"Minderwaardigheidcomplex"

Emmanuel Subangun

Jika kita sekarang melihat atau mendengar para pejabat—resmi atau
tidak, petinggi, pusat atau daerah—akan amat sering kita dengar adanya
selipan kata asing, khususnya Inggris. Setelah mengucapkan kata
Inggris itu, wajahnya baru tampak ceria. Mantap.

Apa makna Inggrisisasi seperti itu untuk kita, warga negara?

"Intellectual gap"

Kini kita semua sedang berharap dan cemas melihat apa yang dilakukan
pejabat pendidikan, dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
atau badan hukum pendidikan (BHP). Tindakan yang dimaksud adalah untuk
melakukan liberalisasi pendidikan nasional. Betapa tindakan itu akan
menimbulkan banyak masalah ketimbang manfaatnya. Dan setiap orang yang
mengerti pendidikan tidak lagi berminat menyuarakan pendapatnya.

Namun, tiba-tiba, seorang kepala pemerintah menyerukan sebuah
keprihatinan. Hal biasa, yang dalam bahasa lama disebut buah
simalakama antara asas keadilan dan mutu dalam sistem pendidikan.
Namun, kini kepala pemerintahan itu melihat dari sudut kelas sosial.
Katanya, ada intellectual gap (ini bahasa Inggris) di antara
lapis-lapis masyarakat kita.

Apa yang disebut dengan istilah Inggris sebenarnya sederhana, yakni
ada banyak orang tidak lagi mendapat kesempatan belajar secara
memadai, baik karena fasilitas pendidikan kian langka atau mahal.
Dalam bahasa lama, keadaan ini disebut asas pemerataan dalam
pendidikan. Dan dalam bahasa lama, soal pemerataan ini menjadi masalah
karena dalam strategi link and match soal mutu adalah nomor satu. Maka
jika mutu dikedepankan, pemerataan menjadi nomor dua. Sedangkan dengan
intellectual gap, kita hanya dalam rasa dan perasaan, tidak dalam arah
kebijakan pendidikan mana pun.

Ada lagi pernyataan dari pimpinan kita. Mengingat sektor lain dari
masyarakat sudah kehabisan modal kepemimpinan politik, kini sektor
pengusaha yang menyediakan kepemimpinan politik. Jadi di zaman lama,
TNI adalah pemasok, atau di zaman lebih lama lagi, golongan/aliran
adalah pemasok, maka kini seperti di zaman kolonial, para pengusahalah
yang menjadi pemasok pimpinan politik.

Mengingat para pengusaha adalah pemasok politik, hal ini harus
diterima sebagai zaman masyarakat sipil, bukan masyarakat militer atau
golongan. Hingga di tingkat pemahaman kehidupan, negara dianggap sama
dengan kehidupan perusahaan, dengan pemasok, pelanggan, dan pegawai,
tidak ada masalah yang pantas dipikirkan. Namun, saat kegiatan politik
dijalankan sesuai asas kewiraswastaan oleh para political
entrepreneur, pada titik itulah jalan ke neraka dimulai.

Orang lupa, negara kita bukan sebuah CV atau perseroan terbatas,
tetapi sebuah res publica, sebuah NKRI. Kebajikan dalam negara adalah
kewarganegaraan, sedangkan kebajikan dalam perusahaan adalah
keuntungan. Sifat keuntungan adalah privat dan berhubungan dengan syahwat.

Adapun kewarganegaraan adalah publik, berhubungan dengan peradaban.
Karena nalar rancu semacam ini, banyak masalah dasar negara
terbengkalai, seperti masalah amandemen konstitusi yang lebih mirip
kudeta konstitusional itu! Masalah negara dianggap masalah tak beda
dengan ruang privat. Soal perasaan, soal syahwat.

Fundamental ekonomi

Sebelum krisis 1998, koor para ekonom nasional, swasta atau negeri,
sungguh satu paduan suara yang lagunya adalah fundamental ekonomi kita
sehat sentosa. Lalu datang musibah dan ekonomi dengan fundamental yang
kokoh itu diterjang tsunami, roboh sampai hari ini.

Lalu di tengah rekonstruksi tsunami ekonomi itu seorang ibu menteri,
orang yang sama di tahun 1998, mengatakan hal yang sama dengan
kemantapan yang sama, untuk keadaan yang lain. Stabilitas makro dalam
arti fiskal/moneter, neraca perdagangan serta nilai tukar dan inflasi,
semua sehat walafiat.

Jika omongan tentang stabilitas makro hanya menyangkut nasib
antarteman, tentu tidak ada masalah. Namun, jika dalam ekonomi makro,
itu adalah volksoekonomie, berarti menyangkut nasib 250 juta manusia,
maka omongan yang stabil itu amat ironis. Lihat saja apa produktivitas
industri berjalan, apa cukup investasi ketimbang kue yang dimakan, apa
cukup pekerjaan yang memungkinkan effective demand, dan kian lemahnya
daya beli itu jika 64 persen daya dorong ekonomi nasional berasal dari
konsumsi. Lalu, di manakah asal optimisme itu? Optimisme tumbuh
sehabis kita makan kenyang dan cemas lagi setelah dapur tak berasap.
Sementara ibu menteri meneruskan wawancara TV-nya kurang lebih
demikian: "Kita akan terus melanjutkan mesyur-mesyur yang tepat untuk
men-stimulus growth ekonomi kita...". Ibu menteri suka tersenyum,
mesem-mesem, mesyur-mesyur.

Rendah diri

Kini, masalah republik lahir dari pertumbuhan keruwetan yang kian
jumud, sebuah kompleksifikasi kerumitan! Para pemimpin kita tidak lagi
berpikir dan bertindak menurut apa adanya dalam kenyataan, tetapi
terus bermimpi tentang keadaan khayali—seperti gambar TV yang nyata,
tetapi virtual—dibungkus dengan bahasa Inggris atau kata asing lain.

Para pemimpin kian bahagia—misalnya dengan PP No 37/2006—dan 250 juta
rakyat kian menangis sejadi-jadinya. Kenyataan tidak dihadapi sebagai
kenyataan. Kenyataan dihadapi, dirasakan, dan dicari jalan keluar
dengan kemasan dan bingkai asing. Dengan mesyur-mesyur (maksudnya
measures, satu kata saja).

Gejala seperti inilah yang oleh Gubernur Jenderal Daendels disebut
minderwaardigheidcomplex, alias jiwa inlander. Dan hanya Bung Karno
yang membantah: ayam jantan bumiputra sedang berkokok di fajar yang
menyingsing. Bumiputra bukan inlander, tetapi ayam jantan!

Hoe gaat Uw meneer en mevrouw? Zijn Uw alle echte liberal? Bagaimana
dengan Anda, Tuan dan Nyonya? Apakah Anda seorang liberal sejati?

Emmanuel Subangun Pemerhati Sosial dan Budaya, Menetap di Yogyakarta 

Kirim email ke