Ehm... maca nu kieu, bet watir! :((
Kisah hidup pekerja seks Bangkok
Banyak wanita bar Thailand
Banyak wanita bar mengirim uang ke kampung halaman
Bangkok dikenal sebagai tujuan wisata seks. Namun, kehidupan banyak
pekerja seks di ibukota Thailand ini penuh bahaya, penyakit dan
tuntutan untuk segera mengirim uang ke kampung halaman.
Pim, yang belum lama ini meninggalkan tempat kerjanya di sebuah bar
tari erotis, menjalani kisah hidup yang umum dilakoni banyak wanita
muda di Thailand.
"Saya hidup di pedesaan Phetchabun, Thailand utara. Orang tua saya
petani, dana membantu mereka di sawah. Kami miskin, jadi kami harus
hidup seadanya."
Saat saya berusia 15 tahun, keluarga saya berantakan. Ayah saya selalu
menenggak minuman keras, tapi kondisi semakin memburuk, dan dia mulai
menjadi kasar. Jadi, ibu, dan adik dan saya sendiri minggat.
Saya ingin belajar menjadi perawat, tapi ketika kedua orang tua saya
bercerai, saya harus putus sekolah dan harus bekerja sebagai buruh
harian untuk memanen tanaman untuk petani setempatl. Saya tidak
menyukainya, dan pekerjaan itu hanya menghasilkan 100 baht (Rp27.000)
per hari.
Pada saat yang hampir bersamaa, seorang teman dekat pindha ke Bangkok,
dan ketika dia pulang untuk berkunjung, dia bercerita kepada saya
bahwa dia meraup banyak uang di kota dengan bekerja sebagai pelayan di
tempat hiburan.
Bangkok
Gosip beredar di desa bahwa dia bekerja tidak hanya sebagai pelayan,
sebeba dia mengirimkan pulang lebih dari 10 ribu baht (Rp3 juta) per
bulan, tapi dia selalu membantah gosip itu.
Dia meminta saya agar ikut dia, tapi saat itu saya baru 16 tahun dan
terlalu takut. Beberapa tahun kemudian, saya melahirkan putri saya,
dan suami saya dan saya bercerai - saya berubah pikiran.
Saya menitipkan bayi saya di Phetchabun dengan ibu saya, dan saya
katakan kepada dia saya perlu mencari uang di Bangkok. Tapi, saya
tidak memberitahu dia pekerjaan saya -- saya masih belum memberitahu
dia. Dia tentu sangat malu.
'Sempat terguncang'
Ketika teman saya mengajak saya sebuah bar di Nana Plaza untuk kali
pertama, saya benar-benar terguncang. Saya belum pernah mendatangi
tempat seperti ini, dan pada awalnya saya bahkan tidak mengerti apa
yang sedang dilakukan para penari di sana.
Ketika, saya akhirnya menyadari, saya tidak tahan dan keluar dari bar
itu. Saya terus berfikir 'Mungkinkah saya melakukan ini'
Pada awalnya, saya memutuskan untuk bekerja di sana untuk menyajikan
minuman, tapi penari mendapat uang jauh lebih banyak, dan saya
akhirnya setuju untuk menjadi penari.
Untuk bulan pertama, pemilik baru mengizinkan para wanita mengantungi
seluruh gaji mereka sekalipun mereka hanya bekerja sebagai penari.
Tapi, setelah itu, mereka harus memenuhi kuoata sedikitnya 10 konsumen
per bulan, atau gaji mereka dipotong.
Pekerja Seks Thailand
Prostitusi secara teknis ilegal di Thailand, tapi hukum jarang sekali
ditegakkan
Jumlah pekerja seks di Thailand ditaksir antara 30.000 dan di atas
satu juta orang
Sebagian besar pekerja seks Thailand sebenarnya melayani pria
setempat, bukannya wisatawan seks
Sebagian besar pekerja seks berasal dari Thailand utara, sebagian lagi
dari Laos atau Birma
Pelacuran dan perdagangan anak juga diketahui menjadi masalah
Tamu pertama saya seorang pria Barat berusia 30an. Pengalami itu
menakutkan dan saya benar-benar tidak menyukainya, tapi saya hanya
terus memikirkan soal uang.
Saya tidak sabar menunggu dia cepat pergi, dan ketika dia pulang, saya
mandi sangat lama. Saya mulai menangis, dan memikirkan soal pandangan
orang tua saya jika mereka tahu pekerjaan saya.
Tidak seorang pun tamu saya pernah bertanya soal kehidupan saya;
mereka tidak peduli. Pernah ada seorang pria menanyakan apakah saya
baik-baik saja, tapi saya tidak tahu harus menjawab apa, jadi saya
memandang ke kejauhan.
Selama saya bekerja di bar, saya sering khawatir soal penyakit, dan
juga keselamatan. Beberapa perempuan memperoleh uang tambahan dengan
mendampingi pria keluar dari bar, tapi saya selalu mempergunakan ruang
di atas, sebab saat terlalu ngeri dengan risiko yang bisa terjadi.
Teman saya menyertai seorang tamu ke kamar hotelnya, dan mendapati
banyak pria lain di sana. Dia tidak mau menuturkan pengalaman setelah
itu, tapi dia gemetaran ketika pulang.
Saya juga punya beberapa pengalaman mengerikan sendiri. Suatu ketika
seorang pria Jepang membuntuti saya hingga ke rumah pada dini hari,
dan dia tanpa henti meneriaki saya.
Pengemudi taksi juga bisa menjadi ancaman bagi wanita bar, dan kami
hanya berani pulang secara berkelompok.
Menatap ke depan
Meski ada masalah semacam ini, wanita baru sering datang. Banyak
konsmen lebih menyukai anak-anak atau gadis muda, dan pemilik bar
selalu mendorong kami untuk merekrut remaja dari kampung asal kami.
Kendati saya terbiasa dengan kehidupan seperti ini hingga ke tingkat
tertentu, saya selalu benci bekerja di bar. Saya menjalin persahabatan
dengan beberapa orang, tapi tidak ada yang baik dari kehidupan yang
saya sedang jalani.
Nightlight menawarkan usaha perhiasan kepada mantan wanita bar
Nightlight tawarkan usaha perhiasan ke mantan wanita bar
Saya senang bisa mengirimkan uang ke kampung halaman, tapi saya tidak
puas dengan diri saya sendiri. Tidak lama kemudian saya dihukum sebab
tidak bisa menjaring cukup konsumen.
Itu terjadi ketika seorang kawan memberitahu saya soal Nightlight,
lembaga amal Kristen yang menawarkan pelatihan dan pekerjaan kepada
mantan pekerja seks, melalui usaha pembuatan perhiasan.
Sejak saya mulai bekerja di sini, kehidupan saya lebih baik.
Pendapatan saya lebih kecil daripada ketika bekerja di bar, tapi ini
sepadan, dan orang mempedulikan dan memperhatikan saya.
Saya kini memperoleh kesempatan untuk menatap ke depan. Saya ingin
menyelesaikan seklah, dan belajar akuntansi, sehingga saya bisa
membiayai anak saya agar bisa menikmati hidup yang lebih baik.
Saya berandai-andai saya tidak pernah menjadi pekerja seks. Saya rasa
sebagian pria asing mengira tidak ada salahnya membeli seks di sini di
Thailand, sebab mereka pikir wanita sebenarnya ingin melalukan
pekerjaan ini.
Tapi, para pria ini tidak memahami bahwa sebagian besar kami tidak
punya pilihan lain - kami hanya mencoba mencari uang untuk keluarga
kami, dan menunggu kesempatan untuk meninggalkan pekerjaan ini".BBC