Film Dokumenter Borobudur dan Buddha, Refleksi Hidup Damai Jakarta, Kompas - Candi Borobudur sebagai bagian dari agama Buddha dapat menjadi refleksi dalam membangun kehidupan yang damai.
"Dengan melongok ajaran lain, maka kita akan lebih mengenal agama lain. Pengalaman itu dapat disintesiskan dengan ajaran yang dianut dan memunculkan kesadaran baru, terutama dalam dialog antaragama," ujar Marselli Sumarno dalam diskusi dan pemutaran film dokumenter yang ia sutradarai, Sang Buddha Bersemanyam di Borobudur, di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (31/1). Menurut Marselli, dalam pembuatan film tersebut bukan perbedaan yang ia lihat, melainkan persatuan serta adanya pertemuan-pertemuan. Pertemuan tersebut antara lain ajaran kasih atau welas asih yang nyata dalam ajaran Buddha. Pertemuan lain yang diamati ialah betapa setiap agama mempunyai praktik meditasi dengan caranya masing-masing. "Melihat pertemuan-pertemuan tersebut, menjadi sangat penting mengenal agama lain, terlebih lagi di tengah kerapuhan dialog antarumat beragama," ujar Marselli, Dekan Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ). Budayawan Mudji Sutrisno yang hadir dalam diskusi itu mengatakan, dalam ajaran agama Buddha di Nusantara sudah terjadi inkulturasi. "Ketika religiositas masuk ke sebuah daerah atau lokal, maka yang muncul ialah wajah budaya," ujarnya. Lebih toleran Film yang digarap Marselli ini, menurut Mudji, merangkum antara teks suci dan kontekstualisasi isinya. Tafsiran tentang Borobudur dapat banyak diterjemahkan. "Agama-agama bumi cenderung lebih toleran karena mereka hidup dari bumi dan berutang kepada bumi. Mereka menyatu dengan ekologi dan alam. Sementara dalam agama wahyu terkadang ada yang meminjam wewenang teks kitab suci dengan tafsirannya untuk mengatakan yang paling benar dan keinginan meniadakan yang lain," ujarnya. Marselli melihat Borobudur sebagai buku terbuka tentang ajaran agama Buddha karena begitu banyak makna yang terpahat pada relief-relief patung maupun susunan bentuk lainnya. Melalui film dokumenter yang digarap secara puitis, Marselli ingin menyampaikan rangkuman sejarah candi, peringatan Waisak sekaligus tentang ajaran Buddha, serta apa yang disebut pencerahan dengan benang merah meditasi itu sendiri. Kemasan audio visual berupa film dokumenter ini merupakan sumbangan tafsir artistik atas ajaran Buddhisme lewat keberadaan Candi Borobudur. Film tersebut terutama merekam saat-saat meditasi para pemeluk Buddha. Marselli mengatakan, selain film ini terdapat pula film Mekarnya Agama Buddha di Indonesia, yang menceritakan sejarah agama Buddha di Nusantara. Marselli sebelumnya membuat belasan film dokumenter dan menyutradarai film cerita berjudul Sri pada tahun 1999. (INE)
