Utopia Republik Imam Cahyono
Does your society have more memories than dreams or more dreams than memories? (Thomas Friedman) Rentetan derita dan kenangan pahit seperti mimpi buruk tak kunjung berlalu. Tertatih-tatih bangkit dari empasan krisis multidimensi, Indonesia jatuh bangun digempur bencana, entah oleh siklus alam atau ulah manusia. Nyaris satu dekade, kita tenggelam dalam jurang keterpurukan. Mayoritas rakyat hidup sengsara dikejar harga kebutuhan pokok. Kendati pemerintah keras berupaya, beban rakyat tak pernah surut. Sejak reformasi, Indonesia seolah meniti labirin tanpa terminal. Perjalanan menuju masa depan yang lebih baik seperti tanpa ujung. Keadaan kacau-balau menyeret Indonesia terbawa arus tanpa mampu mengendalikan. Membangkitkan harapan Dalam kepungan trauma, pesimisme dan apatisme nyaris tak ada ruang untuk membangkitkan harapan. Namun, putus asa bukan jalan keluar dari persoalan! Pengalaman pahit (memoria passionis) di masa lalu harus dapat memunculkan tindakan baru dalam praksis sosial. Memori penderitaan harus diikuti memori kebangkitan (memoria resurrectionis). Policymakers dan para analis cenderung mengukur masyarakat dengan ekonomi klasik dan statistik sosial, seperti berapa rasio defisit terhadap PDB, tingkat pengangguran, atau tingkat literasi kaum perempuan. Intinya, indikator sosio-ekonomi harus terkoreksi. Menurut Friedman (2005), ada indikator lain yang juga pentingmeski sulit diukuryakni apakah masyarakat memiliki lebih banyak memori ketimbang mimpi atau sebaliknya. Jika masyarakat memiliki lebih besar memori ketimbang mimpi, yang terjadi adalah romantisme. Mereka menghabiskan waktu untuk melihat ke belakang (looking backward), memaknai masa kini dengan mengunyah dan mengagungkan masa silam. Mereka hidup dalam bayangan dan kesadaran masa lalu ketimbang berimajinasi ke masa depan yang lebih baik dan berusaha untuk mewujudkannya. Mereka terpenjara kenangan masa lalu tanpa berusaha melihat jauh ke depan. Sebaliknya, jika mimpi lebih besar dari ingatan, muncullah utopia, sebuah gambaran ideal tentang suatu yang diimpikan. Utopia merupakan imajinasi untuk membangkitkan cita-cita dan harapan di masa depan. Pada dasarnya, tiap orang memiliki gambaran akan kesempurnaan yang dicitakan. Mimpi positif atau imajinasi kreatif harus berangkat dari realitas. Imajinasi positif harus dipupuk dengan motivasi dan stimulasi untuk membangun optimisme dengan aksi. Jadi, imajinasi positif tidak berakhir pada tahap mimpi, tetapi harus diikuti tindakan nyata. Ben Anderson menyebut bangsa (nation) sebagai komunitas imajiner, sebuah komunitas yang dibayangkan. Anggota nasion berupaya menjaga imajinasi akan kebersamaan dan masa depan yang dicitakan selalu hidup dalam bayangan mereka. Ini merupakan upaya agar keberadaan dan keutuhan sebuah bangsa tetap terjaga. Uniknya, masyarakat politik Indonesia ternyata tidak bisa hidup tanpa suatu utopia yang jelas (Kleden, 2001). Soekarno menggiring rakyat Indonesia pada sebuah utopia bernama revolusi. Soeharto mengusung utopia baru pembangunanisme. Presiden-presiden periode selanjutnya tidak mampu menawarkan utopia apa pun. Mereka sibuk mengumbar janji, tetapirakyat tidak tahu pasti ke arah mana bangsa ini hendak dikemudikan. Tanpa utopia, rakyat seperti kehilangan harapan dan semangat hidup. Optimisme kritis Bangsa yang bijak akan belajar dari sejarah tanpa terkungkung pengalaman traumatik masa lampau, berani memandang kenyataan masa kini yang memprihatinkan namun tetap memiliki harapan kemajuan. Sejarah masa lalu dan masa kini harus dipandang dengan keterbukaan yang kritis sambil menjaga gerak bandul sejarah menuju masa depan yang lebih baik. Memori penderitaan masa silam harus memunculkan energi yang membangkitkan perubahan dan menggerakkan masa depan. Utopia Indonesia sebagai sebuah Republik harus dibangun berdasar optimisme menuju masa depan yang adil dan beradab. Mewujudkan utopia Republik berarti menemukan sosok Indonesia, sebuah Republik yang ada karena dan untuk rakyat. Maka, negara bertanggung jawab melindungi masyarakat. Kekuasaan negara harus berorientasi untuk dan melindungi rakyat. Jika hak rakyat ditelantarkan, negarasiapa pun rezimnyaharus digugat! Indonesia sejatinya memiliki semua potensi untuk maju dan berdiri tegak sebagai bangsa yang terhormat. Berlimpahnya kekayaan zamrud khatulistiwa hingga homo erectus, cikal bakal manusia purba termodern di bumi, dapat ditemukan pada peradaban Nusantara. Untuk melangkah ke depan, tidak cukup hanya mengenang Mahapatih Gajah Mada, mengagungkan kemasyhuran Sriwijaya, atau memuja pejuang kemerdekaan. Kini, kita hidup dengan tantangan yang kompleks! Kita tak bisa hanya bersikap inward looking, tetapi juga perlu bersikap outward looking. Kancah percaturan global serta situasi internasional harus menjadi bahan pertimbangan. Di era kompetisi tanpa batas, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi harga mati. Peran pemerintah dalam menstimulasi imajinasi kreatif rakyatnya amat dibutuhkan dalam rangka menghadapi persaingan global yang tak terelakkan. Sekitar 20 tahun lalu, India tersohor sebagai negeri pawang ular, rakyatnya yang miskin dalam bimbingan Bunda Teresa. Kini, India menjadi raksasa produsen manusia pintar dan teknologi supercanggih. Pemerintah India memprioritaskan kepentingan rakyat untuk mengembangkan diri, menerjemahkan imajinasi positif menjadi kenyataan, memberi stimulus untuk maju. Para pendiri bangsa dan negarawan berhasil menumbuhkan semangat cinta dan bangga kepada Tanah Air. Akses modal dan representasi politik dapat dipenuhi sehingga ketegangan antar-agama, diskriminasi antar-etnis serta kesenjangan ekonomi bisa diredam. Indonesia harus fokus pada langkah dalam merespons tantangan, bukan mencari siapa yang harus menjadi kambing hitam! Pemerintah harus melakukan tindakan nyata, memfasilitasi rakyat untuk meraih impian. Sayang jika bangsa ini hanya menjadi Republik Mimpi! Imam Cahyono Peneliti
