Iran-Saudi Setuju Cegah Konflik Sunni-Syiah Negara-negara Islam Harus Sadar Ada Konspirasi untuk Memecah Belah
riyadh, minggu - Para pemimpin dua negara "raksasa" Teluk, Arab Saudi dan Iran, sepakat memerangi konflik yang makin meningkat antara Sunni dan Syiah, serta memperingatkan bahwa konflik tersebut merupakan ancaman terbesar bagi kawasan Teluk dan Timur Tengah pada umumnya. "Kedua pemimpin menegaskan bahwa bahaya terbesar yang ada saat ini, yang mengancam bangsa Islam, adalah upaya untuk membakar api permusuhan antara Muslim Sunni dan Muslim Syiah sehingga segenap upaya harus dikonsentrasikan untuk melawan upaya-upaya itu dan memperdekat jarak perbedaan," kantor berita resmi Saudi, SPA, memberitakan, Minggu (4/3). Pada pertemuan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dengan Raja Saudi, Raja Abdullah, di Jeddah, Sabtu, keduanya juga sependapat bahwa negara-negara Muslim harus menyadari adanya upaya para musuh untuk memecah belah mereka atas perbedaan-perbedaan yang ada. "Baik Iran maupun Arab Saudi menyadari adanya konspirasi para musuh, dan sambil mengecam konspirasi-konspirasi itu, kami mengajak seluruh Muslim untuk menyadari rencana-rencana para musuh itu dan menyikapinya dengan bijaksana," ungkap Ahmadinejad sebagaimana diberitakan kantor berita Iran, ISNA. Seorang pejabat Saudi mengungkapkan, Saudi meminta bantuan Iran untuk mencegah ketegangan di Irak pecah menjadi perang sipil berskala penuh. Satukan kekuatan Barat selalu menggambarkan hubungan antara Saudi dan Iran penuh ketegangan akibat semakin kuatnya pengaruh Iran di Irak, dan tuduhan Iran membantu para milisi Syiah di Irak untuk memerangi kelompok Sunni yang kini menjadi minoritas di Irak. Akan tetapi, sejumlah komentator Arab Saudi melihat kunjungan Ahmadinejad itu merupakan sebuah tanda bahwa kedua negara sedang menyatukan kekuatan untuk mencegah meledaknya krisis regional. SPA melaporkan, kedua pemimpin menekankan keperluan untuk menjaga Irak yang "independen, bersatu secara nasional, dan seluruh rakyatnya hidup dalam kesetaraan". Ditambahkan, Ahmadinejad juga mendorong upaya lebih besar dari Saudi untuk mengatasi krisis di Lebanon, yang dikhawatirkan akan menjurus kembali ke perang saudara 1975-1990. Ahmadinejad juga menyuarakan dukungannya atas Inisiatif Perdamaian Arab yang dihasilkan dari Konferensi Tingkat Tinggi Arab 2002. Menurut inisiatif itu, negara-negara Arab akan menormalisasikan hubungan dengan Israel asal Israel mau menarik diri dari seluruh tanah Arab yang didudukinya sejak 1967, dan pendirian sebuah negara Palestina. "Mengenai isu Palestina dan Irak, kami berdiskusi hingga rinci. Dalam banyak hal, kami mempunyai kesamaan pandangan. Kedua negara menentang kontrol para musuh atas wilayah Islam," kata Ahmadinejad. Ditanya apakah masalah program nuklir Iran juga dibicarakan, Presiden Iran menjawab, "Kami mendiskusikan semua bidang. Banyak isu diperdalam pembicaraannya seperti para musuh mengontrol kawasan ini melalui berbagai cara dan menimbulkan perpecahan. Sejumlah rencana bersama dilakukan untuk melindungi hak-hak negara Islam." Tentang rencana pertemuan Baghdad, juru bicara Kemenlu Iran, Mohammad Ali Hosseini, Minggu, mengatakan, Iran belum memutuskannya. "Pembicaraan langsung (dengan pejabat AS) tidak menjadi agenda kami," jelasnya. (AP/AFP/Reuters/OKI)
