Sunni-Syiah Tidak Perlu Dipertentangkan Banyak Tradisi Syiah Masuk ke Kehidupan Ahlusunah
Jakarta, Kompas - Persatuan umat Islam merupakan kepentingan utama bagi komunitas Muslim di dunia saat ini. Itu sebabnya, konflik Sunni-Syiah yang terjadi di dunia Islamdan berpengaruh terhadap komunitas Muslim di Indonesiatidak perlu dilanjutkan. Apalagi, secara filosofis, semua umat Islam pasti mengakui dan mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW karena itu disebut ahlusunah, dan mengagumi keteladanan ahlul bait atau keluarga nabi. Hal ini disampaikan Prof M Quraish Shihab ketika meluncurkan bukunya yang berjudul Sunnah-Syiah, "Bergandengan Tangan Mungkinkah?", Sabtu (12/5) di Jakarta. "Yang membedakan Sunnah-Syiah hanyalah tingkat kekaguman pada ahlul bait itu," ujarnya. Menurut Quraish, tidak seharusnya sesama umat Islam mengembangkan sikap saling curiga dan dendam yang berkepanjangan. Apalagi, jika sampai memakai alasan kebenaran tafsirnya atas ajaran Islam, kemudian sampai mengkafir atau memusuhi saudara seagamanya. "Saya sering bertanya, apakah orang yang kagum pada ahlul bait langsung diklaim sebagai Syiah? Apakah Saddam Hussein sebagai penguasa yang pernah menindas kaum Syiah lantas dianggap itulah ajaran Sunni? Atau, kalau kebetulan penguasa zalim itu pengikut Syiah, lantas ajarannya itu yang salah?" ujar Quraish. Senada dengan Quraish, Menteri Agama M Maftuh Basyuni seusai peluncuran buku itu mengatakan, baik Sunni maupun Syiah punya dasar keagamaan yang sama. "Jadi, memang tidak perlu dipertentangkan," ujarnya. Syiah minus imamah Pengurus Majelis Ulama Indonesia KH Said Agil Siradj yang menjadi pembahas buku itu mengatakan, Muslim di Indonesia yang dikenal sebagai ahlusunah sesungguhnya sudah menjadi Syiah minus imamah. Sebab, ada banyak tradisi Syiah yang masuk dalam kehidupan komunitas ahlusunah. "Cukup banyak syair dan doa tradisi Syiah yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi kaum Nahdliyin saat ini," ujarnya. Misalnya tradisi barjanji di lingkungan Nahdliyin sangat kental tradisi Syiahnya dan mengagungkan Imam Ali. Begitu juga nama-nama Islam yang digunakan di Indonesia, sesunguhnya lebih banyak pengaruh Persianya dibandingkan dengan tradisi Arab. "Bahkan, tarekat yang ada di Indonesia, kalau ditelusuri silsilahnya, banyak yang sampai ke Imam Ali," ujar Said yang juga masuk dalam jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Tentang gerakan salafi Islam, yang ingin mencontoh Islam pada masa awal kejayaannya, Said setuju saja. Namun, yang dicontoh bukan sekadar berpakaian jubah dan berjenggot, tetapi semangat penguasaan ilmu pengetahuan, pemikiran, dan teknologi. "Pada masa itulah muncul mazhab-mazhab yang dikenal sekarang. Pada masa itulah lahir pemikir Islam, seperti Muslim dan Bukhari. Lahir ilmuwan alJabar, Kindi, dan Ibnu Rushd yang bermazhab Maliki, tetapi pola pikir sangat dekat dengan Aristoteles," ujarnya. Sayangnya, menurut Said, umat Islam yang bisa berpikiran terbuka tersebut sekarang lebih senang hidup dalam kotak-kotak yang penuh dengan prasangka buruk. (MAM)
