Prasmanan Agama Oleh Hamid Basyaib 12/02/2007 Secara primordial, agama bagi tiap-tiap individu adalah prasmanan. Bahkan, setelah menu baku diracik para koki agama, unsur-unsur prasmanan itu mustahil hilang. Sejak beberapa tahun terakhir, orang-orang mulai makin terbuka menyatakan keprasmanan itu bagi diri dan kelompoknya.
Beberapa waktu lalu, majalah Der Spiegel Jerman membuat laporan tentang perkembangan agama di Barat (Eropa dan Amerika). Laporan itu antara lain mengatakan bahwa agama di Barat pada dasarnya tak mengalami kemunduran, tapi bermetamerfosa menjadi lebih individualistik dan makin kurang ketergantungannya pada sistem gerejawi dan kependetaan. Sejarawan Prancis, Paul Veyne, mensifati metamerfosis itu sebagai pergeseran dari pola kepenganutan agama sebagai menu lengkap yang utuh menjadi à la carte atau prasmanan. Di situ, setiap orang berhak memilih Tuhan atau sekte keagamaan yang paling mereka minati. Dengan kata lain, kecenderungan beragama masyarakat Barat makin menyerupai penyikapan terhadap hidangan makanan prasmanan. Secara primordial, agama bagi tiap-tiap individu adalah prasmanan. Bahkan, setelah menu baku diracik para koki agama, unsur-unsur prasmanan itu mustahil hilang. Sejak beberapa tahun terakhir, orang-orang mulai makin terbuka menyatakan keprasmanan itu bagi diri dan kelompoknya. Cover story Newsweek beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa di Amerika, tiap hari muncul agama baru, dianut orang per orang. Dalam kenyataannya, di India pun ada ribuan agama. Hinduisme memang memungkinkan sektarianisasi semacam itu dengan damai. Tapi belakangan muncul kelompok-kelompok yang berusaha memurnikan Hinduisme--tentu dengan asumsi bahwa yang murni itu ada dan pemurnian adalah mungkin. Mereka membikin partai politik. Tapi proses individualisasi (atau sektarianisasi) beragama tampaknya jalan terus. Di sanadan mestinya juga di tempat lainmembikin agama tampak gampang sekali: memelihata jenggot panjang, pakai jubah agak unik, kasih petuah agak aneh (dimulai dengan kritik terhadap ajaran-ajaran lama yang sudah mapan tanpa didekonstruksi habis agar tak digeruduk oleh macam-macam front pembela Tuhan). Rumusnya jelas. Perangkat yang diperlukan antara lain kitab suci (bisa racikan dari semua kitab suci yang sudah ada plus sejumlah filosofi dan kreativitas pribadi; lalu diedit yang bagus). Perlu juga rumah ibadah dengan arsitektur yang khas. Pakaian resmi para petinggi, penetapan hari besar, pola ritual yang sederhana, penetapan sejumlah gelar (bagi ketua, wakilnya, para "capo", dan umat biasa), juga penting. Jadilah agama baru itu. Soal detail-detail dan apakah akan dianut orang, disusul kemudian. Yang penting: unsur-unsur utamanya sudah tersusun. Dengan semua pembakuan itu pun, yang bertindak selalu pendiri agama tetap punya prasmanannya sendiri, yang sedikit-banyak beda racikannya dari menu para pengikutnya. Masalahnya: kebanyakan orang tak berani (karena merasa tak mampu dlsb) membuat racikan sendiri yang sesuai selera spiritual masing-masing. Bagi mereka, ini a highly risky business, karena menyangkut keselamatan dunia-akhirat, kesesuaian dengan norma sosial, dan lain sebagainya. Tapi karena selalu tersedia pasar yang dahaga spiritualitas, maka para makelar agama (penghubung individu dengan Tuhan) akan terus ada. Begitulah kesimpulan Norris & Inglehart itu. Para makelar inilah yang terus memupuk kepercayaan bahwa manusia, apalagi yang bodoh dan miskin, tak akan sanggup berhubungan sendiri dengan Tuhan. Dalam kasus Katolik, mesin pemupuk dogma itu dilembagakan lewat gereja, struktur piramidal yang berpuncak di Vatikan. Islam mengklaim dan bangga sebagai agama yang tak kenal sistem kerahiban. Tapi dalam praktik, para petinggi Islam kadang juga berpretensi serupa; merasa berhak (sekaligus wajib!) menerbitkan daftar do's dan don't's bagi penganut Islam, tentu lewat otoritas kitab suci dan ajaran Nabi. Namun dalam kehidupan spiritual, selalu ada individu-individu yang menampik rekayasa spiritual seperti itu. Tapi sejauh ini, mereka harus menyendok prasmanan agamanya sendiri secara diam-diam, sembunyi-sembunyi. Para nabi pun memulai karirnya dengan aksi subversif. Lama-lama, subversi mereka jadi versi, lalu terjadilah silang sengkarutyang belum tentu mereka kehendakibahkan antara orang-orang yang mengaku pengikut nabi yang sama. Semuanya saya kira bersumber dari salah satu kebijaksanaan Tuhan yang tak kunjung saya pahami: mengapa Dia memberi petunjuk tentang kehidupan (sesuatu yang sangat penting agar kita menjalaninya dengan manusiawi) hanya pada satu orang di setiap masa dan tempat. Masalahnya mungkin jauh lebih sederhana kalau rahasia ajaran penting itu disampaikan di, misalnya, panggung pembukaan World Cup, ketika bermiliar manusia menyimaknya. Lalu semua penyimak pulang ke rumah masing-masing dengan lega, dengan keyakinan gamblang tentang apa yang benar dan salah. Setelah itu, mereka bisa menyendok dengan damai santapan rohani hasil racikan pribadi prasmanan masing-masingkalau memang mereka masih memerlukannya. Dengan begitu, mereka mustahil menganggap menu pribadinyalah yang paling nikmat dan sehat. Jumlah meja prasmanan memang akan sebanyak jumlah individu penganut agama itu. Proliferasi memang tak terhindar, bahkan setelah Ten Commandments diumumkan di pentas World Cup itu. Tapi, apa yang salah dengan jumlah prasmanan yang sangat besar itu? "Ada yang salah," kata para broker dan "public relation" Tuhan. "Kalau itu terjadi, bukan hanya penghasilan kami yang terampas, tapi juga prestise, privilese, tangga sosial, juga tangga mobilitas vertikal kami." Setidaknya begitulah implikasi dari kesimpulan studi Norris & Inglehart.
