

Mahfouz memiliki renungan tentang hubungan antara sensualitas dan
spiritualitas yang cukup mendalam. Ini paling tidak menurut analisis
novelis dan pemenang Nobel untuk sastra Nadine Gordimer dalam kata
pengantar untuk buku Echoes of an Autobiography karya Naguib Mahfouz
terbitan Doubleday, 1997. Membicarakan spiritualitas Mahfouz, Gordimer
mengatakan bahwa jika sensualitas dalam pengertiannya yang luas
bukanlah elemen yang bertentangan, tak terpisah, dari spiritualitas,
pada waktu yang sama penerimaan keduanya mengandung pembedaan, sebab
hidup sendiri dalam persepsi Mahfouz adalah sebagai sebuah ketegangan
antara gairah dan ajaran moral. Sensualitas adalah semangat hidup,
daya hidup; di sisi lain pengendalian nafsu adalah cara yang dituntut
untuk mencapai spiritualitas.

Menghadapi ketegangan itu, Mahfouz tampaknya memilih sensualitas
sebagai bagian dari jalan menuju spiritualitas. Sikap itu tercermin
dalam anekdot berjudul The Choice dalam buku Echoes of an
Autobiography. Syaikh Abd-Rabbih al-Ta'ih, seorang sufi imajiner,
mengatakan: seorang wanita datang kepadaku menanyakan tentang
masalahnya. Untuk memberikan jawaban, aku membaca bintang nasibnya
melalui pancaran wajahnya dan kujawab. "Di depanmu ada dua jalan;
jalan kebajikan dan surga, lalu jalan cinta dan pengasuhan." Si wanita
menjawab sambil tersenyum menawan. "Sang Pemilik Keagungan telah
menyiapkan diriku untuk jalan cinta dan pengasuhan anak, dan aku tak
akan menentang keinginan-Nya." Parabel ini bisa ditafsirkan bahwa
Mahfouz memilih jalan cinta daripada jalan syariat.

Penulis menduga bahwa pendapatnya tentang jalan sensualitas itu
bersumber dari apresiasinya terhadap hidup, wanita dan agama yang
cukup mendalam. Ambisi untuk kehidupan duniawi–yang dalam bahasa
Mahfouz "keras tapi menarik"—adalah nada dasar dalam hidupnya, dan itu
tercermin dalam karya-karyanya, termasuk eksesnya bila tak tercapai.
Prinsip itu tercermin dalam parabel berjudul The Bridegroom dalam buku
Echoes. Aku bertanya kepada syaikh Abd-Rabbih al-Ta'ih tentang tokoh
idolanya, dan dia menjawab. "Orang bijak yang kesaktiannya ditunjukkan
dengan pengabdian kepada masyarakat dan berzikir kepada Allah; pada
ulangtahunnya yang keseratus tahun dia menenggak minuman, bernyanyi
dan menikahi gadis berusia duapuluh tahun. Dan di malam pengantin
datanglah sejumlah malaikat yang memercikkan parfum wangi dari gunung
Qaf di ujung bumi."

Apresiasinya terhadap agama bisa dibaca melalui wawancaranya dengan
majalah Paris Review pada 1992. Menurut Mahfouz, agama sangat penting
untuk manusia, namun agama seharusnya ditafsirkan dengan sikap pikiran
terbuka. Agama harus berbicara tentang cinta dan kemanusiaan. Sikap
beragama yang mengedepankan cinta dan kemanusiaan ini sejalan dengan
ajaran sufisme, aspek esoterik Islam yang juga banyak mempengaruhi
Mahfouz. Walau pernah mengatakan bahwa dia menyukai sufisme
sebagaimana dia menyukai puisi yang indah, namun Mahfouz tak menafikan
pentingnya sufisme sebagai sumber inspirasi.

Apresiasinya terhadap wanita bisa dibaca dari catatan-catatan berupa
parabel, anekdot dan dialog dalam buku Echoes. Bagi Mahfouz, wanita
adalah simbol bukan hanya untuk keindahan dan kenikmatan dalam
menghidup, tapi juga simbol pembebasan spiritual. Hal ini
dipersonifikasikan dalam kata-kata Mahfouz sebagai seorang wanita
telanjang dengan setangkai bunga dari sari kehidupan. Simbol ini untuk
menghormati perempuan, dan bukannya bias patriarki.

Bagaimana sebetulnya hubungan antara sensualitas dan spiritualitas?
Dr. Taufiq Pasiak, dosen fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi
Manado pernah menulis di majalah Azzikra Jakarta bahwa banyak
penelitian menemukan bahwa orang-orang yang mempraktikkan kehidupan
spiritual yang dalam, atau orang-orang melakukan hubungan seks yang
didasari cinta dan keterikatan, dapat memperpanjang umur, lebih
terhindar dari stroke dan penyakit jantung, memiliki sistem kekebalan
yang lebih baik, serta memiliki tekanan darah yang relatif rendah
dibandingkan subyek yang menjadi pembanding.

Masih menurut Dr. Taufiq, pengalaman spiritual dan seksual–bagian dari
sensualitas--bagaikan dua sisi dari sebuah koin sirkuit sarafi yang
diaktori oleh sistema limbicum, bagian yang paling tua dalam evolusi
perkembangan otak yang berhubungan dengan spiritualitas. Riset-riset
neurosains membuktikan bahwa kegiatan seksual dan penyatuan mistis
(mystical union) melibatkan sirkuit yang sama dalam otak manusia.
Struktur neurologis yang terlibat dalam pengalaman spiritual adalah
juga struktur yang terlibat dalam pengalaman seksual.

Ketika seseorang merasakan kenikmatan ejakulasi atau orgasme, maka ia
seperti sedikit merasakan kenikmatan penyatuan diri (`fana) seperti
yang dialami para mistikus. Dalam konteks di atas, kita bisa
berhipotesis bahwa hubungan seks yang didasari atas cinta dan
keterikatan merupakan jalan pertama menuju penyatuan diri yang hakiki
dengan Yang Dicintai. Masuk akal jika kesamaan sirkuit sarafi yang
dipakai ini mewujud juga dalam ekspresi bahasa yang relatif sama.
Bukan kebetulan jika istilah dan idiom yang dipakai kalangan mistikus
ketika melukiskan penyatuan itu merupakan terma-terma romantisme yang
juga dipakai ketika seseorang jatuh cinta.

Memakai cara pandang temuan neurosains mutakhir tersebut, saya menilai
pemikiran Mahfouz tentang komplementaritas sensualitas dan
spiritualitas memiliki dasar yang kuat. []

Kirim email ke