Tanya dan Jawab

Jakob Sumardjo

Buku-buku filsafat tertua di dunia berupa tanya jawab. Tanya jawab
bukan sekadar metode, tetapi esensi filsafat.

Pengetahuan manusia berkembang, wawasan manusia diperdalam, kesadaran
manusia dicerahkan oleh berbagai pertanyaan. Akhirnya pertanyaan jauh
lebih penting dari jawaban.

Manusia Indonesia lebih suka menerima jawaban daripada mengajukan
pertanyaan. Jawaban, ajaran, nasihat itu yang dicari. Maka orang
berduyun-duyun mendatangi guru atau yang dianggap guru, bukan untuk
bertanya, tetapi untuk mendengarkan aneka jawaban yang tak pernah
mereka tanyakan. Hampir semua jawaban ditelan begitu saja karena
percaya hal itu mengandung kebenaran.

Bertanya itu berpikir

Jacques Rolland, sobat filsuf Levinas, menyatakan, latihan berpikir
adalah bertanya. Bertanya menandakan seseorang sedang berpikir atau
memikirkan sesuatu yang sedang menjadi persoalan dirinya. Bertanya itu
berpikir. Menerima jawaban sebanyak-banyaknya itu tidak berpikir.
Pikirannya hanya mencerna jawaban-jawaban dan itu hasil pertanyaan
orang lain. Menimbun jawaban tidak serta-merta seseorang mampu membuat
pertanyaan sebab aneka jawaban itu tak pernah ditanyakan. Benarkah
Bung Karno, benarkah Tan Malaka, benarkah Pramoedya, Marx, Kant, dan
Foucault?

Sikap ini telah lama dianut manusia Indonesia. Orang percaya saja
kepada Ranggawarsita, Siti Jenar, Mangkunegara IV, Syekh Jusuf, Ki
Hajar Dewantara. Mereka adalah guru-guru kebenaran. Mereka tidak dapat
salah. Begitulah kita kini, juga bersikap sama terhadap para mahaguru
dunia. Guru-guru kebenaran ini tersohor di dunia sehingga berbagai
jawaban mereka atas pertanyaan mereka sendiri adalah kebenaran
universal. Kita tak peduli bagaimana pertanyaannya, tetapi yang
penting jawabannya.

Berbagai pertanyaan para guru ini tentu saja pertanyaan kebudayaan,
pertanyaan atas tradisi berpikir mereka sendiri. Sedangkan kita di
negeri khatulistiwa ini memiliki sejarah cara berpikir sendiri,
tradisi sendiri, berbagai persoalan sendiri, dan aneka pertanyaan yang
berbeda pula.

Jika guru-guru universal ini didatangkan ke Indonesia, boleh jadi
pertanyaannya berbeda. Mereka akan bertanya, apa itu Indonesia,
bagaimana terjadinya, dan mengapa Indonesia seperti Indonesia sekarang
ini. Mereka bertanya makna Indonesia dan makna diri di Indonesia. Itu
sebabnya setiap guru kebenaran dunia datang ke Indonesia, kita selalu
bertanya apakah pertanyaan mereka tentang Indonesia dan bagaimana
jawabannya. Pertanyaan pun terpaksa diimpor karena budaya kita bukan
budaya bertanya, tetapi budaya jawaban.

Mengapa bangsa ini lebih suka jawaban daripada pertanyaan? Hidup di
Indonesia tak perlu pertanyaan. Ibarat tongkat kayu menjadi tanaman
seperti dinyanyikan Koes Plus. Dengan bekerja 08.00-14.00, sudah
cukup. Untuk apa meniru bangsa lain, yang pulang pukul 18.00? Bekerja
di sawah itu cukup pukul 06.00-12.00, mengapa harus sehari suntuk?
Tidur siang itu penting bagi orang Indonesia. Indonesia ini zamrud
khatulistiwa, gemah ripah loh jinawi, penghasil tanaman rempah-rempah
yang tak harus dijadikan industri. Lempar saja batang cengkeh, akan
tumbuh sendiri. Lalu, untuk apa bertanya? Untuk apa berpikir?

Pertanyaan hanya penting buat teka-teki. Dan teka-teki itu hiburan.
Mengapa harus kerja keras bertanya dan berpikir? Bertanya dan berpikir
itu hanya cocok dilakukan di luar jam kerja, sambil nyeruput teh atau
kopi, sore hari. Pertanyaan yang diajukan sejak nenek moyang sama
saja, yakni soal isi itu kosong, kosong itu isi. Jawabannya boleh baru
meski lebih percaya jawaban lama.

Tradisi kurang berpikir

Tradisi kurang bertanya dan berpikir ini tampak di lembaga-lembaga
pendidikan kita. Guru sebagai pemegang otoritas kebenaran tidak pernah
dibantah muridnya. Jika dibuka pertanyaan, hanya satu-dua yang
bertanya. Dan jawaban guru atas pertanyaannya sendiri (atau pertanyaan
yang dihafal dari buku-buku) sudah cukup bagi murid-murid.

Dalam bimbingan karya tulis, para mahasiswa paling sulit menyusun
pertanyaan, padahal setiap karya tulis sebenarnya dimulai dari
pertanyaan. Mereka hanya butuh jawaban-jawaban. Yang mereka ketahui
adalah jawaban final. Lalu apa yang harus ditanyakan? Bukankah
pertanyaan itu untuk orang bodoh, orang yang belum tahu? Jika sudah
tahu, mengapa harus bertanya? Anak usia lima tahun biasanya cerewet
dengan aneka pertanyaan. Apakah kawin itu Mama? Mengapa adik keluar
dari perut? Mengapa burung bisa terbang? Mengapa Papa suka marah?
Mengapa kita tak punya mobil, padahal Tomi punya mobil lima? Ah, dasar
lu cerewet. Diam!

Itulah bencana nasional pertama. Tidak boleh bertanya. Berbagai
pertanyaan harus disusun dalam proposal lebih dulu. Pertanyaan semacam
itu sama sekali tidak pantas dan hanya boleh diajukan di dewan.
Pertanyaan semacam itu bukan pada saya, tetapi pada pihak sana dan
pihak sini. Begitu saja ditanyakan, saudara sudah tahu jawabannya!
Anak yang banyak bertanya, itu tidak normal. Anak normal adalah
penurut, menerima semua jawaban tanpa tanda tanya.

Bertanya bukan budaya manusia Indonesia. Menimbun jawaban sebanyak
mungkin itulah budaya Indonesia. Yang boleh bertanya hanya guru besar,
para pemimpin bangsa, pemegang otoritas. Bertanya itu tidak normal.
Hanya mereka yang berkuasa boleh bertanya, bukan karena tidak normal,
tetapi dengan bertanya, mereka menghindari pertanyaan. Atau aneka
pertanyaan mereka telah ada jawabannya.

Di Indonesia, buku paling laris menjelang ujian adalah kumpulan soal
dan jawaban. Di Indonesia kebenaran dan jalan kebenaran hanya satu,
tidak dipersoalkan lagi. Atau semua pertanyaan ada jawabannya. Itu
sebabnya pertanyaan tidak tumbuh subur di Indonesia sehingga beranak,
bercucu, dan bercicit.

Jakob Sumardjo Esais 

Kirim email ke