Forum
Membangun Budaya Pertanian

Oleh Rochadi Tawaf

Sampai saat ini pembangunan sektor pertanian sebagai tulang punggung
perekonomian pedesaan masih dirasakan belum pulih. Membangun petani
tidak identik dengan membangun industri. Membangun petani bukan
membangun komoditas, melainkan membangun suatu usaha pertaniannya di
atas lahan hamparan.

Kesalahan persepsi dasar para penentu kebijakan terhadap pengertian
pembangunan pertanian ini melahirkan berbagai kebijakan yang tidak
berpihak kepada petani, tetapi lebih banyak kepada konsumen. Selain
itu, membangun petani berarti pula membangun karakter budayanya. Oleh
karena itu, membangun petani di negeri agraris merupakan pilihan yang
sangat strategis dibandingkan dengan sektor lainnya.

Berdasarkan beberapa kajian, peran usaha kecil masih mengandalkan
sektor pertanian ketimbang sektor nonpertanian. Selain itu, sektor
pertanian pun mampu memberikan tambahan kesempatan kerja tertinggi
jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Sektor pertanian mampu
menciptakan peluang kerja sebanyak 140 orang per Rp 1 miliar tambahan
permintaan akhir, atau lebih besar daripada sektor industri yang hanya
79 orang.

Kenyataan ini memberikan indikasi bahwa nilai manfaat pengembangan
sektor pertanian lebih banyak dinikmati masyarakat ketimbang sektor
industri (LP3E Fakultas Ekonomi Unpad, 2002). Sepertinya, masih sangat
layak jika sektor pertanian dikatakan sebagai tulang punggung
perekonomian rakyat yang perlu diangkat dan diberdayakan, bahkan terus
dikembangkan secara berkelanjutan. Membangun budaya pertanian

Dalam sistem agrobisnis, sebagian besar petani masih hidup di
subsistem budidaya dengan risiko yang paling besar dibandingkan dengan
subsistem lainnya. Rata-rata penghasilan petani masih di bawah UMR
karena skala usahanya tidak ekonomis. Satu-satunya sektor riil yang
sangat kental dengan budaya bangsa adalah pertanian.

Kata pertanian atau agriculture (berasal kata dari agri dan culture)
bermakna pertanian sangat erat kaitannya dengan budayanya. Artinya,
pertanian tidak akan berkembang tanpa mengembangkan budayanya. Seperti
diketahui bahwa tidak ada sektor lain yang menggunakan kata culture.
Oleh karena itu, pilihan membangun petani berarti pula harus membangun
budayanya.

Kondisi petani saat ini sebenarnya merupakan korban keganasan sifat
masyarakat homo economicus yang selalu tidak pernah puas dengan apa
yang dikonsumsinya, atau juga sebagai korban dari pesatnya pembangunan
sektor industri dan jasa.

Tidak sedikit berbagai alasan dilontarkan untuk menghindari berbisnis
dengan petani sehingga selalu petani yang menjadi korban. Bisa
dibayangkan, pertambahan penduduk yang cukup pesat mengakibatkan
perluasan lahan industri dan permukiman yang banyak mengorbankan lahan
usaha pertanian.

Membangun petani hakikatnya juga membangun pilar yang paling dasar
dengan kekuatan yang sangat luar biasa. Kita dapat melihat contoh
keberhasilan di berbagai negara, misalnya, Jepang bangkit dengan
kebesaran budayanya, demikian pula halnya dengan China maupun
negara-negara lainnya. Artinya, membangun karakter budaya merupakan
jaminan bagi keberhasilan membangun bangsa.

Krisis ekonomi saat ini pun sebenarnya merupakan manifestasi dari
krisis karakter budaya masyarakat kita sendiri. Penghancuran karakter
budaya secara tidak disadari dapat terjadi dan dilakukan masyarakat
sendiri sebagai akibat terjadinya penetrasi budaya global. Dengan kata
lain, merasuknya budaya global di negeri ini telah mengakibatkan
bergesernya masyarakat meninggalkan budaya aslinya. Artinya, budaya
pertanian telah digeser dengan cepat ke arah budaya industri dan jasa.

Dalam konteks Indonesia sebagai negeri agraris, jika budaya pertanian
yang ada di negeri ini ditinggalkan, sama halnya masyarakat telah
menghancurkan budayanya sendiri. Fenomena ini tampak jelas dengan
menyusutnya areal usaha pertanian dan berpindahnya tenaga kerja muda
di pedesaan ke perkotaan.

Jika kondisi ini tidak segera dikendalikan atau dicegah, sepertinya
akan terjadi penghancuran budaya bangsa (genocide). Hal ini
dimungkinkan terjadi jika pemimpin bangsa tidak mengerti atau tidak
mau mengerti kehidupan sebagian besar rakyat yang dipimpinnya, di mana
mereka hidup di pedesaan dan di sektor pertanian. Perlindungan petani

Sekitar tahun 1980-an negeri ini telah mampu menjaga swasembada beras.
Begitu arah pembangunan dialihkan ke sektor industri, terjadi
keterpurukan yang cukup mengerikan, dan puncaknya terjadi pada krisis
ekonomi tahun 1997, di mana ketangguhan petani tidak terjaga.

Akibat selanjutnya, negeri ini menjadi ajang dan korban permainan
perang ekonomi dunia, khususnya bagi negara-negara adidaya. Akibatnya,
masyarakat negeri ini menggantungkan hampir seluruh komoditas
pertanian dari hasil pertanian negara lain, mulai dari beras, daging,
telur, susu, sayuran, kacang-kacangan, sampai hortikultura. Padahal,
negeri ini adalah negeri agraris.

Upaya yang harus dilakukan untuk mengembalikan citra sebagai negeri
agraris, tidak ada pilihan lain adalah dengan melakukan perlindungan
terhadap petani. Melindungi petani adalah melindungi kehidupannya
secara total. Artinya, melindungi kehidupan sosial, budaya, dan
ekonominya. Jika kita berbicara mengenai kebutuhan petani, seluruh
aspek kehidupan penunjangnya perlu dilihat.

Berbagai kebijakan pembangunan pertanian harus memiliki rasa
keberpihakan kepada petani. Bagaimana kita melindungi petani dari
ancaman globalisasi ekonomi jika berbagai kebijakan yang ada tidak
berpihak kepada petani? Banyak contoh kebijakan yang justru tidak
berpihak kepada petani sebagai produsen, malahan lebih ke arah
melindungi konsumen secara berlebihan.

Melindungi petani di era pasar bebas berarti memberikan kesamaan
perlakuan yang diberikan pemerintah terhadap petani di dalam negeri
dengan petani di negara-negara lainnya. Sepertinya banyak
ketidakadilan yang dirasakan petani di negeri ini bila dibandingkan
dengan perlakuan yang diberikan pemerintah terhadap petani di negeri
orang.

Misalnya, lemah dan lambannya introduksi dan perkembangan penggunaan
teknologi serta permodalan bagi usaha pertanian. Akibatnya, produk
pertanian kita tidak memiliki daya saing. Buktinya, sebagian besar
kebutuhan masyarakat terhadap produksi hasil pertanian masih dipenuhi
produk impor. ROCHADI TAWAF Wakil Ketua HKTI Jawa Barat 

Kirim email ke